Perempuan Tunisia mengisi jerigen plastik mereka dengan air dari sungai di desa terpencil Ouled Omar, 180 km (110 mil) barat daya ibu kota, Tunis. (FOTO: AP)
Jakarta, Jurnas.com - Peringatan World Water Day atau Hari Air Sedunia 2026 pada 22 Maret tahun ini datang dengan pesan yang semakin tegas: krisis air tidak bisa lagi ditunda. Di balik kemudahan membuka keran, jutaan orang di dunia masih hidup tanpa akses air bersih yang aman.
Sejak pertama kali diperkenalkan oleh United Nations pada 1993, isu akses air sebenarnya sudah menjadi perhatian global. Namun hingga kini, persoalan tersebut tidak hanya bertahan, melainkan meluas dengan tantangan yang semakin kompleks dan tidak merata.
Dalam perkembangan terbaru, tema “Water and Gender” menegaskan bahwa krisis air juga berkaitan erat dengan ketimpangan sosial. Akses air yang terbatas terbukti memperlebar jurang kesetaraan, terutama bagi perempuan dan anak perempuan.
Di banyak wilayah, perempuan masih menjadi pihak yang bertanggung jawab mengumpulkan air setiap hari, bahkan harus menempuh jarak jauh dan menghabiskan waktu berjam-jam. Akibatnya, anak perempuan sering kehilangan kesempatan bersekolah, sementara perempuan dewasa terbatas dalam akses kerja dan ekonomi.
Selain itu, perempuan kerap tidak dilibatkan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan air, meski mereka paling memahami kebutuhan di tingkat rumah tangga. Karena itu, pelibatan perempuan dinilai krusial untuk menciptakan solusi yang lebih tepat dan berkelanjutan.
Di sisi lain, tekanan terhadap ketersediaan air terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan kota. Urbanisasi mendorong lonjakan kebutuhan air untuk rumah tangga, industri, dan pertanian dalam waktu yang bersamaan.
Namun demikian, pasokan air tidak berkembang secepat permintaan, sehingga banyak kota mulai mengalami tekanan serius. Kondisi ini bahkan diperkirakan akan memburuk di kota berkembang seperti Pune, yang berpotensi menghadapi krisis air pada 2050.
Perubahan iklim turut memperumit situasi dengan pola hujan yang semakin tidak menentu. Di satu sisi, kekeringan berkepanjangan terjadi di beberapa wilayah, sementara di sisi lain hujan ekstrem justru tidak terserap dan terbuang percuma.
Lebih lanjut, krisis air tidak hanya berkaitan dengan jumlah, tetapi juga kualitas yang semakin menurun. Pencemaran dari limbah industri, plastik, dan limbah domestik membuat banyak sumber air tidak lagi aman untuk digunakan.
Akibatnya, muncul kondisi paradoks di mana air tersedia tetapi tidak layak konsumsi. Situasi ini meningkatkan risiko kesehatan sekaligus memperdalam ketimpangan akses terhadap air bersih.
Sementara itu, perubahan juga terjadi di lautan yang selama ini tampak stabil di permukaan. Pergeseran kadar salinitas dan menurunnya oksigen di kawasan mangrove mulai mengganggu keseimbangan ekosistem laut.
Dampak perubahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh biota laut, tetapi juga berpotensi memengaruhi pola iklim global. Oleh karena itu, krisis air kini menjadi isu lintas sektor yang semakin mendesak untuk ditangani.
Meski tantangan yang dihadapi semakin besar, peluang untuk melakukan perbaikan tetap terbuka. Pemerintah, sektor industri, dan masyarakat perlu bergerak bersama untuk memastikan pengelolaan air yang lebih adil dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, langkah sederhana seperti menghemat air dan mengurangi penggunaan plastik tetap memiliki peran penting jika dilakukan secara konsisten. Dengan demikian, peringatan Hari Air Sedunia 2026 menjadi pengingat bahwa masa depan air sangat bergantung pada keputusan yang diambil hari ini. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
World Water Day 22 Maret Hari Air Sedunia Ketimpangan Gender Krisis Air



























