Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih di Washington, AS, 29 September 2025. REUTERS
Teheran, Jurnas.com - Iran mengancam bakal menghancurkan berbagai infrastruktur penting di seluruh Timur Tengah, jika Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menindaklanjuti ancaman untuk menghancurkan pembangkit listrik milik Teheran.
Pada Sabtu (21/3), Trump bersiap meledakkan pembangkit listrik Iran, jika Selat Hormuz tidak sepenuhnya dibuka kembali dalam waktu 48 jam. Padahal sehari sebelumnya, dia bicara tentang mengakhiri perang.
Ultimatum Trump akan memperluas cakupan serangan AS ke infrastruktur yang memengaruhi kehidupan sipil sehari-hari di Iran.
Namun, dikutip dari Straits Times pada Minggu (22/3), markas komando militer Khatam al-Anbiya Iran mengatakan jika AS menyerang infrastruktur bahan bakar dan energi Iran, maka Iran akan menargetkan semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi AS di kawasan tersebut.
Ancaman serangan Iran sebelumnya menghalangi sebagian besar kapal untuk melewati Selat Hormuz, jalur air sempit yang berfungsi sebagai jalur bagi sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair global. Hampir tertutupnya selat tersebut menyebabkan harga gas di Eropa melonjak hingga 35 persen pekan lalu.
Harga energi melonjak pekan lalu setelah Iran menanggapi serangan Israel terhadap ladang gas utamanya dengan menyerang Kota Industri Ras Laffan di Qatar, yang memproses sekitar seperlima gas alam cair dunia, menyebabkan kerusakan yang membutuhkan waktu perbaikan bertahun-tahun.
Sejumlah pejabat Israel mengatakan militer Iran untuk pertama kalinya menembakkan rudal jarak jauh, memperluas risiko serangan di luar Timur Tengah, bahkan ketika serangan Iran melukai puluhan orang tidak jauh dari lokasi nuklir Israel.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Perang AS vs Iran Presiden Donald Trump Konflik Timur Tengah


























