Sabtu, 21/03/2026 21:09 WIB

Studi: Senyawa dalam Darah Ular Piton Berpotensi Jadi Obat Diet Lebih Aman





Sebuah temuan ilmiah terbaru membuka peluang baru dalam pengembangan obat penurun berat badan yang lebih aman

Ular piton (Foto: Pexels/Alexander Zvir)

Jakarta, Jurnas.com - Sebuah temuan ilmiah terbaru membuka peluang baru dalam pengembangan obat penurun berat badan yang lebih aman. Peneliti menemukan bahwa senyawa dalam darah ular piton mampu menekan nafsu makan tanpa efek samping serius yang umum terjadi pada obat diet saat ini.

Riset yang dipimpin tim dari University of Colorado Boulder ini menyoroti kemampuan unik piton yang dapat makan dalam jumlah besar lalu berpuasa berbulan-bulan tanpa kehilangan massa otot atau mengalami gangguan metabolisme. Fenomena ekstrem ini mendorong ilmuwan menelusuri mekanisme biologis di baliknya.

Hasilnya, peneliti mengidentifikasi lebih dari 200 metabolit yang meningkat setelah piton makan, dengan satu senyawa menonjol bernama para-tyramine-O-sulfate (pTOS). Senyawa ini melonjak hingga 1.000 kali lipat dalam darah setelah makan, menunjukkan peran penting dalam mengatur metabolisme.

Untuk menguji efeknya, pTOS diberikan pada tikus dalam kondisi berat badan normal maupun berlebih. Hasilnya menunjukkan penurunan berat badan signifikan melalui pengaruh langsung pada hipotalamus, bagian otak yang mengatur rasa lapar.

Menariknya, efek tersebut tidak disertai gejala umum seperti mual, gangguan pencernaan, penurunan energi, atau hilangnya massa otot. Temuan ini menjadi pembeda utama dibandingkan obat berbasis GLP-1 seperti Ozempic yang kerap menimbulkan efek samping pada sebagian pengguna.

Peneliti juga menemukan bahwa senyawa ini kemungkinan berasal dari bakteri usus piton, bukan diproduksi langsung oleh tubuhnya. Hal ini menjelaskan mengapa pTOS jarang terdeteksi dalam penelitian berbasis hewan laboratorium seperti tikus.

Lebih jauh, studi ini menegaskan bahwa hewan dengan sistem metabolisme ekstrem dapat menjadi sumber inspirasi penting bagi dunia medis. Sebelumnya, obat GLP-1 sendiri terinspirasi dari racun Gila monster, reptil yang juga memiliki mekanisme biologis unik.

Selain potensi sebagai penekan nafsu makan, para ilmuwan juga melihat peluang lain dari biologi piton, terutama dalam menjaga massa otot selama puasa panjang. Hal ini relevan untuk mengatasi kondisi seperti sarkopenia, yaitu penurunan massa otot akibat penuaan.

Meski menjanjikan, para peneliti menegaskan bahwa temuan ini masih dalam tahap awal dan belum siap digunakan pada manusia. Pengujian lanjutan diperlukan untuk memastikan keamanan, efektivitas, serta kemungkinan pengembangan menjadi obat yang dapat digunakan secara luas.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Nature Metabolism ini menegaskan satu hal penting: solusi medis masa depan bisa datang dari tempat yang tak terduga. Dalam hal ini, darah ular piton membuka jalan baru untuk memahami metabolisme dan menciptakan terapi yang lebih aman bagi manusia. (*)

Sumber: Earth

 
 
KEYWORD :

Ular Piton Penurun Berat Badan Obat Diet




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :