Jum'at, 20/03/2026 21:31 WIB

Mengenal Fenomena Ekuinoks, Saat Siang dan Malam Seimbang di Seluruh Bumi





Fenomena Ekuinoks merupakan salah satu peristiwa astronomi paling penting dalam penanggalan Matahari yang terjadi dua kali setiap tahun

Ilustrasi periode ekuinoks (Foto: Via Live Science)

Jakarta, Jurnas.com - Fenomena Ekuinoks merupakan salah satu peristiwa astronomi paling penting dalam penanggalan Matahari yang terjadi dua kali setiap tahun. Pada momen ini, durasi siang dan malam di hampir seluruh wilayah Bumi menjadi hampir sama, masing-masing sekitar 12 jam.

Ekuinoks terjadi karena kemiringan sumbu Bumi sekitar 23,5 derajat terhadap orbitnya mengelilingi Matahari. Namun saat peristiwa ini berlangsung, tidak ada belahan Bumi yang condong ke arah atau menjauhi Matahari, sehingga penyinaran terjadi secara merata.

Dikutip dari Live Science, kondisi tersebut membuat Matahari tampak berada tepat di atas garis khatulistiwa. Akibatnya, hampir semua tempat di Bumi mengalami fenomena matahari terbit tepat di timur dan terbenam di barat, kecuali di wilayah kutub.

Salah satu jenis ekuinoks yang paling dikenal adalah Ekuinoks Maret yang terjadi sekitar tanggal 20 atau 21 Maret setiap tahun. Peristiwa ini menandai awal musim semi di belahan Bumi utara dan awal musim gugur di belahan selatan.

Sebaliknya, ekuinoks kedua terjadi pada September dan menandai pergantian musim yang berlawanan. Kedua momen ini menjadi penanda penting dalam sistem kalender astronomi yang digunakan berbagai peradaban sejak ribuan tahun lalu.

Secara etimologis, kata ekuinoks berasal dari bahasa Latin, yaitu aequus yang berarti sama dan nox yang berarti malam. Istilah ini secara langsung menggambarkan karakter utama fenomena tersebut.

Lebih dari sekadar peristiwa ilmiah, ekuinoks juga memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. Banyak peradaban kuno membangun situs-situs penting yang selaras dengan posisi Matahari saat ekuinoks.

Di Chichén Itzá, misalnya, cahaya Matahari saat ekuinoks menciptakan ilusi bayangan menyerupai ular yang bergerak di Piramida Kukulcán. Fenomena ini diyakini sebagai penanda dimulainya musim tanam bagi peradaban Maya.

Hal serupa juga ditemukan pada Great Sphinx of Giza dan Angkor Wat yang memiliki keterkaitan dengan posisi Matahari saat momen tertentu dalam setahun. Ini menunjukkan bahwa manusia sejak lama telah memahami pentingnya pergerakan benda langit.

Selain itu, ekuinoks juga dirayakan dalam berbagai tradisi budaya, salah satunya Nowruz yang merupakan Tahun Baru Persia. Perayaan ini telah berlangsung lebih dari 3.000 tahun dan melambangkan pembaruan serta awal kehidupan baru.

Bagi pengamat langit, ekuinoks juga menghadirkan pemandangan menarik di malam hari. Gugusan bintang seperti Arcturus, Spica, dan Denebola membentuk pola segitiga musim semi yang dapat diamati dari belahan utara.

Dengan demikian, ekuinoks bukan hanya fenomena astronomi, tetapi juga titik temu antara sains, budaya, dan sejarah manusia. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa pergerakan kosmik memiliki pengaruh nyata terhadap kehidupan di Bumi, dari pergantian musim hingga tradisi yang diwariskan lintas generasi. (*)

KEYWORD :

Fenomena Ekuinoks Fenomena Astronomi Ekuinoks Maret Siang dan Malam




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :