Amerika Serikat sedang mengkaji opsi pelonggaran sanksi terhadap cadangan minyak Iran yang tertahan di kapal-kapal tanker lepas pantai (Foto: Reuters)
Washington, Jurnas.com - Pemerintah Amerika Serikat tengah mengkaji opsi pelonggaran sanksi terhadap cadangan minyak Iran yang tertahan di kapal-kapal tanker lepas pantai.
Langkah ini diambil sebagai upaya darurat untuk menambah pasokan global dan meredam lonjakan harga energi yang kian tak terkendali. Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengonfirmasi rencana tersebut pada Kamis waktu setempat.
Dalam wawancaranya dengan Fox News yang dikutip pada Jumat (20/3), Bessent mengungkapkan bahwa volume minyak yang menjadi target pencabutan sanksi mencapai angka yang sangat signifikan.
“Dalam beberapa hari ke depan, kami mungkin mencabut sanksi terhadap minyak Iran yang berada di laut. Jumlahnya sekitar 140 juta barel,” ujar Bessent kepada Fox News.
Bessent merinci bahwa ketersediaan minyak tersebut setara dengan konsumsi pasar selama 10 hingga 14 hari. Kebijakan ini muncul sebagai respons atas krisis energi yang dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah sejak serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada akhir Februari lalu.
Konflik tersebut kian memanas setelah Iran membalas dengan menutup Selat Hormuz, jalur krusial yang melayani pengiriman 20 juta barel minyak per hari serta 20 persen perdagangan gas alam dunia.
Melalui langkah ini, Washington berharap beban pasar energi dunia dapat berkurang di tengah kampanye militer yang masih berlangsung di kawasan tersebut.
"Amerika Serikat berencana memanfaatkan pasokan minyak Iran tersebut untuk menekan harga energi dalam jangka pendek, selama 10 hingga 14 hari ke depan `saat kami melanjutkan kampanye ini`."
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Amerika Serikat Negara Iran Konflik Timur Tengah Kapal Minyak






















