Rabu, 18/03/2026 23:41 WIB

Doa Khusus Lailatul Qadar yang Dianjurkan Menurut Riwayat Islam





Malam Lailatul Qadar dikenal sebagai momen paling istimewa dalam Ramadan, ketika pahala ibadah dilipatgandakan dan pintu ampunan terbuka luas

Ilustrasi sedang berdoa saat malam Lailatul Qadar (Foto: Baznas)

Jakarta, Jurnas.com - Malam Lailatul Qadar dikenal sebagai momen paling istimewa dalam Ramadan, ketika pahala ibadah dilipatgandakan dan pintu ampunan terbuka luas. Karena itu, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak doa, terutama doa yang secara langsung diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Anjuran tersebut berangkat dari hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah, yang pernah bertanya tentang amalan terbaik jika menemukan malam penuh kemuliaan itu. Rasulullah Saw kemudian mengajarkan sebuah doa singkat namun sarat makna sebagai inti dari permohonan seorang hamba.

Doa yang dimaksud berbunyi:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Latin:
Allāhumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘annī

Artinya:
Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”

Selain itu, terdapat riwayat lain dengan tambahan sifat “karim” (Maha Pemurah), yang semakin menegaskan keluasan rahmat Allah dalam mengampuni dosa. Kedua redaksi doa tersebut sama-sama menekankan inti permohonan, yakni penghapusan kesalahan secara total.

Makna kata “’afuww” dalam doa tersebut tidak sekadar berarti memaafkan, melainkan menghapus dosa hingga tidak tersisa jejaknya. Dengan demikian, doa ini bukan hanya permintaan ampun, tetapi juga harapan agar dampak dosa dihilangkan sepenuhnya.

Para ulama menilai doa ini sebagai doa yang sangat jāmi’ atau komprehensif, karena mencakup pengakuan atas kelemahan manusia sekaligus pengharapan penuh kepada rahmat Allah. Oleh sebab itu, doa ini dianjurkan untuk dibaca berulang kali, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Lebih jauh, malam Lailatul Qadar sendiri diyakini sebagai waktu mustajab untuk berdoa, sehingga setiap permohonan memiliki peluang besar untuk dikabulkan. Hal ini juga sejalan dengan hadis riwayat Abu Hurairah yang menyebutkan bahwa ibadah pada malam tersebut dapat menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Dalam perspektif yang lebih luas, para ulama seperti Ibnu Rajab menjelaskan bahwa anjuran meminta ampun setelah beribadah menunjukkan sikap rendah hati seorang hamba. Meskipun telah bersungguh-sungguh dalam amal, seorang mukmin tetap merasa belum sempurna dan kembali memohon pengampunan.

Sejalan dengan itu, ulama lain seperti Al-Baihaqi menegaskan bahwa memohon ampun tidak terbatas pada malam tertentu saja, melainkan dianjurkan setiap waktu. Namun, Lailatul Qadar menjadi momentum paling istimewa karena nilai spiritualnya yang jauh melampaui malam-malam lainnya.

Di sisi lain, makna doa ini juga berkaitan dengan konsep takdir, di mana permohonan ampun diyakini dapat menjadi sebab terhindarnya seseorang dari konsekuensi buruk akibat dosa. Hal ini selaras dengan pesan dalam Al-Qur’an bahwa musibah yang terjadi tidak lepas dari perbuatan manusia, namun Allah tetap membuka pintu maaf yang luas.

Karena itu, menghidupkan malam sejak waktu maghrib hingga fajar dengan ibadah dan doa menjadi langkah penting untuk meraih keutamaan tersebut. Mengabaikan malam ini berarti melewatkan kesempatan besar yang belum tentu terulang di masa mendatang. (*)

Wallahua`alam

Sumber: Muhammadiyah, NU Online, Rumaysho, dan berbagai sumber lainnya.

KEYWORD :

Malam Lailatul Qadar Doa yang Dianjurkan Riwayat Islam




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :