Kebakaran hutan di British Columbia, Kanada (Foto: Reuters)
Jakarta, Jurnas.com - Lonjakan polusi udara akibat asap kebakaran hutan tidak hanya membuat langit terlihat berkabut atau menyebabkan tenggorokan terasa perih. Lebih dari itu, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit serius, termasuk stroke.
Hal ini menjadi perhatian besar pada musim panas 2023 ketika asap dari kebakaran hutan besar di Kanada menyebar hingga ke wilayah timur laut Amerika Serikat. Dampaknya tidak hanya terlihat pada kualitas udara yang memburuk, tetapi juga pada meningkatnya jumlah pasien stroke yang datang ke rumah sakit.
Penelitian terbaru yang dipimpin oleh Dr. Elizabeth Cerceo dari Cooper Medical School of Rowan University di Camden, New Jersey, menemukan hubungan antara lonjakan polusi udara akibat kebakaran hutan Kanada dengan peningkatan kejadian stroke serta tingkat keparahan penyakit tersebut.
Menurut Cerceo, asap kebakaran hutan mengandung berbagai polutan berbahaya seperti ozon dan partikel halus yang dapat memicu masalah kesehatan serius. “Asap kebakaran hutan bukan sekadar gangguan udara. Ini adalah ancaman kesehatan masyarakat,” ujarnya.
Dikutip dari Earth, dalam penelitian awal tersebut, para peneliti menganalisis data stroke yang terjadi selama Juni hingga Juli 2023 di New Jersey. Data tersebut kemudian dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Tim peneliti juga mencocokkan waktu terjadinya stroke dengan data kualitas udara yang dipantau oleh U.S. Environmental Protection Agency (EPA) di Camden.
Hasilnya menunjukkan bahwa ketika tingkat polusi meningkat akibat asap kebakaran hutan, jumlah kasus stroke juga ikut bertambah. Bahkan, banyak pasien yang datang dengan kondisi stroke yang lebih parah dibandingkan periode normal.
Penelitian ini menyoroti dua komponen utama dalam asap kebakaran hutan yang berbahaya bagi kesehatan: Pertama, Ozon. Gas ini dapat mengiritasi paru-paru dan memperburuk penyakit pernapasan seperti asma.
Kedua, partikel halus (PM2.5). Partikel mikroskopis ini sangat kecil—sekitar 2,5 mikrometer—sehingga mampu masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan di seluruh tubuh.
Ketika kebakaran hutan terjadi, kadar kedua polutan tersebut meningkat tajam.
Selama periode asap kebakaran 2023, kadar ozon tercatat mencapai 136 bagian per miliar (ppb), jauh lebih tinggi dibandingkan median normal sekitar 36 ppb.
Sementara itu, konsentrasi PM2.5 bahkan melonjak hingga 211 mikrogram per meter kubik, dibandingkan rata-rata normal sekitar 48,5 mikrogram per meter kubik.
Analisis menunjukkan bahwa pada hari-hari dengan kadar ozon lebih tinggi dari rata-rata, insiden stroke meningkat signifikan.
Peneliti mencatat 42 kasus stroke terjadi pada hari dengan ozon tinggi, dibandingkan 80 kasus pada hari dengan ozon lebih rendah. Jika dihitung per hari, rata-rata stroke mencapai 1,25 kasus per hari saat polusi tinggi, dibandingkan 0,93 kasus per hari saat kualitas udara lebih baik.
Selain jumlah kasus yang meningkat, para peneliti juga menemukan bahwa jenis stroke yang lebih berbahaya, seperti stroke perdarahan, muncul lebih sering ketika kadar ozon tinggi.
Partikel PM2.5 juga menunjukkan dampak serius.
Pada hari-hari dengan konsentrasi PM2.5 lebih tinggi, pasien stroke cenderung mengalami kondisi yang lebih parah dan membutuhkan waktu perawatan rumah sakit yang lebih lama.
Hal ini diduga karena partikel halus dapat memicu peradangan sistemik, menekan sistem kardiovaskular, serta memengaruhi pembuluh darah dan proses pembekuan darah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko stroke, terutama pada orang yang sudah memiliki faktor risiko sebelumnya.
Selama ini, para ilmuwan telah lama mengetahui bahwa paparan polusi udara jangka panjang dapat meningkatkan risiko stroke. Namun, penelitian ini menyoroti sesuatu yang berbeda: dampak paparan polusi yang terjadi secara cepat dan singkat.
Asap kebakaran hutan sering kali menyebabkan lonjakan polusi yang tiba-tiba selama beberapa hari, sebelum kembali turun. Pola ini membuat dampaknya terhadap kesehatan sulit diprediksi.
Cerceo mengatakan penelitian ini membantu menjawab kesenjangan pengetahuan tersebut. Temuan ini juga diharapkan dapat membantu pemerintah dan tenaga kesehatan merancang langkah pencegahan yang lebih efektif selama musim kebakaran hutan.
Meski memberikan gambaran penting, para peneliti menekankan bahwa studi ini masih bersifat awal. Penelitian hanya menganalisis periode kebakaran hutan yang relatif singkat, sehingga diperlukan studi lanjutan dengan rentang waktu yang lebih panjang.
Selain itu, penelitian ini menggunakan rata-rata polusi harian. Perubahan kualitas udara per jam serta faktor cuaca seperti kelembapan dan tekanan udara belum dianalisis secara mendalam.
Temuan tersebut rencananya akan dipresentasikan dalam Pertemuan Tahunan ke-78 American Academy of Neurology, yang menjadi forum penting bagi para ahli saraf dunia untuk membahas perkembangan terbaru dalam penelitian neurologi.
Studi ini menjadi pengingat bahwa dampak kebakaran hutan tidak hanya berhenti pada kerusakan lingkungan. Polusi udara yang ditimbulkan juga dapat memicu masalah kesehatan serius, bahkan meningkatkan risiko penyakit mematikan seperti stroke. (*)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Asap Kebakaran Hutan Risiko Stroke Polusi Udara























