Minggu, 08/03/2026 13:56 WIB

Malam Lailatul Qadar, Ini Doa yang Diajarkan oleh Istri Nabi Muhammad SAW





Di antara riuhnya persiapan umat Muslim mengejar malam Lailatul Qadar, ada satu percakapan singkat namun mendalam yang terekam dalam sejarah hadis.

Ilustrasi - sedang berdoa saat malam Lailatur Qadar (Foto: Baznas)

Jakarta, Jurnas.com - Di antara riuhnya persiapan umat Muslim mengejar malam Lailatul Qadar, ada satu percakapan singkat namun mendalam yang terekam dalam sejarah hadis.

Percakapan itu terjadi antara Ummul Mukminin Aisyah RA dan Rasulullah SAW. Kala itu, Aisyah bertanya, "Wahai Rasulullah, jika aku tahu malam apa itu Lailatul Qadar, apa yang harus aku ucapkan?" Rasulullah SAW tidak menyarankan rangkaian doa yang panjang atau rumit.

Beliau justru mengajarkan satu kalimat singkat yang menggetarkan arsy:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

"Allahumma innaka `afuwwun tuhibbul `afwa fa`fu `annii"

(Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku).

Mungkin kita sering bertanya, mengapa kita meminta "Maaf" (Afuw), bukan sekadar "Ampunan" (Maghfirah)? Dalam terminologi bahasa Arab dan hakikat spiritual, keduanya memiliki perbedaan yang sangat signifikan.

Al-Maghfirah (Ampunan) diibaratkan seperti dosa yang ditutupi. Allah mengampuni dosa kita, tidak menyiksanya di akhirat, namun catatan dosa tersebut masih ada di dalam buku amal kita. Kita dimaafkan, tetapi "jejaknya" masih tersimpan.

Sedangkan Al-Afuww (Pemaafan) jauh lebih tinggi tingkatannya. Secara bahasa, Afuw berarti menghapus atau melenyapkan.

Jika Allah memberikan Afuw-Nya, maka dosa tersebut dihapus sepenuhnya dari buku catatan amal, dilupakan oleh malaikat pencatat, dan tidak akan diungkit lagi di hadapan kita pada hari hisab nanti. Ia benar-benar hilang seolah-olah kita tidak pernah melakukannya.

Dalam doa tersebut, terdapat pengakuan tulus: Tuhibbul `Afwa (Engkau menyukai pemaafan). Ini adalah bentuk tawasul (perantara) melalui sifat mulia Allah. Kita merayu Sang Pencipta dengan menyebutkan bahwa memaafkan adalah sifat yang Dia cintai.

Malam Lailatul Qadar adalah malam penetapan takdir untuk satu tahun ke depan. Memulai lembaran takdir baru dengan catatan amal yang benar-benar bersih ("putih") adalah anugerah terbesar yang bisa diraih seorang hamba.

Tidak ada gunanya tumpukan amal jika beban dosa masa lalu masih membayangi.

KEYWORD :

Info Keislaman Nabi Muhammad SAW Malam Lailatul Qadar Aisyah RA




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :