Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Halim. (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.con - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Chusnunia Chalim (Nunik) meminta pemerintah mengantisipasi dampak penutupan Selat Hormuz bagi Indonesia. Selat Hormuz dampak dari perang Iran melawan AS dan Israel.
Menurut dia, penutupan Selat Hormuz dan pembatasan kapal komersial di kawasan tersebut berpotensi mengganggu jalur perdagangan global, serta memicu kenaikan biaya logistik dalam waktu dekat.
"Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan global yang menjadi pintu keluar-masuk utama minyak dan komoditas dari kawasan Teluk yang artinya gangguan di jalur ini tidak hanya mempengaruhi perdagangan internasional," kata Nunik dalam keterangannya, Jakarta, Senin (2/3).
Politikus PKB ini juga menyebutkan bahwa situasi ini pasti berdampak kepada para pelaku usaha. Situasi itu berpotensi pada peningkatan biaya perdagangan akibat eskalasi konflik.
"Dampaknya, biaya impor dan ekspor Indonesia berpotensi meningkat terlebih Indonesia, sebagai negara yang masih bergantung pada impor minyak mentah untuk memenuhi kebutuhan energinya," katanya.
Nunik melanjutkan, penutupan Selat Hormuz berpotensi memicu kenaikan harga minyak dunia secara signifikan. Pada sisi lain, setiap kenaikan harga minyak sebesar USD1 per barel di atas asumsi pemerintah dapat menambah beban negara sekitar Rp10,3 triliun.
"Kenaikan harga energi akan meningkatkan biaya transportasi, manufaktur, dan pertanian, yang pada gilirannya akan meningkatkan harga barang dan jasa secara keseluruhan," katanya.
Selain itu, Ketua DPW PKB Lampung ini memprediksi bahwa sektor pariwisata juga dapat terkena dampak negatif. Sebab, kenaikan harga tiket pesawat dan biaya akomodasi dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung ke Indonesia.
Eskalasi konflik di Timur Tengah hingga penutupan Selat Hormuz merupakan ancaman serius bagi dunia usaha di Indonesia. Dampak negatif dari gangguan pasokan energi dan logistik dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi dan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Meski demikian, Nunik menilai penutupan Selat Hormuz dapat menjadi momentum bagi Indonesia untuk mempercepat transformasi ekonomi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan, efisien, dan mandiri.
"Pemerintah dan dunia usaha perlu mengambil langkah-langkah mitigasi risiko dan strategi adaptasi yang komprehensif, pemerintah perlu menciptakan kebijakan yang mendukung dan memberikan insentif kepada dunia usaha untuk melakukan diversifikasi sumber energi, meningkatkan efisiensi energi, dan mengembangkan industri substitusi impor," tandasnya.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Warta DPR Komisi VII Chusnunia Chalim Selat Hormuz perang Iran AS dan Israel Legislator PKB





















