Kapal perang Amerika Serikat (AS) di Teluk Alaska (Foto: Reuters/HANDOUT)
Teheran, Jurnas.com - Iran menanggapi tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menjelang pembicaraan penting di Jenewa terkait program nuklir Teheran.
Dua pejabat Iran menyebut Trump melakukan propaganda dan kebohongan besar, namun di saat yang sama menyatakan peluang tercapainya kesepakatan tetap terbuka melalui jalur diplomasi yang terhormat.
Komentar tersebut muncul menjelang perundingan pada Kamis (26/2) ini, usai AS mengerahkan kekuatan militer terbesar ke kawasan Timur Tengah dalam beberapa dekade terakhir.
Langkah itu menjadi bagian dari strategi Trump untuk menekan Iran agar membatasi program nuklirnya, sementara pemerintah Iran juga menghadapi tekanan dalam negeri setelah gelombang protes nasional bulan lalu.
Trump berulang kali mengancam akan menyerang Iran jika negosiasi gagal. Negara-negara Timur Tengah khawatir langkah tersebut dapat memicu konflik regional baru, terutama karena ketegangan akibat perang Israel-Hamas masih belum sepenuhnya mereda.
Adapun Iran telah menyatakan bahwa seluruh pangkalan militer Amerika di kawasan akan dianggap sebagai target sah, sehingga menempatkan puluhan ribu tentara AS dalam risiko.
Citra satelit terbau menunjukkan kapal-kapal militer Amerika yang biasanya berlabuh di Bahrain, markas Armada Kelima Angkatan Laut AS, telah bergerak ke laut lepas.
Sebelumnya, pola serupa terjadi sebelum serangan Iran terhadap Qatar pada Juni, ketika kapal-kapal disebar untuk mengurangi risiko serangan. Dan dalam pidato kenegaraan di Washington pada Rabu (25/2) kemarin, Trump kembali menyinggung Iran dan negosiasi nuklir.
"Mereka telah mengembangkan rudal yang bisa mengancam Eropa dan pangkalan kita di luar negeri, dan mereka sedang membangun rudal yang segera dapat menjangkau Amerika Serikat," kata Trump.
"Mereka sudah diperingatkan agar tidak lagi mencoba membangun kembali program senjata mereka, khususnya senjata nuklir, namun mereka tetap melanjutkannya. Mereka memulainya lagi dari awal," dia menambahkan.
Analisis citra satelit sebelumnya menunjukkan Iran mulai membangun kembali fasilitas produksi rudal serta melakukan aktivitas di tiga lokasi nuklir yang diserang Amerika Serikat pada Juni.
Iran secara konsisten menyatakan program nuklirnya bertujuan damai, tetapi negara-negara Barat dan Badan Energi Atom Internasional menyebut Iran pernah memiliki program senjata nuklir hingga 2003.
Sebelum serangan Juni, Iran memperkaya uranium hingga tingkat kemurnian 60 persen, yang secara teknis hanya selangkah lagi menuju tingkat 90 persen yang dibutuhkan untuk senjata.
Menanggapi pidato tersebut, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, membandingkan Trump dengan menteri propaganda Nazi, Joseph Goebbels. Dia menuduh pemerintahan Trump menjalankan kampanye disinformasi dan misinformasi terhadap Iran.
"Cara itu kini digunakan oleh pemerintah AS dan pencari keuntungan perang mengulangnya terus menerus, khususnya rezim genosida Israel," kata Baghaei di platform X, dikutip dari Associated Press.
"Apapun yang mereka tuduhkan terkait program nuklir Iran, rudal balistik Iran, dan jumlah korban dalam kerusuhan Januari hanyalah pengulangan dari ‘kebohongan besar’," dia menambahkan.
Dalam pidatonya, Trump menyebut sedikitnya 32.000 orang tewas dalam protes bulan lalu. Angka tersebut berada di kisaran tertinggi estimasi kelompok aktivis. Lembaga Human Rights Activist News Agency yang berbasis di Amerika Serikat mencatat lebih dari 7.000 kematian dan memperkirakan jumlah sebenarnya bisa jauh lebih tinggi. Sementara itu, pemerintah Iran pada 21 Januari menyatakan jumlah korban tewas mencapai 3.117 orang.
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyatakan Amerika Serikat dapat memilih jalur diplomasi atau menghadapi konsekuensi.
“Jika Anda memilih meja diplomasi, diplomasi yang menghormati martabat bangsa Iran dan kepentingan bersama, kami juga akan berada di meja itu," kata Qalibaf.
"Namun jika Anda memutuskan untuk mengulangi pengalaman masa lalu melalui penipuan, kebohongan, analisis yang keliru dan informasi palsu, serta melancarkan serangan di tengah negosiasi, Anda pasti akan merasakan pukulan tegas dari bangsa Iran dan kekuatan pertahanan negara ini," ujar dia.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Iran vs Amerika Serikat perundingan nuklir Iran Jenewa Donald Trump ancam Iran




















