Kamis, 26/02/2026 00:41 WIB

Deretan Kuliner Khas Ramadan dari Jawa Barat, Ada Mie Glosor hingga Awug





Berikut beberapa kuliner khas Ramadan dari Jabar, dirangkum berdasarkan persebaran daerah, karakteristik bahan, hingga relevansinya dalam tradisi berbuka puasa

Takjil favorit warga Bogor, Mie Glosor (Cookpad)

Jakarta, Jurnas.com - Ramadan selalu menghadirkan denyut ekonomi dan tradisi kuliner yang khas di berbagai daerah. Di Jawa Barat, momentum bulan suci bukan hanya identik dengan ibadah dan ngabuburit, tetapi juga ledakan pasar takjil yang menjajakan aneka makanan tradisional. Sejumlah hidangan bahkan hanya populer dan mudah ditemukan saat Ramadan.

Berikut beberapa kuliner khas Ramadan dari Jawa Barat, dirangkum berdasarkan persebaran daerah, karakteristik bahan, hingga relevansinya dalam tradisi berbuka puasa.

Salah satu kuliner khas Ramadan dari Jawa Barat yang paling menonjol adalah Mie Glosor dari Bogor. Mie berwarna kuning cerah ini terbuat dari tepung singkong (aci) dan kunyit, menghasilkan tekstur licin yang menjadi asal-usul nama “glosor” atau meluncur. Selama Ramadan, jumlah penjualnya meningkat signifikan dibanding hari biasa.

Mie Glosor umumnya disajikan dengan siraman bumbu kacang pedas dan ditemani gorengan seperti bala-bala atau tahu isi. Karakternya yang ringan namun mengenyangkan membuatnya menjadi takjil favorit warga.

Di wilayah Garut dan Bandung, Es Goyobod menjadi pilihan utama untuk membatalkan puasa. Minuman tradisional ini berisi goyobod, yakni agar-agar kenyal berbahan tepung hunkwe, yang dipadukan dengan alpukat, kelapa muda, kolang-kaling, roti tawar, lalu disiram santan dan susu kental manis. Kombinasi rasa manis dan gurih dengan suhu dingin menjadikannya efektif mengembalikan kesegaran setelah seharian berpuasa.

Selain minuman dan mie khas, gorengan tetap mendominasi hampir di seluruh wilayah Jawa Barat, termasuk di Tasikmalaya dan Cirebon. Bala-bala, tahu isi, tempe goreng tepung, cireng, hingga pisang goreng menjadi komoditas dengan perputaran penjualan tercepat menjelang magrib.

Harganya terjangkau, mudah diproduksi, dan dapat dibeli dalam jumlah banyak untuk konsumsi keluarga. Dalam konteks ekonomi mikro, gorengan menjadi salah satu sumber penghasilan utama pedagang musiman selama Ramadan.

Jajanan manis tradisional juga tetap bertahan. Awug dari Bandung, misalnya, dibuat dari tepung beras dan kelapa parut dengan lapisan gula aren di tengahnya, lalu dikukus menggunakan aseupan bambu berbentuk kerucut. Disajikan hangat, gula arennya meleleh dan memberikan asupan energi cepat setelah berbuka.

Sementara itu, Colenak, yang telah dikenal sejak era 1930-an, menghadirkan peuyeum bakar dengan siraman saus kinca berbahan gula aren dan kelapa parut. Keberadaannya menunjukkan daya tahan kuliner tradisional Sunda di tengah modernisasi makanan cepat saji.

Untuk hidangan utama, masyarakat Jawa Barat kerap memilih menu yang praktis dan tahan lama seperti gepuk daging sapi. Daging direbus, dipukul hingga empuk, kemudian diungkep dengan bumbu rempah manis-gurih sebelum digoreng. Lauk ini cocok untuk stok berbuka maupun sahur. Nasi timbel dan soto berkuah bening khas Bandung juga menjadi pilihan populer untuk santap malam bersama keluarga.

Secara keseluruhan, beberapa kuliner khas Ramadan dari Jawa Barat dapat memanjakan lidah atau cita rasa. Di sisi lain, kulineran khas Ramadan ini tidak hanya memperkaya pengalaman berbuka puasa, tetapi juga menciptakan siklus ekonomi musiman yang menggerakkan pedagang kecil dan UMKM.

KEYWORD :

Kuliner Khas Ramadan Jawa Barat Makanan Tradisional Takjil Unik Puasa Ramadan




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :