Ilustrasi - seorang pria sedang menunggu waktu berbuka puasa (Foto: Pexels/Oladimeji Ajegbile)
Jakarta, Jurnas.com - Puasa Ramadan bukan hanya menahan lapar dan dahaga sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Lebih dari itu, puasa adalah ibadah yang bertujuan membentuk ketakwaan dan mengendalikan diri dari perbuatan buruk. Karena itu, seseorang bisa saja puasanya sah secara hukum, tetapi berkurang nilainya di sisi Allah.
Banyak orang mengira selama tidak makan dan minum maka puasanya sudah sempurna. Padahal, perilaku sehari-hari selama berpuasa juga sangat menentukan kualitas ibadah.
Rasulullah SAW bahkan mengingatkan bahwa ada orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa selain rasa lapar.
قال رسول الله ﷺ:
"رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلَّا السَّهَرُ" (رواه ابن ماجه)
Iblis di `Penjara` saat Bulan Ramadan, Benarkah?
Artinya: “Betapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan dari puasanya kecuali lapar, dan betapa banyak orang yang shalat malam tidak mendapatkan apa-apa kecuali begadang.” (HR. Ibnu Majah).
Berikut beberapa kebiasaan yang tidak membatalkan puasa, namun dapat mengurangi bahkan menghilangkan pahala puasa.
Membicarakan aib orang lain termasuk dosa lisan yang paling sering terjadi saat berpuasa, terutama ketika berkumpul atau berbincang santai. Al-Qur’an bahkan mengibaratkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri.
قال الله تعالى:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ (الحجرات: ١٢)
Artinya: “Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12).
Puasa sejatinya melatih kesabaran. Karena itu, ketika emosi muncul, seseorang dianjurkan menahan diri. Rasulullah SAW memerintahkan orang berpuasa untuk menenangkan diri ketika diprovokasi.
قال رسول الله ﷺ:
"فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ، فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ: إِنِّي صَائِمٌ" (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka jangan berkata kotor dan jangan berteriak. Jika ada yang mencacinya atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia mengatakan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Ucapan kotor, hinaan, atau ejekan termasuk perbuatan yang merusak tujuan puasa. Menahan lisan justru menjadi bagian utama ibadah puasa karena dosa lisan seringkali lebih berat daripada dosa fisik.
Kejujuran sangat ditekankan dalam Islam, terlebih saat berpuasa. Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan puasa seseorang jika ia masih berdusta.
قال رسول الله ﷺ:
"مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ" (رواه البخاري)
Artinya: “Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari).
Mengisi hari puasa hanya dengan hiburan berlebihan, perdebatan tidak bermanfaat, atau aktivitas yang melalaikan akan membuat seseorang kehilangan hikmah Ramadan. Puasa seharusnya diisi dengan ibadah, membaca Al-Qur’an, dan amal kebaikan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Info Keislaman Pahala Berpuasa Rasulullah SAW Bulan Ramadan
























