Lokasi markas penipuan di Kamboja (Foto: Reuters)
Phnom Penh, Jurnas.com - Kompleks Royal Hill yang dijadikan markas penipuan daring di Kamboja terbongkar. Kompleks dengan tampilan kantor itu dilengkapi dengan berbagai ruangan yang dibuat menyerupai kantor polisi Singapura dan Australia.
Saat datang ke lokasi, menurut laporan Reuters pada Sabtu (7/2), kantor itu hanya menyisakan kertas-kertas berserakan di meja dan lantai, lantaran ditinggal kabur oleh penghuninya.
Penggerebekan polisi dan serangan udara militer Thailand di perbatasan Kamboja memaksa kelompok kriminal melarikan diri dari puluhan kompleks penipuan dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam salah satu dokumen, tertera nama pensiunan Jepang yang mengaku menerima telepon akhir tahun lalu dari seseorang yang mengaku petugas perusahaan listrik. Penipu memperingatkan listrik pria itu akan diputus jika tidak memberikan rincian rekening bank.
Target tersebut tidak mengirim uang, tetapi sempat memberikan informasi pribadi selama panggilan, termasuk detail yang tercatat dalam daftar.
"Jika listrik diputus, itu akan menjadi masalah besar karena saya tinggal di pegunungan. Saya tanpa sadar membocorkan detail itu dan kemudian berpikir itu ide yang buruk," kata pensiunan tersebut saat dihubungi Reuters.
Sejauh ini belum dapat dipastikan pihak mana yang sepenuhnya mengendalikan kompleks Royal Hill di Kamboja, karena catatan tanah di negara itu tidak mudah diakses.
Dokumen berbahasa Mandarin yang ditemukan di lokasi menjelaskan bahwa manajemen kompleks yang tidak disebutkan namanya menyewakan ruang kepada berbagai kelompok penipu. Seseorang bernama Zhang yang tercatat sebagai penyewa tidak merespons panggilan permintaan komentar.
Pemerintah Kamboja dalam pernyataan pada 4 Februari juga mengatakan kompleks tersebut sebenarnya adalah hotel yang diduduki Thailand dengan kekerasan.
Juru bicara Kementerian Dalam Negeri Touch Sokhak secara terpisah mengatakan pemerintah berkomitmen untuk menindak pusat-pusat penipuan dan mengulang janji pemerintah untuk memberantas kejahatan siber pada April.
Diketahui, Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir muncul sebagai pusat industri penipuan siber global. Kompleks-kompleks yang sebagian besar dijalankan geng kriminal China dan diisi pekerja yang juga korban perdagangan manusia dalam kondisi brutal telah menyebar di Kamboja, Laos, Filipina, serta wilayah tanpa hukum di perbatasan Myanmar-Thailand.
Banyak negara tersebut mendapat tekanan dari pemerintah asing seperti Amerika Serikat, yang memperkirakan warga AS kehilangan US$10 miliar pada 2024 akibat pusat penipuan Asia Tenggara.
Serangan Thailand pada Desember serta operasi pemerintah Kamboja memicu eksodus lebih dari 100.000 orang dari kompleks-kompleks penipuan di seluruh negeri.
Banyak dari mereka antre di luar kedutaan besar di Phnom Penh untuk meminta bantuan dan dana pulang, dalam situasi yang oleh Amnesty International disebut sebagai krisis kemanusiaan.
Salah satu berkas menunjukkan bahwa manajemen melindungi operasi penipuan mereka melalui penerapan latihan darurat ala militer. Penjaga keamanan juga diinstruksikan menghentikan orang yang berkeliaran di sekitar lokasi.
Pengumuman manajemen properti juga melarang penggunaan layanan pesan antar makanan yang bisa membawa orang luar masuk. Dokumen lain melarang aktivitas ilegal yang tidak dijelaskan, melarang pekerja berjalan tanpa baju, serta menuntut perilaku beradab.
Sementara itu, laporan keuangan menunjukkan manajemen kompleks penipuan mengenakan sewa beberapa ribu dolar per bulan kepada para penyewa. Sebagian geng kriminal bahkan menunggak pembayaran sewa, menurut catatan tersebut.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
pusat penipuan Kamboja scam cyber Asia Tenggara kompleks Royal Hill
























