Sabtu, 07/02/2026 19:45 WIB

Wisuda STAI Sadra 2026: Soroti Peran Intelektual Muslim di Era Modern





STAI Sadra menegaskan komitmennya mencetak intelektual Muslim yang mampu menghubungkan tradisi keilmuan klasik dengan realitas sosial modern.

Para wisudawan program Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT) STAI Sadra (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Sadra menyelenggarakan Sidang Senat Terbuka Wisuda untuk Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) serta Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir (IAT) bagi sarjana ke-7, sekaligus Magister Aqidah dan Filsafat Islam (MAFI) bagi pascasarjana ke-4 pada Sabtu (7/2) di Jakarta.

Melalui wisuda sarjana dan magister Aqidah dan Filsafat Islam serta Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, STAI Sadra menegaskan komitmennya mencetak intelektual Muslim yang mampu menghubungkan tradisi keilmuan klasik dengan realitas sosial modern.

Ketua Yayasan Hikmat Al-Mustafa, Hossein Mottaghi, menekankan bahwa lulusan perguruan tinggi Islam memiliki tanggung jawab strategis dalam menjaga makna agama di tengah dinamika global. 

“Intelektual Muslim adalah penjaga makna agama sekaligus partisipan aktif pembangunan sosial. Tugas kalian adalah memproduksi wacana moderasi dan memodernisasi institusi berbasis pengetahuan,” ujar Mottaghi.

Pandangan tersebut sejalan dengan arah pengembangan STAI Sadra yang, menurut Ketua STAI Sadra, Otong Sulaeman, tidak hanya soal menekankan capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter intelektual berbasis hikmah. 

“Kami tidak hanya mengejar prestasi akademik, tapi juga pembentukan karakter berbasis hikmah agar lulusan menjadi kritis dan berpegang pada nilai keislaman,” ujarnya. 

Lebih lanjut, Ia juga menyinggung penguatan kelembagaan, peningkatan jumlah mahasiswa, serta internasionalisasi kampus sebagai fondasi masa depan.

Dukungan terhadap peran strategis STAI Sadra datang dari Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten. Abdul Muin yang mengapresiasi capaian akademik kampus, termasuk peningkatan kualitas jurnal ilmiah. 

Ia memberikan gambaran filosofis tentang kontribusi keilmuan para lulusan. Lulusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) dianalogikan sebagai embun yang menurunkan cahaya wahyu ke dalam kehidupan nyata, sementara lulusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) diposisikan sebagai ksatria logika yang menjadikan filsafat sebagai jalan mencintai kebijaksanaan.

Gagasan tentang relevansi filsafat Islam bagi masa depan Indonesia semakin ditegaskan melalui Orasi Ilmiah oleh Kholid Al Walid yang berjudul `Filsafat Islam dan Kemajuan Bangsa Indonesia.`

Kholid Al Walid menyoroti peran filsafat Islam dalam membangun cara berpikir rasional, moderat, dan kontekstual, terutama dalam menghadapi disrupsi sosial dan krisis nilai. Filsafat, menurutnya, menjadi jembatan penting antara iman, akal, dan penguatan nilai kebangsaan.

Suara generasi baru intelektual Sadra turut mewarnai momentum ini. Perwakilan wisudawan, Azizah Amanuroh, mengatakan bahwa capaian akademik bukanlah akhir perjalanan, menurutnya, adalah amanah untuk menghadirkan ilmu sebagai pengabdian sosial.

Pesan senada disampaikan perwakilan orang tua wisudawan, yang mendorong lulusan untuk menjaga integritas, kerendahan hati, dan semangat belajar sepanjang hayat.

Melalui wisuda ini, STAI Sadra menegaskan posisinya sebagai ruang lahirnya intelektual Muslim yang tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga relevan secara sosial, mampu berdialog dengan zaman tanpa kehilangan akar nilai keislaman.

KEYWORD :

STAI Sadra Wisuda 2026 Program magister Program Sarjana




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :