Minuman matcha (Foto: Health)
Jakarta, Jurnas.com - Akhir-akhir ini, matcha menjadi salah satu minuman primadona, khususnya bagi generasi Z. Banyak yang menganggap minuman asal Jepang ini memberi energi lebih tenang dan fokus dibanding kopi.
Tak jarang, matcha menjadi salah satu pilihan di kedai kopi. Bahkan, muncul pula kedai yang hanya khusus menjual matcha, yang ditujukan bagi penikmat minuman hijau ini.
Lalu, apa dampak mengonsumsi matcha untuk kesehatan tubuh? Apakah baik untuk gula darah?
Dikutip dari Health pada Rabu (4/2), salah satu komponen utama yang membuat matcha menarik adalah kandungan senyawa tanaman bernama katekin, terutama epigallocatechin gallate atau EGCG.
Senyawa ini dikenal sebagai antioksidan kuat yang banyak ditemukan dalam teh hijau, dan sering disebut sebagai kunci manfaat metabolik dari minuman tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa katekin seperti EGCG dapat membantu tubuh menggunakan insulin dengan lebih efektif. Insulin adalah hormon yang bertugas memindahkan gula dari aliran darah ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Jika insulin bekerja lebih baik, kadar gula darah bisa lebih mudah terkendali.
Dalam beberapa studi pada penderita diabetes tipe 2, senyawa dari teh hijau membantu sel-sel tubuh merespons insulin lebih baik dibanding kelompok yang tidak mengonsumsi teh hijau. Hasilnya, kadar gula darah puasa menurun, dan kontrol gula darah jangka panjang juga membaik.
Selain itu, analisis besar yang menggabungkan data dari lebih dari 50 uji klinis menemukan pola serupa. Konsumsi ekstrak teh hijau berkaitan dengan perbaikan kadar gula darah puasa dan indikator kontrol gula darah jangka panjang. Temuan ini memperkuat dugaan bahwa senyawa teh hijau memang punya peran dalam metabolisme glukosa.
Matcha berbeda dari teh hijau biasa karena dibuat dari daun teh utuh yang digiling menjadi bubuk halus. Artinya, saat minum matcha, seseorang mengonsumsi seluruh daun, bukan hanya air seduhan. Hal ini bisa memberikan asupan EGCG dan nutrisi lain yang lebih tinggi dibanding secangkir teh hijau biasa.
Namun demikian, sebagian besar penelitian masih menguji ekstrak teh hijau dalam bentuk suplemen, bukan matcha dalam bentuk minuman sehari-hari. Karena itu, belum bisa dipastikan apakah efek matcha akan sama kuatnya seperti yang ditemukan pada ekstrak.
Selain meningkatkan efektivitas insulin, matcha juga diduga membantu menurunkan gula darah dengan cara memperlambat masuknya gula ke aliran darah setelah makan. Ketika seseorang mengonsumsi karbohidrat, tubuh memecahnya menjadi gula sederhana melalui bantuan enzim pencernaan.
EGCG diperkirakan dapat memperlambat kerja enzim tersebut. Jika pemecahan karbohidrat berlangsung lebih lambat, gula tidak langsung melonjak cepat di dalam darah, melainkan masuk secara bertahap. Mekanisme ini berpotensi membantu mencegah lonjakan gula darah tajam, terutama setelah makan makanan tinggi karbohidrat.
Alasan ketiga, kaitan antara matcha, peradangan, dan kontrol gula darah. Peradangan kronis dalam tubuh dapat membuat sel menjadi kurang sensitif terhadap insulin, sehingga gula darah lebih sulit diatur dalam jangka panjang.
Katekin dalam matcha juga dikenal memiliki sifat antiinflamasi. Senyawa ini diduga mendukung kesehatan usus dengan mendorong pertumbuhan bakteri baik serta memperkuat lapisan pelindung usus, yang pada akhirnya bisa menurunkan peradangan.
Dalam sebuah studi pada hewan, matcha terbukti mengurangi peradangan pada hati dan memperbaiki kadar gula darah pada tikus yang diberi pola makan tinggi lemak. Temuan ini menunjukkan potensi matcha dalam mendukung metabolisme, setidaknya pada model hewan.
Namun hasil pada manusia masih belum konsisten. Sebuah penelitian selama satu tahun yang meneliti suplemen ekstrak teh hijau pada perempuan pascamenopause dengan berat badan berlebih atau obesitas menemukan bahwa produk tersebut tidak secara signifikan menurunkan penanda peradangan dalam tubuh.
Karena itu, para ahli menekankan bahwa masih diperlukan penelitian lebih luas untuk memastikan apakah matcha benar-benar mampu mengurangi peradangan secara bermakna dan membantu pengendalian gula darah pada manusia.
Secara keseluruhan, matcha memang mengandung senyawa yang secara teori dapat mendukung kestabilan gula darah melalui peningkatan sensitivitas insulin, perlambatan penyerapan gula, dan efek antiinflamasi.
Namun manfaat ini belum bisa dianggap sebagai pengganti pola makan sehat, olahraga, atau pengobatan medis bagi penderita diabetes.
Bagi masyarakat umum, matcha bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat jika dikonsumsi dengan bijak, terutama tanpa tambahan gula berlebih. Tetapi klaim bahwa matcha secara pasti menurunkan gula darah masih memerlukan bukti ilmiah yang lebih kuat melalui studi manusia dalam skala besar.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
manfaat matcha gula darah efek teh hijau kadar insulin


























