Rabu, 04/02/2026 20:04 WIB

Menyeramkan, Ini yang Terjadi jika Bumi Mendadak Berhenti Berputar





Apabila rotasi Bumi tiba-tiba berhenti total tanpa perlambatan bertahap, maka hampir semua hal di planet ini akan hancur seketika.

Ilustrasi rotasi Bumi (Foto: Astronomy)

Jakarta, Jurnas.com - Sebagian orang pasti pernah mengajukan pertanyaan konyol seperti `Apa yang terjadi jika Bumi berhenti berputar secara tiba-tiba?`. Secara fisika, jika hal ini terjadi maka yang terlihat ada sesuatu yang mengerikan.

Pakar astronomi dari St. John`s Newfoundland and Labrador, Edward Herrick-Gleason, mengatakan, apabila rotasi Bumi tiba-tiba berhenti total tanpa perlambatan bertahap, maka hampir semua hal di planet ini akan hancur seketika.

Untuk memahami gambaran dasarnya, bayangkan Anda sedang berada di dalam mobil yang melaju kencang. Saat mobil bergerak dengan kecepatan konstan, tubuh Anda ikut bergerak dengan kecepatan yang sama tanpa terasa.

Sebaliknya, jika mobil tiba-tiba berhenti mendadak, tubuh Anda akan terdorong keras ke depan akibat perubahan kecepatan yang ekstrem. Inilah alasan sabuk pengaman sangat penting, sebagaimana dikutip dari Astronomy Magazine pada Rabu (4/2).

Hal yang sama akan terjadi pada Bumi, tetapi dalam skala jauh lebih besar. Rotasi Bumi membuat seluruh permukaan planet bergerak sangat cepat. Di garis khatulistiwa, kecepatan rotasi mencapai sekitar 1.037 mil per jam atau sekitar 1.668 kilometer per jam.

Kecepatan ini berkurang semakin jauh dari khatulistiwa. Misalnya, di New York kecepatannya sekitar 794 mil per jam, sementara di kutub kecepatannya mendekati nol.

Jika Bumi berhenti berputar secara instan, maka air, udara, bangunan, dan semua makhluk hidup akan tetap bergerak dengan kecepatan sesuai lokasi lintangnya. Artinya, di daerah khatulistiwa akan terjadi angin lebih dari 1.000 mil per jam, jauh melampaui badai terkuat yang pernah tercatat di Bumi.

Angin dengan kecepatan seperti itu bukan sekadar badai biasa, melainkan kekuatan yang akan meratakan hampir semua struktur. Bangunan akan runtuh seketika, pepohonan akan tercabut, dan manusia atau benda apapun yang tidak benar-benar tertanam kuat ke tanah akan terlempar dengan kekerasan luar biasa.

Bahkan permukaan tanah pun tidak akan selamat. Benturan akibat penghentian mendadak ini dapat membuat kerak Bumi retak, terbelah, dan berguncang secara ekstrem. Planet ini secara harfiah akan mengalami kerusakan fisik besar-besaran dalam hitungan menit.

Dampak berikutnya yang tidak kalah dahsyat adalah lautan. Air laut saat ini juga bergerak mengikuti rotasi Bumi. Jika rotasi berhenti tiba-tiba, air tidak akan langsung berhenti, melainkan terus melaju dengan kecepatan sangat tinggi.

Akibatnya, gelombang raksasa akan menghantam benua, menenggelamkan wilayah pesisir dan bahkan bisa menyapu jauh ke pedalaman.

Selain kehancuran langsung, Bumi juga akan berubah bentuk. Selama ini kita menyebut Bumi bulat, tetapi sebenarnya bentuknya adalah oblate spheroid, artinya sedikit menggembung di khatulistiwa. Penggembungan ini terjadi karena gaya sentrifugal dari rotasi planet.

Jika gaya sentrifugal itu hilang, Bumi akan perlahan menjadi lebih bulat sempurna. Perubahan bentuk ini akan membuat air laut bermigrasi ke arah kutub, sehingga distribusi samudra dan daratan berubah drastis.

Dalam skenario ekstrem ini, kombinasi dari angin super dahsyat, gelombang laut raksasa, retakan kerak bumi, dan aktivitas vulkanik global bisa menciptakan kehancuran total. Dunia seperti yang kita kenal akan berakhir hanya karena planet berhenti berputar.

Namun, penting dicatat bahwa dalam kenyataan, Bumi tidak akan pernah berhenti berputar secara tiba-tiba. Para ilmuwan memang mengetahui bahwa kecepatan rotasi Bumi sedikit berubah-ubah dari waktu ke waktu, baik melambat maupun mempercepat.

Secara umum, tren jangka panjangnya adalah perlambatan yang sangat kecil, hanya sepersekian milidetik per tahun. Perubahan ini begitu lambat sehingga dampaknya dalam kehidupan sehari-hari hampir tidak terasa.

Sejak 1972 hingga 2020, para ilmuwan bahkan menambahkan 28 leap second atau detik kabisat ke sistem waktu atom untuk menyesuaikan perubahan rotasi Bumi. Menariknya, pengukuran terbaru menunjukkan rotasi Bumi justru sedikit meningkat, sehingga ada kemungkinan detik kabisat perlu dikurangi pada tahun 2029.

Faktor-faktor seperti gaya pasang surut, gempa bumi besar, perubahan iklim, hingga pergeseran massa di dalam planet dapat memengaruhi rotasi ini. Tetapi fluktuasinya tetap kecil dan tidak mengarah pada berhentinya rotasi secara total.

KEYWORD :

Bumi berhenti berputar dampak rotasi Bumi kiamat fisika planet




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :