Air minum dalam kemasan mengandung nanoplastik (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Polusi plastik tidak hanya terjadi di permukaan air. Plastik dapat terurai menjadi fragmen yang sangat kecil dan menyebar ke sungai, danau, hingga akhirnya masuk ke dalam air yang kita konsumsi setiap hari.
Penelitian terbaru yang dikutip dari Earth pada Rabu (4/2) menunjukkan bahwa air minum dalam kemasan, yang kerap dianggap lebih bersih dan aman, justru mengandung jauh lebih banyak partikel plastik berukuran sangat kecil dibandingkan air keran.
Dalam studi ini, para ilmuwan menggunakan pendekatan deteksi baru yang lebih sensitif sehingga mampu menemukan partikel paling kecil, yakni nanoplastik.
Selama ini, nanoplastik sering luput dari penelitian karena ukurannya yang terlalu kecil untuk diukur dengan metode konvensional.
Ukuran partikel plastik menjadi hal penting karena mikroplastik dan nanoplastik terbentuk dari proses degradasi sampah plastik yang lebih besar. Fragmen ini kini sudah ditemukan hampir di seluruh lingkungan, termasuk di sumber-sumber air minum.
Jika mikroplastik sudah lama menjadi perhatian, nanoplastik dinilai lebih mengkhawatirkan karena ukurannya jauh lebih kecil, lebih sulit terdeteksi, dan berpotensi lebih mudah masuk ke dalam jaringan tubuh manusia.
Para peneliti menegaskan bahwa gambaran risiko kesehatan akibat paparan nanoplastik memang belum sepenuhnya dipahami. Namun, kekhawatiran muncul karena partikel sangat kecil ini kemungkinan lebih mampu melewati penghalang biologis dibandingkan plastik berukuran lebih besar.
“Walaupun kita belum sepenuhnya memahami risiko kesehatan manusia terkait paparan nanoplastik, tetap lebih baik untuk mengurangi risiko itu karena bukti menunjukkan partikel ini dapat menimbulkan masalah,” ujar Megan Hart, mahasiswa doktoral di Ohio State University sekaligus penulis utama studi tersebut.
Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang kandungan plastik dalam air sehari-hari, tim peneliti menganalisis sampel dari empat instalasi pengolahan air minum di sekitar Danau Erie. Hasilnya kemudian dibandingkan dengan enam merek air minum dalam kemasan.
Ternyata, sampel air kemasan mengandung sekitar tiga kali lebih banyak partikel nanoplastik dibandingkan air keran yang sudah melalui proses pengolahan.
Meski begitu, para ilmuwan mengingatkan bahwa hasil ini tidak berarti semua air botolan di dunia selalu lebih buruk daripada air keran. Namun penelitian ini menekankan bahwa air kemasan tidak otomatis menjadi pilihan yang lebih bersih dai paparan partikel plastik.
Salah satu alasan nanoplastik jarang dibahas dalam penelitian sebelumnya ialah karena partikel ini sangat sulit terdeteksi. Untuk mengatasinya, tim menggunakan kombinasi teknologi pencitraan resolusi tinggi dan identifikasi kimia, seperti scanning electron microscopy serta optical photothermal infrared spectroscopy.
Metode gabungan ini memungkinkan peneliti menemukan partikel berukuran sangat kecil dan tidak sekadar mengelompokkan semuanya dalam kategori mikroplastik yang lebih umum.
Lalu, apakah temuan ini berarti masyarakat harus berhenti membeli air kemasan? Megan Hart menekankan bahwa pesannya bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan membantu orang membuat pilihan realistis untuk mengurangi paparan harian.
Penelitian ini juga menemukan bahwa sumber nanoplastik dalam air kemasan kemungkinan besar berasal dari kemasan itu sendiri, baik dari botol, tutup, maupun proses produksi dan distribusi yang dapat melepaskan partikel plastik halus.
Sementara itu, sumber partikel plastik dalam air keran lebih sulit dipastikan. Namun para peneliti melaporkan bahwa lebih dari setengah partikel yang terdeteksi secara keseluruhan justru merupakan nanoplastik, menunjukkan betapa mudahnya fragmen ini muncul bahkan setelah proses pengolahan.
Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Science of The Total Environment.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
nanoplastik air minum air kemasan plastik mikroplastik kesehatan tubuh























