Selasa, 03/02/2026 20:32 WIB

Studi: Pelukan Virtual Terbukti Redakan Sedih dari Jarak Jauh





Pelukan identik dengan sentuhan fisik. Seiring dengan berkembangnya teknologi, kini muncul istilah pelukan virtual yang dilakukan sepenuhnya di ruang digital

Pemimpin oposisi Venezuela Maria Corina Machado terlihat di layar laptop saat konferensi pers virtual dengan media asing, di Caracas, Venezuela, 5 September 2024. REUTERS

Jakarta, Jurnas.com - Pelukan identik dengan sentuhan fisik. Seiring dengan berkembangnya teknologi digital, kini muncul istilah pelukan virtual yang dilakukan sepenuhnya di ruang digital.

Dikutip dari Earth pada Selasa (3/2), studi terbaru menunjukkan bahwa otak manusia tetap merespons pelukan sebagai bentuk dukungan sosial, bahkan ketika pelukan itu hanya terjadi di antara dua avatar di gim daring atau media sosial.

Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Ke Ma dari Southwest University dengan memanfaatkan lingkungan virtual imersif. Para peserta diminta berinteraksi dengan sosok virtual yang terlihat jelas, lalu melakukan simulasi pelukan di dalam dunia digital tersebut.

Hasilnya, peserta mengalami penurunan rasa sedih yang terukur, meskipun mereka sepenuhnya sadar bahwa interaksi tersebut tidak nyata secara fisik. Temuan ini memisahkan pengalaman emosional dari kebutuhan akan sentuhan langsung.

Secara biologis, pelukan memang dikenal mampu menenangkan tubuh. Survei pada 2025 terhadap lebih dari 3.000 orang dewasa menunjukkan bahwa pelukan harian berkaitan dengan kesehatan mental yang lebih baik. Pelukan dapat menurunkan ketegangan dengan memengaruhi sistem saraf otonom yang mengatur respons stres.

Ketika pandemi membatasi kontak fisik, banyak orang kehilangan mekanisme sederhana ini. Percakapan digital tetap berlangsung, tetapi sentuhan yang menenangkan hilang. Pelukan virtual muncul sebagai upaya untuk mengisi celah tersebut.

Dalam eksperimen laboratorium, rasa sedih sengaja dipicu dengan menampilkan film pendek bernuansa emosional. Peserta kemudian menilai suasana hati mereka dan dipantau melalui respons konduktansi kulit, yaitu perubahan kecil pada kulit yang berkaitan dengan aktivitas kelenjar keringat akibat stres emosional.

Pendekatan ini memungkinkan peneliti melihat perubahan emosi secara subjektif dan fisiologis sekaligus. Hasilnya menunjukkan bahwa pelukan virtual dapat menurunkan tanda-tanda stres bersamaan dengan perbaikan perasaan.

Menariknya, efek tersebut hanya muncul ketika peserta merasa sedang memeluk seseorang, bukan sekadar melakukan gerakan memeluk tanpa target. Melihat sosok virtual sebagai penerima pelukan membuat otak menafsirkan tindakan itu sebagai dukungan sosial.

Isyarat visual ternyata lebih penting dibandingkan simulasi sentuhan. Umpan balik haptik dari sarung tangan atau kontroler tidak menjadi faktor utama. Apa yang dilihat peserta, seperti gerakan tubuh dan keberadaan figur lain, lebih menentukan efek emosionalnya.

Pelukan virtual juga tidak harus melibatkan sosok yang dikenal. Wajah familiar atau kemiripan avatar dengan peserta tidak meningkatkan efek kenyamanan. Ini menunjukkan bahwa pelukan berfungsi sebagai sinyal sosial umum, bukan pengingat akan orang tertentu.

Sudut pandang juga berperan besar. Ketika peserta melihat pelukan dari sudut pandang orang pertama, seolah-olah mereka berada di dalam tubuh virtual, rasa memiliki terhadap tindakan itu meningkat dan efek pengaturan emosi menjadi lebih kuat.

Para peneliti menyebut proses ini sebagai embodiment, yaitu sensasi bahwa tubuh virtual adalah bagian dari diri sendiri. Ketika otak menerima gerakan dan visual yang selaras, rasa kontrol meningkat dan perasaan sedih dapat berkurang.

Meski menjanjikan, pelukan virtual bukan pengganti perawatan kesehatan mental. Penelitian ini hanya melibatkan perempuan dan berfokus pada kesedihan ringan yang dipicu dalam waktu singkat, bukan depresi atau trauma jangka panjang.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Applied Psychology: Health and Well-Being.

KEYWORD :

pelukan virtual kesehatan mental emosi manusia




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :