Minggu, 01/02/2026 18:29 WIB

Fenomena Nyaman Curhat ke AI, Begini Fakta di Baliknya





Banyak chatbot AI sudah mampu merespons curhatan dengan empati, kehangatan, dan refleksi personal, sehingga percakapannya terasa semakin mirip manusia.

Ilustrasi curhat ke AI (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Seiring waktu berjalan, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini tak lagi sekadar menjawab pertanyaan faktual. Banyak chatbot AI sudah mampu merespons dengan empati, kehangatan, dan refleksi personal, sehingga percakapannya terasa semakin mirip manusia.

Lalu, apakah kedekatan emosional bisa terbentuk dengan AI, bahkan menyerupai hubungan antarmanusia?

Selama ini, psikologi menganggap keintiman hanya muncul lewat interaksi manusia yang melibatkan kerentanan dan risiko emosional. Namun, penelitian baru menunjukkan anggapan tersebut mulai bergeser.

Tim peneliti dari University of Freiburg menguji kemungkinan teori klasik tentang pembentukan hubungan sosial manusia masih berlaku, ketika salah satu pihak dalam percakapan adalah AI.

Dalam psikologi, kedekatan sering dijelaskan melalui social penetration theory. Teori ini menyebut bahwa hubungan menjadi semakin dekat ketika percakapan bergerak dari topik ringan menuju topik pribadi dan emosional.

Teori lain, social exchange theory, menekankan timbal balik. Ketika satu pihak terbuka secara emosional, pihak lain cenderung membalas dengan keterbukaan yang sama, sehingga rasa kedekatan tumbuh.

Penelitian ini melibatkan hampir 500 partisipan yang mengikuti percakapan daring dengan struktur pertanyaan bertahap. Awalnya, percakapan membahas topik sehari-hari, lalu berlanjut ke pengalaman hidup dan hubungan pribadi.

Sebagian percakapan menggunakan jawaban dari manusia, sementara sebagian lain menggunakan respons yang dihasilkan oleh chatbot AI. Dalam beberapa kasus, partisipan tidak tahu apakah lawan bicaranya manusia atau AI.

Setelah percakapan selesai, peserta diminta menilai seberapa dekat secara emosional mereka merasa dengan lawan bicara tersebut, sebagaimana dikutip dari Earth pada Minggu (2/1).

Hasilnya, respons AI dianggap berasal dari manusia, tingkat kedekatan emosional yang dirasakan setara, bahkan kadang lebih tinggi, dibanding percakapan dengan manusia sungguhan.

"Kami terkejut bahwa AI bisa menciptakan keintiman yang lebih kuat, terutama dalam topik emosional," kata pemimpin studi, Dr. Bastian Schiller dari Heidelberg University.

Salah satu faktor kuncinya ialah keterbukaan diri. Chatbot AI cenderung memberikan respons yang lebih terbuka dan personal, sehingga mendorong partisipan untuk ikut berbagi secara jujur.

Sebaliknya, manusia sering lebih berhati-hati saat berbicara dengan orang asing karena takut dihakimi. AI tidak membawa risiko emosional tersebut, sehingga percakapan terasa lebih aman.

Namun, efek ini berubah ketika partisipan mengetahui bahwa mereka berbicara dengan AI. Rasa kedekatan menurun, jawaban menjadi lebih singkat, dan keterlibatan emosional melemah.

Meski begitu, sebagian ikatan tetap terbentuk. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai antropomorfisme, yaitu kecenderungan manusia memperlakukan mesin yang responsif secara sosial layaknya makhluk sosial.

Temuan ini menunjukkan potensi AI sebagai pendukung kesehatan mental, edukasi emosional, dan pendamping bagi orang yang mengalami kesepian atau keterbatasan sosial.

Di sisi lain, peneliti mengingatkan adanya risiko manipulasi emosional apabila AI menyembunyikan identitasnya atau digunakan tanpa transparansi.

"Cara kita merancang dan mengatur teknologi ini akan menentukan apakah AI menjadi pelengkap hubungan sosial yang sehat, atau justru alat manipulasi emosional," ujar Schiller.

Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Communications Psychology.

KEYWORD :

AI dan emosi chatbot kecerdasan buatan hubungan manusia AI curhat ke AI




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :