Tim mahasiswa Universitas Paramadina merilis sebuah film dokumenter bertema coexistence atau hidup berdampingan. (Foto: Jurnas/Ist).
Jakarta, Jurnas.com- Tim mahasiswa Universitas Paramadina merilis sebuah film dokumenter bertema coexistence atau hidup berdampingan melalui platform YouTube. Proyek ini merupakan bagian dari kolaborasi dengan Manara, Uni Emirat Arab, yang bertujuan memperkenalkan kepada audiens internasional bahwa Indonesia adalah negara dengan keragaman suku, agama, dan budaya yang telah lama hidup berdampingan dalam kehidupan sehari-hari.
Dokumenter ini menampilkan potret Indonesia sebagai ruang sosial yang plural, di mana perbedaan bukan hanya diakui, tetapi dijalani secara nyata. Namun, film ini tidak berhenti pada narasi harmoni semata. Ia juga mengajak penonton untuk melihat kerukunan sebagai proses yang terus diusahakan, bukan kondisi yang muncul tanpa sejarah.
Bryan Aurelius, salah satu pengunjung yang diwawancarai dalam dokumenter, menilai bahwa kondisi kerukunan di Indonesia saat ini berada pada tahap yang cukup baik, meski tidak lepas dari tantangan.
“Untuk sekarang menurutku bisa dibilang cukup oke. Kita punya track record yang cukup baik dalam hal kerukunan beragama. Aku lihat juga cukup banyak teman-teman dari agama lain yang saling respect. Tapi tentunya kita juga punya sejarah panjang yang bisa dipelajari, termasuk konflik beragama dan konflik etnis, yang ke depannya bisa diperbaiki sebagai agenda untuk menjaga keharmonisan di Indonesia,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa coexistence di Indonesia bukanlah sesuatu yang terjadi secara instan. Sejarah mencatat berbagai konflik berbasis agama dan etnis yang pernah terjadi di masa lalu. Namun, melalui proses refleksi, dialog, dan upaya bersama, masyarakat Indonesia terus belajar untuk membangun kehidupan yang lebih inklusif dan saling menghargai.
Perspektif ini juga diperkuat oleh I Gede Wiyadnya, seorang Hindu lay priest (Pinandita) yang melayani di Pura Aditya Jaya, Jakarta Timur. Ia menjelaskan bahwa ruang keagamaan di Indonesia sering kali memiliki fungsi sosial yang melampaui ibadah semata.
“Pura Aditya Jaya bukan hanya tempat ibadah. Ia juga berfungsi sebagai tempat kegiatan sosial masyarakat, silaturahmi, pendidikan, dan kebudayaan. Bagi masyarakat Hindu Bali, ini dikenal sebagai tempat simrame, ruang untuk bertemu dan mempererat hubungan sosial,” jelasnya.
Melalui dokumenter ini, tim mahasiswa Universitas Paramadina berharap dapat menghadirkan gambaran Indonesia yang lebih utuh kepada dunia internasional bahwa hidup berdampingan bukan berarti tanpa perbedaan atau konflik, melainkan kemampuan untuk belajar dari masa lalu dan terus merawat keharmonisan di tengah keberagaman.
Dokumenter ini mengambil lokasi di sejumlah ruang ibadah dan kawasan bersejarah di Jakarta yang merepresentasikan keberagaman agama dan budaya. Lokasi pengambilan gambar meliputi Masjid Istiqlal, Gereja Katedral Jakarta, Pura Adhitya Jaya Rawamangun, kawasan Glodok (Pecinan Jakarta), serta Gurdwara Guru Nanak Sikh Temple Jakarta.
Pemilihan lokasi-lokasi tersebut merefleksikan bagaimana ruang keagamaan dan ruang sosial di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang interaksi, kegiatan sosial, pendidikan, dan pertukaran budaya lintas komunitas.
Melalui pemilihan lokasi-lokasi ini, dokumenter Sunday Diversity menampilkan bagaimana ruang ibadah dan ruang sosial di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual keagamaan, tetapi juga sebagai titik temu lintas budaya, dialog, dan kehidupan bersama. Film dokumenter ini kini dapat disaksikan melalui kanal YouTube Sunday Diversity, yang dikelola oleh tim mahasiswa Universitas Paramadina.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Mahasiswa Paramadina film dokumenter bertema coexistence




















