Peneliti menguji kemungkinan oksigen terbentuk di lautan dalam tanpa sinar matahari (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Para ilmuwan sedang memburu sebuah misteri besar di salah satu wilayah paling gelap dan sulit dijangkau di Bumi, yakni dasar Samudra Pasifik.
Di tempat yang selama ini dianggap hampir mustahil menghasilkan oksigen secara alami, para peneliti justru menemukan sinyal oksigen yang tidak terduga dan berpotensi mengubah pemahaman ilmiah tentang cara oksigen terbentuk.
Temuan mengejutkan ini mendorong ekspedisi lanjutan ke Clarion-Clipperton Zone, sebuah kawasan laut dalam yang dikenal luas sebagai target pertambangan dasar laut. Wilayah ini berupa dataran luas dan relatif datar di Samudra Pasifik, yang dipenuhi nodul polimetalik kaya logam bernilai ekonomi tinggi.
Dikutip dari Earth pada Kamis (29/1), penelitian ini dipimpin oleh Profesor Andrew Sweetman, ilmuwan kelautan yang telah bertahun-tahun mencatat sinyal oksigen aneh dari dasar laut.
Dalam beberapa pengukuran sebelumnya, oksigen terdeteksi meningkat dari area lumpur laut yang tertutup rapat, sebuah hasil yang bertentangan dengan teori mapan tentang proses kimia dan biologis di laut dalam.
Di Scottish Association for Marine Science (SAMS), tim peneliti kini menyiapkan perangkat pendarat laut dalam khusus yang dirancang untuk bertahan di kedalaman ekstrem. Tekanan yang sangat tinggi dan kegelapan total menjadikan setiap kesalahan teknis berpotensi fatal bagi eksperimen ilmiah yang dilakukan.
Sinyal oksigen yang memicu perdebatan ini pertama kali muncul ketika para peneliti menutup sebagian dasar laut dengan ruang eksperimen tertutup. Alih-alih menurun akibat respirasi organisme laut, kadar oksigen justru meningkat dan bertahan hingga hampir dua hari, bahkan mencapai tiga kali lipat dari kadar latar belakang normal.
Dalam beberapa pengukuran, permukaan nodul logam menunjukkan tegangan listrik hingga 0,95 volt. Fenomena ini kemudian disebut para peneliti sebagai `dark oxygen`, yakni oksigen yang terbentuk tanpa bantuan cahaya matahari atau fotosintesis, sesuatu yang selama ini dianggap hampir mustahil terjadi secara alami.
Profesor Sweetman menyebut penemuan ini sebagai perubahan paradigma besar dalam pemahaman tentang laut dalam dan kemungkinan asal-usul kehidupan. Namun, ia juga menegaskan bahwa temuan tersebut justru memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, sehingga perlu pengujian ulang dengan kontrol yang jauh lebih ketat.
Di dasar laut, nodul polimetalik menciptakan permukaan keras di tengah lumpur halus. Permukaan ini menjadi tempat melekatnya anemon laut, spons, dan organisme lainnya, sementara mikroba membentuk lapisan tipis yang aktif secara kimia di sekelilingnya. Keberadaan oksigen atau hidrogen sekecil apa pun dapat mengubah dinamika ekosistem mikro tersebut.
Pengangkatan nodul melalui aktivitas pertambangan berpotensi menghilangkan tempat berlindung organisme dan mengganggu keseimbangan kimia lokal. Jika nodul ternyata juga berperan sebagai sumber oksigen, dampak ekologisnya bisa jauh lebih besar daripada yang selama ini diperkirakan.
Salah satu hipotesis utama menyebutkan bahwa perbedaan tegangan listrik di lapisan logam nodul dapat memicu arus listrik kecil. Arus ini diduga mampu memecah molekul air melalui proses elektrolisis, menghasilkan hidrogen dan oksigen langsung di sekitar permukaan nodul.
Hipotesis ini dianggap cocok dengan data yang tidak merata, karena tidak semua ruang eksperimen menunjukkan produksi oksigen. Meski hanya terjadi secara sporadis, proses tersebut bisa signifikan di wilayah dengan konsentrasi nodul tinggi, terutama jika area tersebut akan ditambang.
Untuk menguji teori ini, SAMS mengembangkan alat pendarat laut baru bernama Alisa, yang dirancang untuk beroperasi hingga kedalaman hampir 11 kilometer. Alat ini dilengkapi sensor oksigen, hidrogen, tekanan, konduktivitas, dan kekeruhan air guna memastikan pengukuran yang saling menguatkan.
Dengan mengukur oksigen dan hidrogen secara bersamaan, para ilmuwan berharap dapat memastikan apakah proses pemecahan air benar-benar terjadi. Namun, tantangan teknis seperti pendaratan kasar atau sensor tersumbat tetap menjadi risiko besar, sehingga eksperimen akan diulang berkali-kali untuk memastikan validitas data.
Tim peneliti juga akan membawa sampel sedimen dan nodul ke laboratorium untuk dianalisis lebih lanjut. Analisis DNA akan digunakan untuk mengidentifikasi mikroba yang hidup di permukaan nodul, sementara pemeriksaan mikroskopis dan kimia akan menentukan apakah organisme tersebut membentuk koloni padat atau tersebar.
Temuan ini juga memiliki implikasi besar bagi pencarian kehidupan di luar Bumi. Selama ini, oksigen dianggap sebagai biosignature utama, atau penanda kuat adanya kehidupan. Jika oksigen dapat terbentuk tanpa cahaya matahari, maka keberadaannya tidak lagi cukup untuk menyimpulkan adanya kehidupan di planet lain.
Profesor Sweetman menyebut bahwa timnya telah berdiskusi dengan pakar NASA, yang menilai dark oxygen dapat mengubah cara ilmuwan memandang kemungkinan kehidupan di planet atau bulan yang tidak menerima cahaya langsung dari bintang induknya.
Studi ini telah dipublikasikan dalam jurnal Nature.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
oksigen laut dalam misteri dasar Samudra Pasifik dark oxygen


























