Kamis, 29/01/2026 17:27 WIB

Studi: Berita Hoaks Berulang Paksa Otak Bikin Pembenaran





Penelitian psikologi terbaru menunjukkan bahwa efek berita hoaks menjadi jauh lebih kuat ketika seseorang secara aktif memilih cerita palsu.

Ilustrasi pengguna media sosial membaca berita hoaks (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Berita atau kabar hoaks tak dapat dilepaskan dari media sosial (medsos). Meski kerap kali pengguna medsos menyadari bahwa berita tersebut tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, namun perlahan otak memaksa untuk melakukan pembenaran.

Dikutip dari Earth pada Kamis (29/1), penelitian psikologi terbaru menunjukkan bahwa efek ini menjadi jauh lebih kuat ketika seseorang secara aktif memilih cerita palsu atau informasi keliru, bukan hanya menerimanya secara pasif.

Dengan kata lain, hoaks yang kita klik sendiri memiliki peluang lebih besar untuk terasa benar dibandingkan hoaks yang sekadar lewat di layar tanpa disentuh.

Riset tersebut dipimpin oleh tim ilmuwan dari Ruhr University Bochum (RUB), Jerman. Para peneliti menelusuri bagaimana tindakan memilih informasi memengaruhi cara otak memproses dan menyimpannya.

Hasilnya menunjukkan bahwa konten yang dipilih sendiri cenderung tertanam lebih kuat di ingatan, sehingga ketika muncul kembali, terasa lebih akurat dan dapat dipercaya.

Dalam psikologi, fenomena ini dikenal sebagai truth effect atau efek kebenaran. Sejak lama, para peneliti mengetahui bahwa pernyataan yang diulang-ulang cenderung dinilai lebih benar, bahkan tanpa tambahan bukti.

Alasannya sederhana, informasi yang terasa familiar lebih mudah diproses oleh otak, sehingga menimbulkan kesan validitas yang menipu.

Efek kebenaran ini tidak bergantung pada emosi kuat atau upaya persuasi yang eksplisit, melainkan memengaruhi berbagai bidang, mulai dari fakta ringan, klaim produk, hingga isu politik dan kesehatan.

Artinya, siapapun berpotensi terpengaruh, terlepas dari tingkat pendidikan atau niat awal untuk bersikap kritis.

Untuk menguji peran klik dan pilihan aktif, tim RUB melakukan delapan eksperimen yang melibatkan 953 orang dewasa. Dalam tugas daring tersebut, peserta diminta memilih prompt atau topik sebelum melihat pernyataan lengkap. Sebagian topik ditentukan peneliti, sementara sebagian lain dipilih bebas oleh peserta sendiri.

Setelah itu, peserta diminta menilai kebenaran pernyataan yang berulang dan yang baru. Materinya mencakup fakta tentang burung kolibri lebah, dengan kalimat yang sengaja dibuat benar atau salah. Hasilnya konsisten, penilaian kebenaran meningkat paling tinggi ketika pernyataan berulang berasal dari topik yang sebelumnya dipilih sendiri oleh peserta.

Pemilihan topik ternyata tidak sekadar menentukan konten, tetapi juga mengarahkan perhatian. Tindakan memilih mendorong fokus mental yang lebih besar, menggunakan sumber daya kognitif lebih banyak, dan memperkuat jejak memori. Informasi yang dipilih aktif menjadi lebih mudah diingat dibandingkan informasi yang diterima secara pasif.

Psikolog Moritz Ingendahl, Ph.D., yang memimpin studi ini, menjelaskan bahwa pencarian informasi secara aktif menuntut kewaspadaan dan usaha mental yang lebih tinggi.

Akibatnya, informasi tersebut tersimpan lebih kuat dalam memori jangka panjang. Ketika klaim yang sama muncul kembali, otak menafsirkannya sebagai sesuatu yang familier dan, secara keliru, lebih benar.

Para peneliti juga menguji kemungkinan adanya bias seleksi, yakni dugaan bahwa orang hanya memilih topik yang sejak awal terasa masuk akal. Untuk menepis hal ini, topik dibuat konsisten antara pernyataan lama dan baru. Penilaian kebenaran tidak langsung melonjak setelah pemilihan, sehingga efeknya tidak bisa dijelaskan oleh reaksi instan yang saya pilih pasti benar.

Pola yang muncul justru mendukung penjelasan kognitif. Pemilihan aktif membuat seseorang memproses informasi lebih dalam, dan kedalaman pemrosesan inilah yang membuat pernyataan terasa lebih kredibel ketika diulang. Proses ini bekerja perlahan, tanpa disadari, dan semakin kuat seiring frekuensi kemunculan.

Dalam konteks media sosial, temuan ini menjadi sangat relevan. Platform digital memudahkan pengulangan konten, sehingga satu unggahan bisa muncul berkali-kali di berbagai linimasa.

Dalam salah satu eksperimen yang menggunakan judul berita palsu dari Facebook, satu kali paparan sebelumnya sudah cukup untuk membuat hoaks terasa lebih akurat, bahkan ketika ada label peringatan.

Penelitian lain menunjukkan bahwa konten yang terasa akurat lebih mungkin dibagikan. Jika pengguna terus memilih untuk membuka klaim yang sama, efek pengulangan menjadi berlipat ganda. Pilihan individu, yang tampak remeh, dapat mempercepat penyebaran informasi palsu dalam skala besar.

Namun, mekanisme yang sama juga membuka peluang bagi koreksi. Ketika seseorang secara sadar membuka tautan pemeriksaan fakta, perhatian ekstra dapat membantu informasi yang benar melekat lebih kuat di ingatan. Jika koreksi muncul di tempat yang sama dengan klaim awal, kesenjangan paparan dapat diperkecil.

Meski demikian, eksperimen ini memiliki keterbatasan. Materi yang digunakan sebagian besar berupa trivia, sehingga tidak memicu keyakinan emosional yang kuat. Pilihan yang diberikan juga sangat sederhana dibandingkan realitas linimasa digital, dan algoritma, identitas sosial, serta emosi berperan besar.

Di dunia nyata, faktor-faktor tersebut dapat memperkuat atau justru melemahkan efek pilihan dan pengulangan, terutama pada isu sensitif seperti politik dan kesehatan. Oleh karena itu, penelitian lanjutan diperlukan untuk memahami bagaimana kepercayaan terbentuk di luar laboratorium.

Studi ini dipublikasikan dalam Journal of Experimental Psychology: General.

KEYWORD :

hoaks terasa benar efek pengulangan informasi psikologi klik digital




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :