Kamis, 29/01/2026 15:40 WIB

Blueberry Liar Terbukti Ampuh Jaga Kesehatan Jantung





Blueberry liar selama ini dikenal sebagai buah kecil kaya antioksidan, namun temuan ilmiah terbaru menunjukkan perannya terhadap kesehatan tubuh

Blueberry liar (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Blueberry liar selama ini dikenal sebagai buah kecil kaya antioksidan, namun temuan ilmiah terbaru menunjukkan perannya terhadap kesehatan tubuh jauh lebih spesifik dan terukur.

Dampak paling konsisten dari konsumsi blueberry liar ternyata muncul pada pembuluh darah, bahkan sebelum terlihat pada kadar gula darah, kolesterol, atau penanda metabolik lainnya.

Penelitian ilmiah terbaru menunjukkan bahwa blueberry liar memiliki efek paling kuat dan berulang pada fungsi vaskular, yakni kemampuan pembuluh darah untuk merespons dan mengatur aliran darah.

Dikutip dari Earth pada Kamis (29/1), para peneliti dari Florida State University menggabungkan berbagai uji klinis jangka panjang dan menemukan pola yang konsisten.

Konsumsi blueberry liar secara rutin terbukti meningkatkan respons pembuluh darah pada beragam kelompok usia dan kondisi kesehatan, baik dalam jangka pendek maupun setelah konsumsi berkelanjutan.

Menariknya, efek ini tidak selalu membutuhkan waktu lama. Dalam beberapa studi, peningkatan fungsi pembuluh darah terlihat hanya dalam hitungan jam setelah konsumsi, sementara pada penelitian lain manfaatnya muncul secara bertahap seiring konsumsi rutin. Konsistensi inilah yang membuat sistem peredaran darah menjadi fokus utama dalam memahami dampak kesehatan blueberry liar.

Pembuluh darah memiliki lapisan tipis bernama endotelium yang berperan mengatur kapan pembuluh darah mengendur dan menyempit. Blueberry liar kaya akan polifenol, senyawa tanaman yang diketahui mendukung sinyal nitrat oksida dan menurunkan stres oksidatif, dua faktor penting agar pembuluh darah tetap lentur dan responsif.

Menurut Dr. Sarah Johnson, ilmuwan gizi yang memimpin studi tersebut, keistimewaan blueberry liar terletak pada banyaknya jenis polifenol dan nutrisi yang bekerja melalui berbagai jalur biologis. Artinya, manfaat kesehatan blueberry tidak bergantung pada satu mekanisme tunggal, melainkan hasil dari interaksi kompleks dalam tubuh.

Selain pembuluh darah, sistem pencernaan juga memainkan peran penting. Sebagian besar polifenol dalam blueberry tidak langsung diserap tubuh, melainkan diteruskan ke usus besar. Di sana, mikrobioma usus memecah senyawa tersebut menjadi metabolit aktif yang kemudian masuk ke aliran darah.

Tinjauan ilmiah menunjukkan hanya sekitar 5 hingga 10 persen polifenol yang diserap sebelum mencapai usus besar. Sisanya diolah oleh bakteri usus dan dapat menyumbang hingga 40 persen dari senyawa aktif yang berperan dalam efek kesehatan. Proses ini membantu menjelaskan mengapa respons tubuh terhadap konsumsi blueberry bisa berbeda antarindividu.

Sebuah uji coba terkontrol kecil mendukung temuan ini. Dalam studi tersebut, orang dewasa mengonsumsi sekitar satu ons bubuk blueberry beku-kering setiap hari selama enam minggu. Hasil analisis feses menunjukkan peningkatan bakteri Bifidobacterium, kelompok mikroba yang berperan dalam pencernaan serat dan kesehatan usus.

Meski hasilnya menjanjikan, peneliti mengakui ukuran sampel masih terbatas. Studi berskala lebih besar diperlukan untuk memastikan apakah perubahan mikrobioma ini benar-benar berdampak langsung pada kesehatan jantung dan metabolisme dalam jangka panjang.

Manfaat blueberry liar juga terlihat pada pengendalian gula darah. Dalam uji acak terkontrol, konsumsi senyawa bioaktif blueberry dikaitkan dengan peningkatan sensitivitas insulin, yaitu kemampuan sel merespons insulin dan menyerap glukosa dari darah dengan lebih efisien. Perubahan kecil ini penting karena dapat mengurangi beban kerja pankreas sebelum diabetes berkembang.

Namun, efek terhadap tekanan darah menunjukkan hasil yang lebih beragam. Beberapa studi menemukan peningkatan kadar nitrat oksida dan penurunan tekanan darah sistolik setelah konsumsi jus blueberry liar, meski hasilnya belum selalu signifikan secara statistik. Peneliti menilai durasi studi yang singkat bisa menjadi penyebabnya.

Dampak peredaran darah juga tampaknya menjangkau otak. Dalam studi selama enam bulan, lansia dengan gangguan kognitif ringan menunjukkan peningkatan kecepatan pemrosesan informasi setelah rutin mengonsumsi blueberry liar. Hal ini sejalan dengan teori bahwa aliran darah yang lebih baik membantu pasokan oksigen dan glukosa ke jaringan otak.

Meski bukan obat untuk demensia, temuan ini mengisyaratkan bahwa perbaikan vaskular yang terjadi di tubuh mungkin juga memberi manfaat pada fungsi otak. Efeknya tentu bergantung pada banyak faktor lain, termasuk pola makan keseluruhan, kualitas tidur, dan kondisi kesehatan individu.

Para peneliti juga menekankan bahwa tidak semua bentuk blueberry bekerja dengan cara yang sama. Sebagian besar manfaat muncul dari konsumsi rutin dalam porsi wajar, sekitar satu cangkir per hari. Bentuk olahan seperti bubuk atau jus bisa memengaruhi kecepatan penyerapan dan efek metabolik, sehingga tidak bisa dianggap setara begitu saja.

Variasi respons individu menjadi sorotan penting dalam kajian ini. Kondisi awal kesehatan, penggunaan obat, dan komposisi mikrobioma usus memengaruhi seberapa besar manfaat yang dirasakan. Karena itu, pendekatan nutrisi presisi yang disesuaikan dengan individu dinilai semakin relevan.

Dalam konteks tersebut, blueberry liar tampak paling meyakinkan sebagai pangan yang secara halus namun konsisten memperbaiki sirkulasi darah dan kesehatan usus, dengan efek lanjutan pada metabolisme dan fungsi kognitif. Peneliti mendorong studi lanjutan jangka panjang untuk mengetahui siapa yang paling diuntungkan dan dalam kondisi apa.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Critical Reviews in Food Science and Nutrition.

KEYWORD :

manfaat blueberry liar kesehatan jantung alami fungsi pembuluh darah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :