Kamis, 29/01/2026 15:40 WIB

Bagaimana Cara Penguin Menghangatkan Tubuh di Lingkungan Ekstrem?





Penguin dikenal sebagai burung laut yang mampu bertahan di salah satu lingkungan paling dingin di Bumi

Penguin sehabis berenang di air dingin (Foto: Nate)

Jakarta, Jurnas.com - Penguin dikenal sebagai burung laut yang mampu bertahan di salah satu lingkungan paling dingin di Bumi. Di tengah suhu beku dan angin ekstrem, tubuh penguin tetap hangat berkat serangkaian adaptasi biologis yang terbentuk selama jutaan tahun evolusi.

Perlindungan utama penguin berasal dari struktur bulunya yang unik. Bulu-bulu pendek dan kaku tersusun sangat rapat, membentuk lapisan kedap air sekaligus menjebak udara hangat di dekat kulit.

Dikutip dari berbagai sumber, lapisan udara ini berfungsi sebagai isolator alami yang efektif. Bahkan saat berenang di perairan es, panas tubuh penguin tidak mudah hilang karena udara terperangkap di antara bulu dan kulit.

Di bawah bulu, penguin memiliki lapisan lemak tebal yang dikenal sebagai blubber. Lapisan ini membantu mempertahankan suhu tubuh sekaligus menjadi cadangan energi ketika makanan sulit diperoleh.

Blubber berperan penting saat penguin berada di air, karena air dingin menyerap panas jauh lebih cepat dibanding udara. Kombinasi bulu dan lemak membuat tubuh penguin tetap stabil di lingkungan ekstrem.

Bagian tubuh yang paling rentan kehilangan panas adalah kaki. Kulit kaki penguin tidak berbulu dan sering bersentuhan langsung dengan es atau air dingin.

Untuk mengatasinya, penguin memiliki sistem peredaran darah khusus yang disebut pertukaran panas berlawanan arah. Pembuluh darah arteri dan vena di kaki tersusun berdekatan sehingga panas dari darah hangat yang keluar memanaskan darah dingin yang kembali ke tubuh.

Mekanisme ini menjaga suhu inti tubuh tetap stabil tanpa menghentikan aliran darah ke kaki. Dengan cara tersebut, penguin dapat berdiri di atas es tanpa kehilangan panas secara berlebihan.

Selain adaptasi fisik, penguin juga mengandalkan perilaku sosial untuk bertahan dari dingin. Spesies seperti penguin kaisar membentuk kelompok besar yang saling berdesakan saat badai Antarktika melanda.

Dalam formasi ini, penguin berbagi panas tubuh dan bergantian berada di bagian luar kelompok. Pola tersebut memastikan tidak ada individu yang terpapar angin dan suhu ekstrem terlalu lama.

Postur tubuh juga berperan dalam menjaga kehangatan. Saat suhu turun drastis, penguin menarik kepala ke bahu dan mendekatkan sirip ke tubuh untuk mengurangi permukaan yang terkena udara dingin.

Di daratan, penguin berdiri di atas tumit dan ekor agar telapak kaki tidak menyentuh es secara langsung. Strategi sederhana ini membantu mengurangi kehilangan panas dari bagian tubuh bawah.

Seluruh mekanisme ini menunjukkan bahwa kemampuan penguin bertahan di suhu dingin bukanlah kebetulan. Tubuh dan perilaku mereka merupakan hasil adaptasi presisi terhadap lingkungan laut dan es yang ekstrem.

Namun keseimbangan ini kini menghadapi tantangan baru. Perubahan iklim dan mencairnya es laut mengancam habitat penguin, membuat sistem alami yang selama ini menjaga kehangatan mereka menjadi semakin rapuh. (*)

KEYWORD :

Kehidupan Penguin Suhu Dingin Lingkungan Ekstrem Evolusi Penguin Habitat Penguin




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :