Hutan di China bagian selatan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - China menjadi salah satu negara yang paling serius dalam mengembalikan fungsi hutan. Di China bagian selatan dengan kontur berbukit dan berlembah, hutan pulih secara alami ditambah hutan tanaman yang dikelola secara ketat.
Selama bertahun-tahun, para peneliti tahu bahwa hutan di kawasan ini bertambah luas dan tumbuh. Namun, membuktikan pertumbuhan itu secara konsisten dari tahun ke tahun dan dekade ke dekade adalah tantangan besar.
Dalam konteks inilah tinggi kanopi hutan atau bagian atas hutan menjadi indikator penting. Tinggi pohon bukan sekadar angka teknis, melainkan cerminan dari umur hutan, jumlah biomassa, dan kapasitas penyimpanan karbon.
Dikutip dari Earth pada Rabu (28/1), pohon yang lebih tinggi umumnya menandakan hutan yang lebih tua, lebih stabil, dan menyimpan lebih banyak karbon dibandingkan hutan muda.
Sayangnya, sebagian besar peta hutan global hanya memberikan gambaran sesaat. Peta menangkap satu momen, lalu berpindah ke wilayah lain. Survei lapangan memang sangat akurat, tetapi mahal, memakan waktu, dan sulit dilakukan di area luas dengan medan yang berat. Akibatnya, terdapat celah informasi besar justru pada aspek yang paling dibutuhkan untuk perencanaan jangka panjang.
Untuk menutup celah tersebut, tim peneliti dari Chinese Academy of Sciences, University of Copenhagen, dan sejumlah lembaga mitra memilih pendekatan berbeda. Alih-alih hanya melihat kondisi terkini, peneliti menoleh ke masa lalu dengan memanfaatkan arsip panjang citra satelit.
Para peneliti mengumpulkan data Landsat sejak tahun 1986 untuk membangun peta tahunan tinggi kanopi hutan di China selatan. Setiap piksel peta mewakili area sekitar 30 meter di permukaan tanah, memungkinkan analisis yang cukup rinci dalam skala regional yang sangat luas.
Teknologi pembelajaran mesin digunakan untuk menerjemahkan perubahan halus pada cahaya dan warna citra satelit menjadi estimasi tinggi pohon. Untuk memastikan keakuratannya, hasil tersebut dibandingkan dengan data inventaris hutan nasional serta pengukuran lidar dari pesawat udara. Hasilnya menunjukkan tingkat kesalahan rata-rata hanya sekitar tiga meter, bahkan ketika hutan terus menua dan pola pengelolaan berubah.
Stabilitas metode ini membuat para peneliti mampu membandingkan kondisi hutan akhir 1980-an dengan hutan pada dekade 2010-an secara adil dan konsisten. Dari sinilah gambaran besar mulai terlihat dengan jelas.
Selama lebih dari tiga dekade, hutan di China selatan menunjukkan pertumbuhan yang stabil dan berkelanjutan. Rata-rata tinggi kanopi meningkat dari sekitar enam meter pada 1986 menjadi lebih dari sepuluh meter pada 2019, atau naik sekitar 61 persen. Angka ini mencerminkan perubahan struktural yang signifikan dalam ekosistem hutan.
Setelah tahun 2000, penyebaran hutan dengan kanopi tinggi meningkat jauh lebih cepat. Periode ini sejalan dengan program penanaman skala besar dan kebijakan perlindungan hutan yang lebih ketat. Hutan tanaman tumbuh relatif cepat, dengan rata-rata peningkatan tinggi sekitar 0,20 meter per tahun, sementara hutan sekunder tumbuh lebih lambat, sekitar 0,13 meter per tahun.
Namun, pertumbuhan cepat tidak selalu berarti hasil akhir yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, hutan sekunder justru melampaui hutan tanaman dalam hal tinggi kanopi. Pertumbuhannya lebih stabil dan jarang mengalami kemunduran tajam, berbeda dengan hutan tanaman yang menunjukkan pola naik-turun akibat siklus panen dan penanaman ulang.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa usia hutan merupakan faktor terpenting yang menentukan perubahan tinggi kanopi. Curah hujan dan suhu memang berpengaruh, tetapi perannya berada di bawah faktor umur. Kondisi tanah juga ikut menentukan batas maksimum tinggi pohon, namun tetap bukan faktor utama.
Temuan ini menegaskan bahwa keputusan manusia memiliki dampak besar terhadap struktur hutan. Pilihan jenis pohon, waktu penanaman, dan jadwal penebangan meninggalkan jejak jangka panjang yang kini dapat diikuti satelit dari tahun ke tahun. Dalam banyak kasus, pengelolaan harian ternyata lebih menentukan dibandingkan faktor iklim semata.
Peta jangka panjang ini juga menunjukkan pergeseran lanskap yang jelas. Jika pada akhir 1980-an dan 1990-an kawasan didominasi hutan berkanopi rendah, maka setelah tahun 2000, kanopi yang lebih tinggi dan rapat menjadi semakin umum. Pergeseran ini mencerminkan perubahan kebijakan dan prioritas ekonomi, bukan sekadar variasi cuaca.
Dampaknya tidak berhenti di China. Metode yang digunakan memanfaatkan arsip satelit global yang tersedia untuk banyak wilayah lain di dunia. Artinya, sejarah pertumbuhan hutan serupa dapat direkonstruksi di kawasan lain yang juga mengalami penanaman dan perlindungan intensif.
Kemampuan melacak tinggi hutan dalam jangka panjang mengubah cara keberhasilan restorasi dinilai. Pemerintah kini dapat mengevaluasi apakah program penghijauan benar-benar menghasilkan hutan dewasa dan berapa lama manfaatnya bertahan. Selain itu, estimasi karbon pun menjadi lebih akurat karena sangat bergantung pada ukuran dan umur pohon.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
hutan China selatan data satelit hutan tinggi kanopi hutan



















