Rabu, 28/01/2026 14:26 WIB

Suhu Global Melonjak Cepat, Hutan Terancam Kehilangan Fungsi





Hutan di wilayah pesisir Arktik pernah kehilangan fungsinya hanya dalam hitungan ratusan tahun, akibat lonjakan suhu global yang ekstrem.

Hutan kehilangan fungsi akibat pemanasan global yang berlangsung cepat (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Pemanasan global yang terjadi secara perlahan memberi waktu bagi alam untuk menyesuaikan diri. Namun ketika suhu bumi naik terlalu cepat, respons alam bisa sangat drastis.

Penelitian terbaru dari Laut Norwegia menunjukkan bahwa hutan di wilayah pesisir Arktik pernah kehilangan fungsinya hanya dalam hitungan ratusan tahun, akibat lonjakan suhu global yang ekstrem.

Dikutip dari Earth pada Rabu (28/1), saat pemanasan terjadi dengan cepat, hutan yang sebelumnya berfungsi sebagai penyimpan karbon justru berubah menjadi sumber pelepasan karbon ke atmosfer, sehingga memperparah pemanasan global.

Studi ini dipimpin oleh Mei Nelissen, peneliti doktoral dari Royal Netherlands Institute for Sea Research (NIOZ) dan Utrecht University. Timnya meneliti lapisan sedimen laut yang menyimpan jejak perubahan lingkungan jutaan tahun lalu, seperti serbuk sari, sisa tumbuhan, dan partikel arang dari kebakaran.

Data serbuk sari menunjukkan bahwa hutan konifer di dekat pantai Arktik mengalami keruntuhan cepat ketika kadar karbon dioksida di atmosfer melonjak. Pohon-pohon tidak mampu bertahan menghadapi kombinasi suhu tinggi dan kekurangan air, sehingga banyak yang mati dalam waktu relatif singkat.

Dalam kondisi tersebut, lahan kosong yang ditinggalkan pohon dengan cepat dikuasai oleh tumbuhan mirip pakis. Tanaman ini lebih tahan terhadap kondisi panas dan stres lingkungan.

Menurut Nelissen, perubahan ini terjadi dalam waktu maksimal sekitar 300 tahun sejak kenaikan CO₂ dimulai, dan dominasi pakis bertahan hingga ribuan tahun kemudian.

Hal ini menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem berjalan jauh lebih lambat dibandingkan kecepatan kerusakannya. Sekali hutan runtuh akibat pemanasan cepat, alam tidak serta-merta kembali seperti semula.

Pada periode yang sama, bukti lain muncul dari partikel arang kecil yang tersimpan di sedimen. Partikel ini berasal dari kebakaran hutan yang semakin sering terjadi. Ketika hutan terbakar, karbon yang tersimpan dalam kayu dan tanah dilepaskan ke udara dalam bentuk gas rumah kaca.

Kebakaran juga meninggalkan tanah dalam kondisi rapuh. Tanpa akar pohon dan penutup daun, hujan lebih mudah mengikis tanah dan membawanya ke laut. Lapisan sedimen menunjukkan lonjakan material lempung, tanda bahwa erosi daratan meningkat tajam selama periode pemanasan tersebut.

Sebagian tanah yang tererosi mengandung kerogen, yaitu materi organik purba yang terkunci dalam batuan sedimen selama jutaan tahun. Ketika material ini terpapar udara akibat erosi, mikroba dan reaksi kimia mulai menguraikannya, melepaskan karbon tambahan ke atmosfer.

Proses ini menciptakan apa yang disebut umpan balik positif iklim. Kerusakan hutan dan tanah melepaskan karbon, karbon mempercepat pemanasan, dan pemanasan memicu kerusakan lanjutan. Siklus ini dapat memperkuat perubahan iklim bahkan setelah pemicu awalnya mereda.

Peristiwa pemanasan ekstrem yang dikaji dalam penelitian ini dikenal sebagai Paleocene–Eocene Thermal Maximum (PETM), yang terjadi sekitar 56 juta tahun lalu. Pada masa itu, bumi mengalami lonjakan suhu global akibat pelepasan karbon dalam jumlah besar, meskipun sumber pastinya masih diperdebatkan.

Para ilmuwan menduga pemanasan tersebut dipicu oleh kombinasi aktivitas vulkanik dan pelepasan metana dari dasar laut. Metana adalah gas rumah kaca yang sangat kuat, dan pelepasannya dapat mempercepat pemanasan secara drastis.

Dampaknya tidak hanya terjadi di daratan. Sedimen laut menunjukkan penurunan tajam mineral karbonat di dasar laut, menandakan terjadinya pengasaman laut. Ketika laut menyerap terlalu banyak CO₂, air menjadi lebih asam dan menyulitkan organisme laut membentuk cangkang dan kerangka.

Beberapa organisme mampu beradaptasi, tetapi perubahan yang terlalu cepat dapat merusak rantai makanan laut secara luas. Ini menunjukkan bahwa pemanasan cepat berdampak serentak pada daratan dan lautan.

Jika dibandingkan dengan kondisi saat ini, laju emisi karbon manusia bahkan lebih cepat dibandingkan PETM. Menurut Nelissen, emisi CO₂ modern terjadi dua hingga sepuluh kali lebih cepat, meskipun laju kenaikan konsentrasi CO₂ di atmosfer pada masa lalu mirip dengan yang kita alami sekarang.

Perbandingan ini penting karena menunjukkan bahwa ekosistem modern mungkin menghadapi tekanan yang bahkan lebih besar. Ketika perubahan terjadi terlalu cepat, hutan dan tanah tidak memiliki cukup waktu untuk beradaptasi.

Meski penelitian ini hanya berfokus pada satu wilayah di Norwegia, para peneliti mencocokkan data tersebut dengan catatan dari wilayah lain. Hasilnya menunjukkan bahwa kehilangan fungsi hutan dan dominasi pakis terjadi hampir bersamaan di berbagai wilayah lintang menengah dan tinggi.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

KEYWORD :

pemanasan global cepat kehilangan fungsi hutan Paleocene Eocene




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :