Ilustrasi bandara dan pesawat (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Pesawat terbang masih menjadi bagian penting dari kehidupan modern. Banyak orang membutuhkan pesawat untuk bekerja, liburan, atau urusan keluarga. Sayangnya, emisi karbon dari penerbangan terus meningkat dan memberi tekanan besar pada iklim global.
Selama ini, solusi yang sering dibicarakan adalah bahan bakar ramah lingkungan atau skema penyeimbang karbon. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengurangan emisi besar sebenarnya bisa dicapai tanpa bahan bakar baru dan tanpa meminta orang berhenti terbang. Kuncinya ada pada cara maskapai mengatur pesawat, kursi, dan jadwal penerbangan.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Linnaeus University dan dipimpin oleh Profesor Stefan Gössling, seorang peneliti yang mempelajari hubungan antara perjalanan manusia, bisnis transportasi, dan dampaknya terhadap lingkungan. Fokus mereka bukan pada teknologi masa depan, melainkan pada keputusan sehari-hari yang sudah dibuat maskapai saat ini.
Menurut peneliti, dikutip dari Earth pada Selasa (27/1), banyak emisi penerbangan tidak berasal dari kebutuhan penumpang, tetapi dari pilihan desain dan pengelolaan penerbangan. Jika pilihan tersebut diubah, emisi karbon dari penerbangan penumpang bisa turun hingga 50 sampai 75 persen, tanpa mengurangi jumlah perjalanan.
Dalam analisisnya, para peneliti memperkirakan bahwa penerbangan penumpang global menghasilkan sekitar 637 juta ton CO₂ dari sekitar 27,5 juta penerbangan komersial. Angka ini dihitung dengan membandingkan emisi dengan jarak tempuh dan jumlah penumpang di setiap penerbangan.
Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat besar. Ada penerbangan yang hanya menghasilkan sekitar 0,11 pon CO₂ per penumpang per mil, sementara yang lain mencapai 3,2 pon CO₂ untuk jarak yang sama. Artinya, sebagian penerbangan sudah cukup efisien, sementara yang lain boros bahan bakar karena kursi kosong dan desain kabin.
Salah satu penyumbang emisi terbesar adalah kursi kelas bisnis dan kelas satu. Kursi-kursi ini memakan ruang jauh lebih besar, sehingga dalam satu pesawat, jumlah penumpang yang bisa dibawa menjadi lebih sedikit. Padahal, bahan bakar yang digunakan untuk lepas landas dan terbang tetap hampir sama.
Penelitian ini menemukan bahwa emisi per orang di kelas bisnis dan kelas satu bisa hingga lima kali lebih besar dibandingkan penumpang kelas ekonomi. Jika pesawat diisi dengan kursi yang lebih rapat, emisi per penumpang otomatis turun, meskipun total bahan bakar yang dipakai tidak banyak berubah.
Masalahnya, maskapai sering bergantung pada tiket mahal dari kelas premium untuk menutup biaya operasional. Karena itu, perubahan ini bukan hanya soal teknis, tetapi juga menyentuh strategi bisnis dan harga tiket.
Selain jenis kursi, jumlah kursi yang terisi juga sangat berpengaruh. Pesawat yang setengah kosong hampir membakar bahan bakar sebanyak pesawat yang penuh. Rata-rata keterisian kursi global saat ini sekitar 79 persen.
Jika angka ini dinaikkan menjadi 95 persen, emisi per penumpang bisa turun sekitar 16 persen secara global. Cara mencapainya biasanya dengan mengurangi jumlah penerbangan atau menggunakan pesawat yang lebih besar, yang tentu berdampak pada jadwal dan harga tiket.
Jenis pesawat juga memainkan peran penting. Pesawat generasi baru dirancang lebih hemat bahan bakar. Dalam studi ini, perbedaan emisi antar model pesawat bisa mencapai enam kali lipat, meskipun melayani rute yang mirip.
Pesawat seperti Boeing 787-9 dan Airbus A321neo tercatat mampu menghemat bahan bakar sekitar 25 hingga 28 persen dibandingkan model lama. Mengganti seluruh armada memang butuh waktu lama, tetapi mengatur pesawat yang lebih efisien untuk rute tertentu bisa langsung dilakukan.
Penelitian ini juga menemukan bahwa penerbangan paling tidak efisien sering terjadi di wilayah dengan pasar kecil, di mana pesawat tetap terbang meski penumpangnya sedikit. Amerika Serikat sendiri menyumbang sekitar 25 persen emisi penerbangan penumpang dunia, dengan tingkat emisi per penumpang sekitar 14 persen lebih tinggi dari rata-rata global.
Sebaliknya, negara seperti Brasil, India, dan kawasan Asia Tenggara terlihat lebih efisien secara keseluruhan. Sistem penerbangan berbasis hub, yaitu mengumpulkan penumpang di bandara besar sebelum diteruskan, sering membuat rute kecil tetap berjalan meski boros emisi.
Para peneliti menilai bahwa kebijakan publik bisa mendorong perubahan. Jika data efisiensi dibuka ke publik dan biaya bandara disesuaikan dengan tingkat emisi, maskapai akan terdorong bersaing menjadi lebih efisien.
Profesor Gössling menegaskan bahwa meskipun maskapai sering mengatakan penghematan bahan bakar menguntungkan secara ekonomi, kenyataannya banyak yang masih menggunakan pesawat lama, kursi premium berlebihan, dan tingkat keterisian rendah.
Penelitian ini juga menyoroti ketimpangan dalam penerbangan. Hanya sekitar 11 persen penduduk dunia yang naik pesawat dalam satu tahun, dan sekitar 1 persen di antaranya adalah penumpang yang terbang sangat sering. Kelompok kecil ini diperkirakan menyumbang lebih dari setengah emisi penerbangan penumpang.
Efisiensi memang membantu semua orang, tetapi perdebatan soal keadilan akan semakin besar ketika dampak iklim makin terasa dan hanya segelintir orang yang menikmati sebagian besar manfaat penerbangan.
Studi ini juga mengingatkan bahwa penerbangan tidak hanya memanaskan bumi lewat CO₂, tetapi juga lewat jejak uap air di langit atau contrail, yang bisa menahan panas selama berjam-jam. Karena efek ini juga bergantung pada jumlah bahan bakar yang dibakar, peningkatan efisiensi tetap sangat penting.
Kesimpulannya, pesawat yang lebih penuh, kursi yang lebih efisien, dan penempatan pesawat yang tepat bisa memangkas emisi besar-besaran sekarang juga. Langkah-langkah ini tidak akan langsung menghapus emisi sepenuhnya, tetapi bisa memberi waktu berharga sambil menunggu bahan bakar bersih dan teknologi baru berkembang.
Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
emisi penerbangan efisiensi maskapai desain pesawat

























