Selasa, 27/01/2026 14:38 WIB

NASA Siap Kembali ke Bulan, Astronot Dikirim pada 2028





NASA merencanakan eksplorasi Bulan, riset Bumi, pertahanan planet dari ancaman asteroid, serta pengembangan aeronautika generasi baru.

Penampakan Bulan dari Bumi [File: Luis Acosta / AFP]

Jakarta, Jurnas.com - Satu tahun setelah dimulainya masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat Donald J. Trump, NASA menyampaikan klaim bahwa laju kerja lembaga antariksa tersebut mengalami percepatan signifikan.

Dalam laporan terbarunya, NASA merencanakan eksplorasi Bulan, riset Bumi, pertahanan planet dari ancaman asteroid, serta pengembangan aeronautika generasi baru disebut sebagai contoh area yang kini bergerak lebih sinkron dibandingkan sebelumnya.

Di antara seluruh program tersebut, Artemis tetap ditempatkan sebagai poros utama. NASA kembali menegaskan pentingnya misi Artemis II, yaitu penerbangan berawak yang dirancang untuk membawa astronot mengorbit Bulan.

Misi ini diposisikan sebagai langkah pembuktian krusial sebelum Amerika Serikat benar-benar kembali menjejakkan kaki di permukaan Bulan setelah lebih dari setengah abad.

NASA juga mengaitkan kecepatan saat ini dengan fondasi yang diletakkan pada periode pemerintahan sebelumnya. Program Artemis dan kesepakatan internasional Artemis Accords disebut sebagai landasan strategis yang kini membuahkan hasil.

Hingga kini, dikutip dari Earth pada Selasa (27/1), Artemis Accords diklaim telah diikuti oleh sekitar 60 negara, menunjukkan dukungan internasional yang cukup luas.

Administrator NASA Jared Isaacman secara terbuka mengaitkan percepatan tersebut dengan apa yang ia sebut sebagai kejelasan arahan eksekutif. Dalam pernyataannya, Isaacman menilai bahwa kebijakan antariksa pemerintahan Trump memberi misi yang lebih tajam, prioritas yang selaras, serta ruang bagi tenaga kerja NASA untuk bergerak lebih agresif dan berpikir lebih besar.

Menurut Isaacman, fokus pada penerbangan antariksa berawak dan persiapan eksplorasi ruang angkasa dalam jarak jauh merupakan langkah paling berani NASA dalam beberapa dekade terakhir.

Dia bahkan membandingkan arah kebijakan saat ini dengan era Presiden John F. Kennedy, ketika Amerika Serikat pertama kali menetapkan target ambisius untuk mencapai Bulan.

NASA berpendapat bahwa kepastian kebijakan mampu mengurangi hambatan birokrasi, dan berkurangnya hambatan tersebut berujung pada lebih banyak peluncuran, lebih banyak pengujian, serta eksekusi program yang lebih cepat.

Pada bagian proyeksi ke depan, NASA menyatakan target yang paling menarik perhatian publik, yakni mengembalikan astronot Amerika ke Bulan pada 2028. Tidak berhenti di sana, NASA juga menyebut rencana membangun kehadiran jangka panjang di Bulan, termasuk infrastruktur awal yang dapat berkembang menjadi basis permanen.

Di sektor sains, NASA menargetkan pengoperasian Teleskop Antariksa Nancy Grace Roman sebelum akhir tahun. Informasi publik terbaru dari NASA menyebutkan bahwa teleskop ini diproyeksikan siap diluncurkan paling cepat pada musim gugur 2026, meskipun masih ada skenario kesiapan yang lebih konservatif.

NASA juga menekankan pentingnya investasi jangka panjang pada teknologi antariksa dalam, seperti tenaga dan propulsi nuklir. Teknologi ini dinilai krusial untuk memungkinkan misi yang lebih cepat dan lebih jauh ke wilayah Tata Surya, meskipun pengembangannya membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum siap digunakan secara operasional.

Jika laju satu tahun terakhir ini berlanjut, NASA tampaknya ingin terus menjual satu gagasan Utama, Amerika Serikat tidak sekadar ikut serta dalam era eksplorasi antariksa yang ramai, melainkan berambisi mengatur tempo dan arah permainan global di luar angkasa.

KEYWORD :

NASA ke Bulan program Artemis astronot Amerika




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :