Selasa, 27/01/2026 13:18 WIB

Mengapa Bekas Luka di Wajah Lebih Mudah Hilang? Ini Jawabannya





Luka akibat jatuh, operasi, atau luka bakar hampir selalu meninggalkan bekas yang kita kenal sebagai parut atau jaringan parut.

Bekas luka di tangan (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Luka akibat jatuh, operasi, atau luka bakar hampir selalu meninggalkan bekas yang kita kenal sebagai parut atau jaringan parut. Tak jarang orang merasa kurang percaya diri ketika jaringan parut ini nampak pada bagian tubuh.

Dalam dunia medis, jaringan parut di dalam tubuh, yang dikenal sebagai fibrosis, dapat menjadi ancaman serius bagi kesehatan, sebagaimana dikutip dari Earth pada Selasa (27/1).

Diperkirakan sekitar 45 persen kematian di Amerika Serikat berkaitan dengan berbagai bentuk fibrosis pada organ vital seperti paru-paru, hati, dan jantung. Angka ini menunjukkan bahwa proses penyembuhan yang tidak ideal bisa berujung pada konsekuensi fatal.

Bahkan pada kulit, jaringan parut bukan sekadar bekas visual. Kulit yang mengalami parut cenderung lebih kaku dan lebih lemah dibandingkan kulit normal.

Selain itu, area tersebut kehilangan kelenjar keringat dan folikel rambut, sehingga kemampuan tubuh untuk mengatur suhu menjadi berkurang. Kondisi ini dapat menjadi masalah serius saat tubuh menghadapi panas ekstrem, demam, atau proses pemulihan dari cedera besar.

Masalah lain dari jaringan parut adalah sifatnya yang tidak selalu stabil. Pada sebagian orang, jaringan parut dapat terus menebal, menegang, dan mengalami perubahan selama berbulan-bulan.

Di dalam tubuh, fibrosis bekerja dengan cara menggantikan jaringan sehat dengan jaringan keras yang kurang fungsional, ibarat menambal pipa bocor dengan lem keras alih-alih memperbaiki strukturnya.

Menariknya, para dokter telah lama mengamati bahwa luka di wajah sering kali sembuh dengan bekas yang jauh lebih minimal dibandingkan luka di bagian tubuh lain.

Fenomena ini bukan kebetulan. Perbedaan tersebut mengisyaratkan bahwa tubuh memiliki lebih dari satu strategi penyembuhan, tergantung pada lokasi cedera yang terjadi.

Menurut Dr. Michael Longaker dari Stanford Medicine, wajah merupakan area paling vital bagi manusia. Fungsi melihat, mendengar, bernapas, dan makan bergantung pada struktur wajah yang kompleks.

Karena itu, tubuh cenderung memprioritaskan perbaikan yang lebih mendekati kondisi asli. Sebaliknya, luka di bagian tubuh lain lebih difokuskan untuk sembuh dengan cepat, meskipun hasil akhirnya berupa jaringan parut yang tidak sepenuhnya menyerupai jaringan normal.

Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh tim Stanford Medicine menggunakan model tikus laboratorium untuk menelusuri penyebab perbedaan ini. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa jaringan di area wajah dan kulit kepala berasal dari sel embrionik yang berbeda, yaitu neural crest cell. Asal-usul sel ini ternyata memengaruhi cara jaringan merespons luka dan menjalani proses penyembuhan.

Dalam penelitian tersebut, para ilmuwan mengidentifikasi jalur penyembuhan khusus pada sel pembentuk jaringan parut, yang dikenal sebagai fibroblas, yang berasal dari neural crest cell.

Fibroblas ini mendorong proses penyembuhan yang lebih regeneratif dan minim pembentukan jaringan parut, berbeda dengan fibroblas dari bagian tubuh lain yang lebih mudah memicu fibrosis.

Untuk menguji hipotesis ini, peneliti membuat luka kecil di beberapa lokasi tubuh tikus, termasuk wajah, kulit kepala, punggung, dan perut. Semua prosedur dilakukan dengan anestesi dan pereda nyeri, serta menggunakan cincin plastik berjahit untuk menstabilkan luka agar pergerakan tidak memengaruhi hasil. Setelah 14 hari, luka di wajah dan kulit kepala menunjukkan kadar protein pembentuk parut yang lebih rendah dan ukuran jaringan parut yang lebih kecil.

Eksperimen dilanjutkan dengan pendekatan yang lebih inovatif. Kulit dari area wajah dipindahkan ke punggung tikus lain, lalu dilukai kembali. Hasilnya, kulit wajah yang dipindahkan tetap menunjukkan pola penyembuhan khas wajah, dengan pembentukan parut yang lebih minimal.

Hal serupa terjadi ketika fibroblas dari wajah disuntikkan ke area luka di punggung, yang kemudian sembuh dengan karakteristik mendekati luka wajah.

Temuan menarik lainnya adalah bahwa perubahan kecil dapat menghasilkan dampak besar. Peneliti menemukan bahwa meskipun fibroblas yang dimodifikasi hanya mencakup sekitar 10 hingga 15 persen dari total sel di sekitar luka, pola penyembuhan tetap bergeser ke arah yang lebih regeneratif. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua sel harus diubah untuk memicu perbaikan signifikan dalam proses penyembuhan.

Secara molekuler, efek ini ditelusuri ke jalur sinyal yang melibatkan protein ROBO2. Pada fibroblas wajah, ROBO2 membantu menjaga sel tetap dalam kondisi yang kurang fibrotik.

Sel-sel ini juga memiliki DNA yang lebih tertutup secara transkripsi, artinya gen-gen pembentuk jaringan parut tidak mudah diaktifkan. Kondisi tersebut membuat fibroblas lebih menyerupai sel asalnya yang bersifat fleksibel dan mendukung regenerasi jaringan.

Jalur ini juga terhubung dengan protein EP300, yang berperan dalam mengaktifkan gen-gen pembentuk jaringan parut. Dalam penelitian ini, penghambatan aktivitas EP300 menggunakan molekul kecil yang sudah ada membuat luka di punggung tikus sembuh menyerupai luka wajah. Fakta bahwa EP300 sudah menjadi target dalam riset kanker membuka peluang percepatan pengembangan terapi untuk mengurangi jaringan parut.

Para peneliti meyakini bahwa temuan ini tidak hanya relevan untuk kulit, tetapi juga berpotensi diterapkan pada fibrosis di organ dalam. Mereka menilai bahwa mekanisme pembentukan jaringan parut memiliki pola yang serupa di berbagai jaringan tubuh. Dengan pemahaman ini, terbuka peluang untuk mengembangkan pendekatan terpadu dalam mencegah atau mengurangi jaringan parut, baik setelah operasi, cedera, maupun pada penyakit kronis.

Studi ini dipublikasikan di jurnal Cell.

KEYWORD :

penyembuhan luka jaringan parut fibrosis organ bekas luka di wajah




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :