Ilustrasi kecerdasan buatan (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Berbagai pertanyaan yang bersifat personal kini bisa ditanyakan epada chatbot kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Dan tak jarang, muncul rasa lega setelah mendapatkan jawaban yang dianggap memuaskan.
Pengalaman semacam ini rupanya semakin umum. Banyak orang menggunakan percakapan kecerdasan buatan bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga untuk mendapatkan ketenangan emosional dan kejelasan pikiran.
Rasa lega yang muncul setelah menerima jawaban instan tersebut bukanlah kebetulan. Di baliknya bekerja proses psikologis dan neurobiologis yang sudah lama dikenal dalam ilmu perilaku manusia, mulai dari cara otak merespons ketidakpastian, umpan balik, hingga sistem penghargaan internal.
Teknologi AI hanya menjadi medium baru yang mengaktifkan mekanisme lama tersebut secara lebih cepat dan luas, sebagaimana dikutip dari Psychology Today pada Senin (26/1).
Dari sudut pandang psikologi, interaksi dengan AI menyentuh pola dasar manusia ketika berada dalam kondisi ragu atau cemas. Manusia secara alami mencari kepastian, validasi, dan respons yang jelas saat menghadapi ketidakpastian. Perbedaannya, kini respons tersebut datang dalam hitungan detik, tanpa harus menunggu orang lain atau menghadapi risiko penilaian sosial.
Penelitian psikologi selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa orang sering mengajukan pertanyaan yang sama berulang kali bukan karena kurang informasi, melainkan untuk meredakan kecemasan.
Dalam konteks kecemasan kesehatan atau kebiasaan mencari informasi berlebihan di internet, perilaku ini lebih berfungsi sebagai penenang emosi dibanding pemecahan masalah yang nyata.
Chatbot AI sangat cocok dengan pola tersebut. Ketika seseorang kembali dan kembali lagi ke sistem percakapan, sering kali yang dicari bukan jawaban baru, melainkan konfirmasi bahwa pikiran mereka masuk akal, bahwa reaksi mereka wajar, atau bahwa tidak ada hal penting yang terlewat. Nilai utamanya terletak pada rasa tenang yang muncul setelah mendapat respons.
Daya tarik ini juga berkaitan erat dengan cara kerja otak dalam memproses prediksi dan umpan balik. Penelitian neurosains menunjukkan bahwa dopamin, senyawa kimia penting dalam pembelajaran dan motivasi, berperan dalam menandai perbedaan antara apa yang kita harapkan dan apa yang benar-benar terjadi. Ketika ketidakpastian terjawab, otak mencatatnya sebagai pengalaman yang bernilai.
Respons AI yang cepat dan terstruktur membantu otak mencapai rasa puas. Ketika kebingungan mereda, muncul sensasi kepuasan kecil yang bersifat internal. Dalam kerangka pembelajaran penguatan, baik pada manusia maupun mesin, perilaku akan cenderung diulang jika diikuti hasil yang terasa positif, meskipun hasil tersebut hanya berupa kejelasan singkat.
Meski belum ada pengukuran langsung tentang pelepasan dopamin saat menggunakan chatbot, pola respons cepat, konsisten, dan kadang mengejutkan dari AI sangat mirip dengan lingkungan digital lain yang terbukti mampu melibatkan sistem penghargaan otak dan mempertahankan perhatian pengguna.
Dalam konteks manusia, sistem pembelajaran berbasis dopamin tidak memerlukan hadiah besar. Isyarat kecil seperti validasi, kejelasan, atau rasa lega sering kali sudah cukup untuk membentuk kebiasaan. Ketika chatbot memberikan jawaban yang terasa menenangkan di saat yang tepat, pengalaman itu dapat tertanam kuat dalam ingatan.
Seiring waktu, otak belajar membangun asosiasi sederhana. Ketika merasa ragu atau cemas, AI membantu. Inilah salah satu alasan banyak orang kembali ke chatbot saat menghadapi stres, kebingungan, atau dilema, meskipun mereka menyadari bahwa jawabannya tidak selalu sempurna.
Perbedaan utama chatbot dengan mesin pencari tradisional terletak pada sifat dialogisnya. AI meniru bahasa manusia, mengenali nuansa emosi, dan merespons dengan gaya yang terasa penuh perhatian. Otak manusia sangat sensitif terhadap umpan balik sosial, dan bahkan sinyal sederhana seperti didengar dapat menurunkan tingkat stres.
Menariknya, efek ini tetap muncul meskipun kita tahu bahwa AI tidak memiliki kesadaran atau empati sejati. Otak merespons pola interaksi, bukan identitas sumbernya. Selama respons tersebut mengikuti struktur yang familiar bagi manusia, efek emosionalnya tetap terasa nyata.
Namun, mekanisme yang sama juga membawa potensi risiko. Kelegaan instan dapat mengurangi ruang untuk refleksi mendalam. Bahasa yang rapi dan meyakinkan bisa menutupi ketidakpastian. Rasa tenang setelah mendapat jawaban berpotensi memperkuat ketergantungan tanpa disadari.
Menggunakan AI secara bijak bukan berarti menghindarinya, melainkan memahami motif di balik penggunaannya. Penting untuk bertanya pada diri sendiri apakah kita sedang mencari pemahaman yang mendalam atau sekadar ingin menenangkan kecemasan sesaat, serta apakah masukan dari AI tetap diseimbangkan dengan penilaian manusia dan relasi sosial nyata.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
psikologi chatbot AI dan emosi ketergantungan AI kecerdasan buatan


















