Senin, 26/01/2026 17:47 WIB

Teleskop Webb Pecahkan Asal-Usul Mineral Kristalin di Komet





Selama ini, komet dikenal sebagai benda langit yang sangat dingin, tersusun dari es dan debu, dan menghabiskan sebagian besar waktunya jauh dari Matahari.

Lokasi penyusun kristalin pada komet (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Selama ini, komet dikenal sebagai benda langit yang sangat dingin, tersusun dari es dan debu, dan menghabiskan sebagian besar waktunya jauh dari Matahari.

Namun, para astronom menemukan keanehan. Banyak komet mengandung silikat kristalin, yaitu mineral yang hanya bisa terbentuk pada suhu sangat tinggi. Hal ini membingungkan, karena komet berasal dari wilayah yang justru sangat dingin.

Pertanyaan besar pun muncul, bagaimana mineral yang membutuhkan panas ekstrem bisa berada di dalam komet? Selama puluhan tahun, jawabannya hanya berupa dugaan dan model teori. Kini, Teleskop Luar Angkasa James Webb milik NASA akhirnya memberikan bukti pengamatan langsung yang paling jelas.

Dikutip dari Earth pada Senin (26/1), Webb mengamati sebuah bintang muda bernama EC 53, yang masih dikelilingi oleh cakram gas dan debu, bahan mentah pembentuk planet.

Untuk pertama kalinya, para astronom bisa melihat secara langsung tempat silikat kristalin terbentuk sekaligus cara material itu dipindahkan ke wilayah yang lebih dingin, tempat komet kemungkinan lahir.

Di sistem EC 53, silikat kristalin terbentuk di bagian cakram yang sangat dekat dengan bintang, wilayah yang suhunya sangat tinggi. Jika dibandingkan dengan tata surya kita, lokasinya kira-kira berada di area antara Matahari dan Bumi. Panas di zona ini cukup untuk mengubah debu biasa menjadi kristal silikat, seperti forsterit dan enstatit.

EC 53 masih berada dalam fase pertumbuhan aktif. Bintang ini terus menarik gas dan debu dari cakram di sekelilingnya. Proses ini menghasilkan energi besar yang memicu angin dan jet kuat, yaitu aliran material yang menyembur keluar dari dekat bintang.

Yang membuat temuan Webb sangat penting adalah kemampuannya menunjukkan bahwa kristal-kristal yang terbentuk di wilayah panas tidak menetap di sana. Kristal tersebut justru diangkat dan dilempar ke bagian luar cakram oleh aliran angin dan jet tadi, menuju wilayah yang jauh lebih dingin.

Profesor Jeong-Eun Lee dari Seoul National University menjelaskan bahwa aliran berlapis dari EC 53 bekerja seperti jalur transportasi kosmik. Material yang baru terbentuk di dekat bintang “diangkut” ke luar sistem, mirip kendaraan yang melaju di jalan tol antarbintang.

Aliran ini tidak terjadi secara acak. EC 53 memiliki pola aktivitas yang teratur. Setiap sekitar 18 bulan, bintang ini mengalami fase ledakan selama kurang lebih 100 hari. Pada masa ini, laju penyerapan material meningkat tajam, dan semburan angin serta jet menjadi jauh lebih kuat. Pola ini menjadikan EC 53 sebagai objek yang sangat ideal untuk dipelajari.

Dengan menggunakan instrumen inframerah menengah James Webb, para peneliti membandingkan kondisi sistem saat fase tenang dan saat fase ledakan. Dari data spektrum yang sangat detail, mereka bisa mengetahui jenis mineral yang ada serta di mana posisinya di dalam cakram.

Salah satu hasil penting adalah terdeteksinya forsterit dan enstatit, dua jenis silikat kristalin yang juga merupakan bagian utama penyusun batuan di Bumi. Menurut Doug Johnstone dari National Research Council Canada, kemampuan mengidentifikasi mineral seperti ini di sistem bintang muda merupakan pencapaian besar dalam studi pembentukan planet.

Sebelumnya, silikat kristalin memang sudah ditemukan di komet dan cakram bintang muda lain. Namun, mekanisme pemindahannya dari zona panas ke zona dingin hanya diduga, belum pernah diamati secara langsung. Webb kini menutup celah tersebut dengan bukti visual yang jelas.

James Webb juga mampu menangkap dinamika sistem, bukan hanya komposisi kimia. Teleskop ini melihat jet sempit berkecepatan tinggi yang keluar dari kutub bintang, serta angin yang lebih lambat dan lebih dingin dari bagian dalam cakram. Kombinasi keduanya membantu menyebarkan material ke jarak yang sangat jauh.

Menurut Joel Green dari Space Telescope Science Institute, keunggulan Webb adalah kemampuannya menunjukkan apa yang ada sekaligus di mana lokasinya. Para peneliti bisa melacak pergerakan partikel kristal yang ukurannya jauh lebih kecil dari butiran pasir, sejak terbentuk hingga tersebar ke seluruh sistem.

Dalam jangka panjang, ratusan ribu hingga jutaan tahun, partikel-partikel kecil ini akan saling bertabrakan dan bergabung. Sebagian akan tumbuh menjadi batuan yang lebih besar, lalu menjadi planet, asteroid, dan komet. Ketika proses ini selesai, sistem seperti EC 53 dapat berkembang menjadi tata surya yang mirip dengan tata surya kita.

EC 53 sendiri terletak sekitar 1.300 tahun cahaya dari Bumi, di wilayah Nebula Serpens yang kaya akan bintang muda. Dengan mempelajari satu sistem ini secara detail, para astronom memperoleh gambaran penting tentang asal-usul material pembentuk planet dan komet.

Penelitian ini menegaskan bahwa komet yang kini tampak tenang dan beku sebenarnya terbentuk dari masa muda sistem planet yang sangat panas, kacau, dan penuh energi. Hasil studi ini telah dipublikasikan di jurnal Nature.

KEYWORD :

Teleskop James Webb bintang muda EC 53 asal silikat kristalin penyusun komet




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :