Minggu, 25/01/2026 19:12 WIB

Berapa Lama Virus Bertahan di Ruang Terbuka? Ini Jawabannya





Benda-benda yang berada di sekitar kita memainkan peran penting dalam penyebaran penyakit menular melalui virus.

Ilustrasi virus di ruang terbuka (Foto: Earth)

Jakarta, Jurnas.com - Benda-benda yang berada di sekitar kita memainkan peran penting dalam penyebaran penyakit menular melalui virus. Sebab sering kali tidak terlihat, virus dapat memengaruhi naik turunnya risiko infeksi, baik saat wabah besar terjadi maupun ketika kehidupan berjalan normal.

Dikutip dari Earth pada Minggu (25/1), sekelompok ilmuwan meneliti apa yang terjadi ketika virus jatuh dan menetap di suatu permukaan, para peneliti menguji dua virus laboratorium yang telah lama dipelajari pada berbagai material umum dalam kondisi terkendali.

Hasilnya mengungkap bahwa karakteristik permukaan dapat memengaruhi risiko infeksi dengan cara yang belum sepenuhnya tercakup dalam panduan kebersihan standar.

Studi ini dipimpin oleh Dr. C. Brandon Ogbunugafor dari Yale University, yang selama ini meneliti bagaimana patogen menyebar dan berevolusi. Alih-alih melacak paparan manusia, timnya fokus pada apa yang terjadi pada virus setelah ia mendarat di permukaan, terlepas dari perilaku manusia atau respons imun.

Dalam eksperimen ini, para peneliti memilih suhu yang merepresentasikan kondisi ruangan sehari-hari dan suhu tubuh manusia. Dengan pendekatan ini, mereka dapat mengisolasi efek fisik dari permukaan dan panas terhadap virus, tanpa gangguan faktor biologis lain yang biasanya sulit dikendalikan dalam studi lapangan.

Untuk menjaga kesederhanaan dan konsistensi, penelitian ini menggunakan bakteriofag, yaitu virus yang menginfeksi bakteri, bukan manusia. Bakteriofag sering digunakan dalam riset karena perilakunya mudah diukur dan dapat mencerminkan prinsip fisik umum yang juga berlaku pada virus penyebab penyakit manusia.

Selama beberapa jam, tim peneliti mengamati seberapa cepat virus kehilangan kemampuan menginfeksi setelah berada di permukaan tertentu. Namun, pengukuran tidak berhenti pada tingkat kelangsungan hidup saja. Peneliti juga menguji apakah partikel virus yang tersisa masih mampu berkembang biak ketika bertemu inang baru.

Kekhawatiran tentang penyebaran virus melalui permukaan atau fomite meningkat tajam sejak pandemi COVID-19. Penelitian awal menunjukkan virus corona dapat bertahan di permukaan seperti plastik, baja, dan karton dalam jangka waktu tertentu. Studi lain dari lembaga kesehatan menemukan virus cacar monyet tetap aktif di permukaan rumah tangga hingga dua minggu lebih, menambah kekhawatiran tentang penularan tidak langsung.

Namun, temuan-temuan tersebut menyisakan pertanyaan besar: apakah virus yang bertahan lama di permukaan masih berbahaya? Penelitian dari Yale ini mencoba menjawab celah tersebut dengan memisahkan antara kemampuan bertahan hidup dan kemampuan bereplikasi.

Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi tembaga dan suhu tinggi sangat efektif merusak virus. Pada permukaan tembaga dengan suhu sekitar 37 derajat Celsius, kedua virus uji kehilangan kemampuan menginfeksi dengan sangat cepat. Salah satu virus bahkan kehilangan setengah dari partikel aktifnya dalam waktu sekitar 30 menit.

Efek ini semakin kuat karena reaksi kimia pada tembaga dipercepat oleh panas. Studi sebelumnya juga menunjukkan ion tembaga mampu merusak materi genetik dan lapisan luar virus, sehingga menjelaskan mengapa permukaan ini sering dianggap lebih aman dalam konteks kesehatan.

Sebaliknya, suhu dingin memperlambat kerusakan virus. Pada suhu sekitar 4 derajat Celsius, virus bertahan lebih lama di hampir semua permukaan yang diuji. Pendinginan memperlambat proses kimia yang merusak protein dan materi genetik virus, sehingga memperpanjang potensi risiko penularan tidak langsung.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa virus yang tampak “lemah” berdasarkan ukuran kelangsungan hidup masih bisa berkembang biak dengan sangat cepat ketika bertemu inang yang sesuai. Pada permukaan plastik, salah satu virus mampu meningkatkan jumlahnya lebih dari 100 kali lipat dalam waktu satu jam, meskipun sebelumnya terlihat mengalami penurunan.

Temuan ini menegaskan bahwa bertahan di permukaan dan kemampuan bereplikasi adalah dua hal yang saling terkait tetapi tidak identik. Dalam beberapa kondisi, permukaan tertentu justru mendukung ketahanan tetapi menghambat pertumbuhan, atau sebaliknya.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa satu jenis permukaan dapat menghadirkan risiko yang berbeda tergantung suhu dan jenis virusnya. Oleh karena itu, mengukur durasi bertahan virus saja tidak cukup untuk menilai seberapa berbahaya suatu permukaan dalam konteks penularan penyakit.

Penelitian ini juga memberi konteks mengapa tembaga mulai digunakan pada titik-titik sentuh di fasilitas kesehatan. Uji coba di unit perawatan intensif menunjukkan bahwa ruangan dengan permukaan tembaga memiliki tingkat infeksi dan bakteri resisten obat yang lebih rendah dibandingkan ruangan biasa, meski tetap harus dikombinasikan dengan kebersihan tangan dan ventilasi yang baik.

Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menegaskan bahwa suhu dan jenis permukaan bekerja secara bersamaan dalam menentukan risiko penularan virus.

Aturan sederhana yang hanya berfokus pada satu faktor berpotensi menyesatkan, baik dengan membersihkan secara berlebihan di area berisiko rendah maupun mengabaikan kondisi yang sebenarnya lebih berbahaya.

KEYWORD :

virus di permukaan ketahanan virus suhu risiko penularan virus




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :