Ilustrasi parenting orang tua (Foto: Earth)
Jakarta, Jurnas.com - Bagi banyak orang tua, mendengar kata-kata kasar keluar dari mulut anak bisa terasa mengejutkan, apalagi jika suara itu datang dari tempat yang selama ini dianggap aman seperti kamar tidur, bus sekolah, atau layar ponsel.
Bahasa yang terdengar keras dari suara yang masih belia sering memunculkan dilema, antara menjaga sopan santun dan menerima kenyataan bahwa bahasa sehari-hari anak kini semakin dipengaruhi lingkungan modern.
Sebuah jajak pendapat nasional dari University of Michigan Health C.S. Mott Children’s Hospital menunjukkan bahwa tidak ada lagi satu aturan tunggal yang disepakati orang tua terkait anak yang bersumpah serapah.
Dikutip dari Earth pada Rabu (21/1), hasil survei ini menggambarkan bagaimana keluarga di Amerika menghadapi fenomena tersebut dengan pendekatan yang semakin beragam dan fleksibel.
Sekitar separuh orang tua masih berpegang pada pandangan bahwa anak seharusnya tidak pernah menggunakan kata-kata kasar. Namun, kelompok besar lainnya merasa aturan harus disesuaikan dengan situasi, tempat, dan konteks.
Ada pula orang tua yang lebih memperhatikan jenis kata yang diucapkan, bukan sekadar fakta bahwa anak bersumpah, sementara sebagian kecil lainnya menganggap hal itu tidak terlalu penting.
Usia anak menjadi faktor yang sangat menentukan. Orang tua dengan anak kecil cenderung menetapkan aturan yang lebih ketat, sementara orang tua dengan remaja lebih sering memberi ruang toleransi. Survei tersebut juga menunjukkan bahwa sekitar satu dari empat orang tua mengakui anak mereka setidaknya kadang-kadang mengucapkan kata kasar.
Pada kelompok remaja, hampir empat dari sepuluh orang tua melaporkan mendengar anak mereka bersumpah serapah. Angka ini jauh lebih rendah pada anak usia dini, yang menunjukkan bahwa bahasa kasar meningkat seiring bertambahnya usia dan meluasnya interaksi sosial.
Sarah Clark, salah satu direktur C.S. Mott National Poll on Children’s Health, menjelaskan bahwa banyak orang tua kini berada di wilayah abu-abu. Mereka tidak menyukai bahasa kasar, tetapi juga memahami bahwa konteks, usia, dan niat anak sangat memengaruhi makna dari kata-kata tersebut. Bagi sebagian orang tua, bahasa tidak lagi hitam putih, melainkan penuh nuansa.
Lingkungan pertemanan menjadi sumber utama anak belajar kata-kata kasar. Sekitar dua pertiga orang tua menyebut teman sekolah sebagai pengaruh terbesar. Dalam pergaulan, bahasa sering dipakai sebagai alat untuk terlihat dewasa, keren, atau diterima dalam kelompok, sehingga kata-kata kasar terasa seperti jalan pintas menuju pengakuan sosial.
Selain teman, layar digital juga memainkan peran besar. Musik, video, film, gim, dan media sosial membuat kata-kata kasar terdengar semakin normal. Paparan berulang terhadap bahasa seperti ini secara perlahan mengubah persepsi anak tentang apa yang dianggap wajar dalam percakapan sehari-hari.
Kehidupan keluarga pun tidak lepas dari pengaruh. Hampir separuh orang tua mengakui bahwa kebiasaan berbahasa mereka sendiri turut memperkenalkan anak pada kata-kata kasar. Tanpa disadari, ucapan orang dewasa di rumah menjadi contoh yang kuat, meskipun tidak dimaksudkan sebagai pembelajaran langsung.
Ketika ditanya alasan anak bersumpah, orang tua menyebut kebiasaan sebagai faktor utama, disusul keinginan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Humor, mencari perhatian, dan mengikuti tren bahasa modern juga sering muncul. Remaja biasanya bersumpah untuk menyesuaikan diri dengan kelompok, sedangkan anak kecil lebih sering melakukannya demi reaksi orang dewasa.
Clark menyebut bahwa bagi sebagian anak, kata kasar menjadi semacam mata uang sosial. Ada yang menggunakannya untuk merasa diterima, ada pula yang sekadar ingin memancing reaksi. Menurutnya, memahami alasan di balik perilaku ini jauh lebih penting daripada sekadar melarangnya.
Bahasa kasar juga sering muncul saat emosi memuncak. Ketika marah, stres, atau frustrasi, anak mungkin merasa kata-kata kuat lebih mudah mewakili perasaannya dibandingkan kalimat yang lebih halus. Dalam situasi seperti ini, bersumpah bukan selalu tanda perilaku buruk, melainkan ekspresi emosi yang belum terkelola dengan baik.
Anak kecil sering bersumpah hanya untuk melihat reaksi orang dewasa. Tawa atau kemarahan justru dapat memperkuat perilaku tersebut. Sebaliknya, respons yang tenang cenderung lebih efektif dalam menghentikan kebiasaan itu. Pada remaja, kata kasar sering digunakan untuk membangun citra percaya diri atau kedewasaan di hadapan teman.
Sebagian besar orang tua merasa tetap bertanggung jawab membimbing pilihan kata anak. Sekitar 58 persen percaya orang dewasa harus memberi arah dalam penggunaan bahasa.
Ketika anak mengeluarkan sumpah serapah, ada yang menegur, ada yang menjelaskan alasan pribadi atau nilai keluarga, ada pula yang memilih mengabaikannya, terutama jika anak sudah remaja.
Orang tua remaja lebih sering mengabaikan bahasa kasar dibandingkan orang tua anak kecil. Banyak yang merasa remaja perlu ruang untuk belajar batasan sendiri, sementara koreksi terus-menerus justru berpotensi memicu konflik tanpa hasil.
Clark menilai bahwa menjaga konsistensi sikap terhadap bahasa kasar bukan hal mudah. Dia menyarankan orang tua terlebih dahulu memahami sikap pribadi mereka sendiri terhadap kata-kata tertentu, sehingga dapat menentukan kapan harus merespons dan kapan cukup membiarkan.
Untuk anak kecil, penjelasan tentang makna, konteks, dan dampak sosial kata-kata tertentu dianggap penting. Pendekatan ini membantu anak membangun empati dan memahami bahwa bahasa tidak hanya soal bunyi, tetapi juga soal perasaan orang lain.
Dalam praktik sehari-hari, banyak keluarga memilih memberi contoh sebagai strategi utama. Lebih dari separuh orang tua berusaha mengurangi kebiasaan bersumpah di depan anak. Sebagian lain membatasi akses pada musik atau video tertentu, serta meminta tamu mengikuti aturan bahasa di rumah.
Sekitar satu dari lima orang tua bahkan membatasi pergaulan dengan teman yang sering mengucapkan kata-kata kasar, biasanya karena kekhawatiran akan perilaku lain yang menyertainya.
Namun, Clark menekankan bahwa isu bahasa bukan sekadar soal disiplin, melainkan juga tentang relasi sosial, norma keluarga, dan cara membimbing anak tanpa berlebihan.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
anak berkata kasar bahasa kasar anak pola asuh orang tua
















