Ilustrasi cemas berlebihan akibat pekerjaan (Foto: Uday Mittal/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Kecemasan merupakan respons alami manusia terhadap ancaman atau tekanan. Namun, ketika rasa takut dan khawatir muncul secara berlebihan, menetap, serta mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi tersebut dapat mengarah pada gangguan kecemasan.
Dikutip dari Health pada Rabu (14/1), para ahli memperkirakan sekitar 31 persen orang dewasa di Amerika Serikat pernah mengalami gangguan kecemasan setidaknya sekali dalam hidup mereka.
Secara umum, semua jenis gangguan kecemasan memiliki ciri utama berupa rasa takut atau khawatir yang berlebihan. Pemicu stres kronis, trauma, hingga kondisi medis tertentu seperti gangguan tiroid juga dapat memperparah gejala. Kecemasan tidak hanya berdampak pada pikiran, tetapi juga memengaruhi tubuh, emosi, serta perilaku.
Salah satu tanda paling menonjol adalah kekhawatiran berlebihan. Penderitanya kerap memikirkan skenario terburuk yang sulit dikendalikan, meskipun situasi nyata tidak mendukung kekhawatiran tersebut. Pada gangguan kecemasan menyeluruh atau generalized anxiety disorder (GAD), kekhawatiran ini harus berlangsung minimal enam bulan untuk dapat didiagnosis secara klinis.
Kecemasan juga berdampak pada fungsi kognitif. Penderitanya dapat mengalami kesulitan berkonsentrasi, mudah terdistraksi, hingga merasa kehilangan kendali. Beberapa orang melaporkan ingatan yang menurun, pikiran menakutkan yang muncul tiba-tiba, atau perhatian yang hanya terfokus pada sumber kecemasan.
Dari sisi fisik, tubuh bereaksi melalui sistem “fight or flight”. Gejalanya meliputi pusing, mulut kering, kelelahan, sakit kepala, mual, sesak napas, nyeri otot, hingga gangguan pencernaan. Pada kecemasan sosial, reaksi seperti berkeringat, gemetar, jantung berdebar, dan perubahan postur tubuh sering kali muncul.
Perubahan perilaku juga menjadi tanda penting. Banyak penderita menghindari aktivitas tertentu karena dianggap memicu kecemasan. Ada pula yang terus-menerus mencari kepastian dari orang lain. Sebagian mencoba meredakan kecemasan dengan alkohol atau zat lain, meskipun penelitian menunjukkan kebiasaan ini justru dapat memperburuk kondisi mental dalam jangka panjang.
Gangguan tidur menjadi masalah lain yang sering menyertai kecemasan. Sulit tidur atau sering terbangun di malam hari membuat tubuh semakin lelah, sehingga kecemasan pun semakin meningkat dan membentuk lingkaran yang sulit diputus.
Beberapa jenis gangguan kecemasan memiliki ciri khusus. Pada agorafobia, seseorang takut berada di tempat yang dianggap tidak aman, seperti keramaian atau lokasi yang sulit ditinggalkan. Gejalanya mencakup rasa terasing, ketergantungan pada orang lain, hingga keluhan fisik seperti nyeri dada dan keringat berlebih.
Sementara itu, gangguan obsesif-kompulsif (OCD) ditandai oleh pikiran obsesif yang memicu perilaku kompulsif, seperti mencuci tangan berulang kali karena takut kuman. Banyak penderita mengakui perilaku tersebut berlebihan, namun tetap sulit dihentikan. Bahkan, sebagian menghabiskan lebih dari satu jam per hari hanya untuk obsesi dan kompulsi.
Pada gangguan panik, penderita mengalami serangan panik mendadak yang memuncak dalam 10 hingga 20 menit. Gejalanya bisa menyerupai serangan jantung, mulai dari nyeri dada, napas pendek, hingga rasa takut akan kematian. Sedangkan pada fobia, ketakutan muncul terhadap objek atau situasi tertentu yang sebenarnya tidak berbahaya, seperti ketinggian atau hewan tertentu.
Adapun post-traumatic stress disorder (PTSD) muncul setelah seseorang mengalami peristiwa traumatis. Gejalanya meliputi penghindaran, kewaspadaan berlebihan, pikiran negatif, serta kilas balik atau mimpi buruk tentang kejadian tersebut.
Para ahli menegaskan, mengenali tanda-tanda kecemasan sejak dini sangat penting agar seseorang dapat segera mencari bantuan profesional. Dengan penanganan yang tepat, gangguan kecemasan dapat dikelola sehingga kualitas hidup penderitanya tetap terjaga.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
gejala kecemasan gangguan kecemasan serangan panik kesehatan mental




















