Ilustrasi 7 makanan yang mengandung vitamin D tinggi (Foto: RRI)
Jakarta, Jurnas.com - Vitamin D dikenal luas sebagai nutrisi penting yang sebagian besar diperoleh dari paparan sinar matahari. Selain berperan bagi kesehatan tulang, vitamin ini juga dikaitkan dengan fungsi otak dan kestabilan suasana hati.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kadar vitamin D yang rendah dapat meningkatkan risiko depresi, meskipun hubungan sebab-akibatnya masih terus diteliti.
Di Amerika Serikat, sekitar 35 persen orang dewasa mengalami defisiensi vitamin D. Kondisi ini bukan hanya berhubungan dengan masalah tulang, tetapi juga dengan berbagai penyakit kronis seperti kanker, penyakit jantung, diabetes, multiple sclerosis, serta gangguan autoimun.
Dalam beberapa tahun terakhir, sebagaimana dikutip dari Health pada Selasa (13/1), kekurangan vitamin D juga mulai dikaitkan dengan masalah kesehatan mental, khususnya depresi.
Salah satu studi berskala besar menemukan adanya hubungan antara kadar vitamin D dan kejadian depresi pada orang dewasa paruh baya. Hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa defisiensi maupun insufisiensi vitamin D dapat menjadi penanda risiko meningkatnya depresi.
Bahkan, kadar vitamin D yang rendah juga berpotensi menjadi biomarker pada pasien depresi yang gejalanya tidak kunjung membaik meskipun telah menjalani pengobatan.
Meski demikian, para peneliti belum dapat memastikan bahwa kekurangan vitamin D secara langsung menyebabkan depresi. Hubungan yang ditemukan masih bersifat asosiasi, sehingga diperlukan penelitian lanjutan untuk memahami mekanisme yang lebih jelas.
Secara biologis, vitamin D memiliki banyak fungsi penting. Nutrisi ini membantu penyerapan kalsium dan berperan besar dalam pembentukan tulang dan gigi yang kuat. Bersama kalsium, vitamin D membantu mencegah osteoporosis, yaitu kondisi ketika tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Kadar vitamin D yang rendah juga meningkatkan risiko osteomalasia, yaitu pelunakan tulang yang dapat menimbulkan nyeri tulang, kelemahan otot, serta deformitas tulang seperti rakitis. Namun, peran vitamin D tidak berhenti pada kesehatan tulang semata.
Vitamin D memiliki sifat antiinflamasi, antioksidan, serta efek protektif terhadap otak. Nutrisi ini membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi, mendukung fungsi otot, serta memungkinkan saraf mengirimkan sinyal antara otak dan seluruh tubuh.
Sementara itu, depresi sendiri merupakan gangguan suasana hati yang memengaruhi perasaan, cara berpikir, dan aktivitas sehari-hari. Gejala umum meliputi perasaan sedih berkepanjangan, kehilangan minat, rasa putus asa, mudah marah, kelelahan, sulit berkonsentrasi, gangguan tidur, perubahan nafsu makan, hingga keluhan fisik tanpa sebab yang jelas. Pada kondisi berat, penderita juga dapat memiliki pikiran tentang kematian atau bunuh diri.
Terkait pengobatan, beberapa studi kecil menunjukkan bahwa penderita depresi mengalami perbaikan gejala setelah mengonsumsi suplemen vitamin D. Namun, hasil ini tidak selalu konsisten.
Sebuah penelitian besar yang melibatkan lebih dari 18.000 orang dengan depresi menemukan bahwa konsumsi 2.000 IU vitamin D setiap hari selama lima tahun tidak memberikan perbedaan signifikan dibandingkan plasebo.
Sejumlah penelitian lain juga menghasilkan kesimpulan serupa, sehingga hingga kini vitamin D belum masuk dalam panduan resmi terapi gangguan suasana hati. Para ahli menilai masih dibutuhkan riset lebih lanjut untuk menentukan kadar vitamin D ideal serta peran pastinya dalam mengatasi depresi.
Bagi orang yang mengalami depresi dan mencurigai kadar vitamin D-nya rendah, langkah terbaik adalah berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Dokter dapat merekomendasikan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar vitamin D sebagai dasar sebelum memulai suplementasi.
Jika pemeriksaan tidak memungkinkan, suplementasi masih dapat dilakukan dengan aman selama mengikuti batas asupan harian yang dianjurkan, yaitu sekitar 600–800 IU untuk orang dewasa.
Beberapa pakar menyebutkan bahwa konsumsi vitamin D tanpa tes tetap relatif aman, terutama bagi mereka yang jarang terpapar matahari atau tidak mengonsumsi makanan yang diperkaya vitamin D.
Kebutuhan vitamin D setiap orang berbeda, tergantung usia, kondisi kesehatan, dan warna kulit. Kelompok yang dinilai lebih berisiko mengalami kekurangan vitamin D antara lain perempuan, orang berusia 20–29 tahun, serta non-Hispanic Black Americans.
Dalam memilih suplemen, konsumen disarankan memilih produk yang telah melalui uji independen. Hal ini penting untuk memastikan kandungan dan dosis sesuai dengan yang tertera pada kemasan, serta meminimalkan penggunaan bahan tambahan yang tidak perlu.
Meski bermanfaat, konsumsi vitamin D berlebihan juga berbahaya. Karena bersifat larut lemak, vitamin ini dapat menumpuk di dalam tubuh dan menyebabkan toksisitas.
Gejalanya meliputi mual, muntah, kebingungan, nyeri, dehidrasi, kelemahan otot, hilang nafsu makan, rasa haus berlebihan, dan sering buang air kecil.
Dalam kondisi ekstrem, kadar vitamin D yang sangat tinggi dapat memicu gangguan irama jantung, gagal ginjal, bahkan kematian. Toksisitas hampir selalu terjadi akibat konsumsi suplemen berlebihan, bukan dari paparan sinar matahari, karena tubuh secara alami membatasi produksi vitamin D dari matahari.
Penelitian menunjukkan risiko toksisitas meningkat jika asupan harian mencapai 10.000 IU. Bahkan, konsumsi jangka panjang di bawah batas aman 4.000 IU pun berpotensi menimbulkan efek negatif.
Vitamin D juga dapat berinteraksi dengan sejumlah obat, seperti diuretik, statin, steroid, dan orlistat. Beberapa obat tersebut bahkan dapat meningkatkan risiko toksisitas vitamin D. Karena itu, konsultasi dengan tenaga medis sangat dianjurkan sebelum mengonsumsi suplemen vitamin D secara rutin.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
vitamin D depresi kekurangan vitamin D suplemen vitamin D kesehatan mental





















