Ilustrasi - Petugas memeriksa persediaan beras di gudang (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan ketersediaan beras nasional pada awal 2026 berada dalam kondisi aman dengan pergerakan harga yang relatif stabil.
Kondisi tersebut ditopang oleh kuatnya cadangan beras pemerintah (CBP) serta berjalannya berbagai program distribusi pangan kepada masyarakat.
Direktur Distribusi Pangan Bapanas Rachmi Widiriani menyampaikan bahwa stok beras yang dikelola Perum Bulog hingga 12 Januari 2026 mencapai 3,36 juta ton. Jumlah tersebut terdiri atas CBP sekitar 3,23 juta ton dan stok komersial sekitar 129 ribu ton.
“Dengan posisi cadangan tersebut pemerintah memastikan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi tanpa impor. Fokus kami saat ini adalah menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas harga di tingkat konsumen,” kata Rachmi di Jakarta, Senin.
Pemerintah juga menegaskan capaian swasembada beras pada 2025 berkat produksi yang kuat dan cadangan nasional yang memadai. Kondisi ini menjadi fondasi utama dalam menjaga kestabilan harga serta kelancaran pasokan hingga ke konsumen.
Selain menjaga kecukupan stok, langkah stabilisasi terus diperkuat melalui penyaluran bantuan pangan dan intervensi pasar. Hingga 12 Januari 2026 pukul 04.01 WIB, penyaluran bantuan pangan beras dan minyak goreng alokasi Oktober–November 2025 telah menjangkau 17,67 juta Penerima Bantuan Pangan (PBP) atau 96,71 persen dari total target 18,27 juta PBP.
Total bantuan yang telah disalurkan meliputi sekitar 353,5 ribu ton beras dan 70,7 juta liter minyak goreng. Sisa penyaluran yang relatif kecil terus dipercepat, terutama di wilayah dengan tantangan geografis dan akses distribusi.
Rachmi menjelaskan, meskipun pasokan nasional tergolong kuat, dinamika harga di pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor, seperti distribusi, lonjakan permintaan musiman, dan kondisi wilayah tertentu. Karena itu, pemerintah secara rutin memantau harga harian dan siap menggelar operasi pasar serta menyalurkan beras SPHP bila dibutuhkan.
Bapanas juga mencatat mayoritas pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten/kota, telah memiliki dan mengelola cadangan beras pemerintah daerah (CBPD) sebagai lapisan pengaman tambahan dalam menghadapi gejolak harga maupun kondisi darurat.
Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengumumkan keberhasilan swasembada beras di Karawang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1), sebagai tonggak penting kemandirian pangan nasional berbasis produksi petani dalam negeri.
Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman menyebut produksi beras sepanjang 2025 mencapai 34,71 juta ton, dengan surplus sekitar 3,52 juta ton dibandingkan kebutuhan konsumsi nasional yang berada di angka 31,19 juta ton per tahun.
Ke depan, pemerintah akan terus mendorong penyerapan hasil panen domestik, memperkuat distribusi dari sentra produksi ke wilayah konsumsi, serta memastikan program stabilisasi berjalan tepat sasaran demi menjaga daya beli masyarakat dan stabilitas inflasi pangan sepanjang 2026.
Berdasarkan Panel Harga Pangan Bapanas per 12 Januari, harga beras secara nasional menunjukkan tren penurunan. Beras premium tercatat Rp15.384 per kilogram atau turun Rp152, beras medium Rp13.609 per kilogram turun Rp145, beras SPHP Rp12.408 per kilogram turun Rp69, dan beras khusus lokal Rp15.569 per kilogram turun Rp219 dibandingkan hari sebelumnya. (Ant)
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Badan Pangan Nasional Tahun 2026 Harga Beras Rachmi Widiriani Andi Amran Sulaiman























