Senin, 12/01/2026 12:42 WIB

Awas! Kecanduan Semprot Hidung Berisiko Rusak Saluran Napas





Berbagai pakar kesehatan memperingatkan meningkatnya kasus kecanduan semprot hidung dekongestan yang berpotensi menyebabkan kerusakan permanen

Seseorang dengan hidung tersumbat ( Foto : Kontan )

Jakarta, Jurnas.com - Berbagai pakar kesehatan memperingatkan meningkatnya kasus kecanduan semprot hidung dekongestan yang berpotensi menyebabkan kerusakan permanen pada saluran napas.

Produk yang dijual bebas dengan harga murah ini kerap menjadi andalan saat flu dan pilek, namun ternyata menyimpan risiko serius jika digunakan melebihi batas.

Semprot hidung dekongestan mudah ditemukan di apotek. Banyak orang menggunakannya untuk meredakan hidung tersumbat secara instan, terutama saat musim penyakit pernapasan. Namun, kemudahan akses ini justru membuat sebagian pengguna tidak menyadari batas aman pemakaiannya.

Penelitian terbaru menunjukkan hampir 60 persen apoteker meyakini pasien tidak memahami bahwa semprot hidung tidak boleh digunakan dalam jangka panjang.

Ketidaktahuan ini meningkatkan risiko terjadinya rebound congestion, yaitu kondisi di mana hidung justru semakin tersumbat setelah efek obat habis.

Royal Pharmaceutical Society (RPS) menjelaskan bahwa penggunaan lebih dari tujuh hari dapat mengiritasi pembuluh darah sensitif di dalam hidung. Iritasi tersebut memicu pembengkakan jaringan, sehingga sumbatan menjadi lebih parah dan membuat pasien kembali bergantung pada semprotan untuk bernapas.

Secara medis, kondisi ini dikenal sebagai rhinitis medicamentosa. Gejalanya meliputi iritasi, pilek terus-menerus, bersin, dan hidung tersumbat. Dalam kasus tertentu, pembengkakan kronis bahkan dapat menimbulkan gangguan pernapasan serius hingga perubahan bentuk wajah, sehingga sebagian pasien harus menjalani operasi.

Di Inggris, survei yang dilakukan ITV bersama Ipsos menemukan lebih dari 20 persen orang dewasa pengguna semprot hidung menggunakannya lebih dari satu minggu. Artinya, sekitar 5,5 juta orang di Inggris berisiko mengalami kecanduan akibat pemakaian berlebihan.

Atas temuan tersebut, RPS mendesak agar peringatan risiko dicantumkan secara lebih jelas pada kemasan produk, termasuk merek-merek populer seperti Sudafed dan Vicks.

“Penelitian kami menunjukkan banyak orang tidak menyadari risiko ini, sehingga mereka terus menggunakan semprotan tanpa sadar justru memperpanjang gejalanya," kata Kepala ilmuwan RPS, Profesor Amira Guirguis dikutip dari Daily Mail.

“Kami ingin ada peringatan yang jelas di bagian depan kemasan dan peningkatan kesadaran mengenai batas penggunaan tujuh hari," dia menambahkan. Menurutnya, langkah tersebut merupakan respons paling mendesak dan proporsional terhadap tingkat risiko yang ada.

Sejumlah pihak yang terdampak bahkan mengusulkan agar obat tersebut hanya bisa diperoleh melalui resep dokter, sehingga penggunaannya dapat dipantau dan dibatasi oleh tenaga medis.

Salah satu contoh kasus ialah Charlotte Johnstone (30), yang mengaku mulai menggunakan semprot hidung sejak usia tujuh tahun. Dalam wawancaranya dengan ITV, dia mengatakan pernah menggunakan semprotan hingga delapan kali sehari selama lebih dari dua dekade.

"Saya tidak bisa tidur tanpa semprotan itu. Saat bangun, hal pertama yang saya lakukan adalah memakainya," ujar Charlotte.

Kini, kecemasannya begitu besar hingga merasa takut tidak bisa bernapas dan selalu memastikan akses terhadap semprotan ke manapun dia pergi.

Charlotte menghabiskan sekitar £30 per bulan untuk kebiasaan tersebut. Dia mengaku sering kehilangan indera penciuman dan khawatir akan dampak jangka panjangnya.

"Saya tahu ada sesuatu yang salah, tapi demi hidung lega dan tidak merasa sesak, saya tetap memakainya," kata dia.

Dia juga menilai sebagian dokter umum belum sepenuhnya memahami masalah ini. Bahkan, menurutnya, ada dokter yang sampai mencari gejalanya melalui mesin pencari saat berkonsultasi dengannya.

Para ahli menyebut sebagian besar pasien dapat berhenti menggunakan semprotan secara bertahap tanpa mengalami kerusakan permanen. Namun, sebagian lainnya memerlukan semprot steroid yang lebih kuat sebelum kondisinya membaik. Proses penghentian ini sering kali terasa menakutkan.

"Berhenti total itu sangat menakutkan. Saya harus benar-benar berani dan mungkin perlu cuti kerja," ujar Charlotte.

Penting dicatat, rebound congestion hanya terjadi pada semprot hidung dekongestan yang mengandung oxymetazoline dan xylometazoline, bukan pada semprotan saline atau steroid.

KEYWORD :

kecanduan semprot hidung rhinitis medicamentosa rebound congestion dekongestan hidung




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :