Ilustrasi pengumpulan sampah plastik (Foto: Ist)
Jakarta, Jurnas.com - Masalah sampah plastik global mendapat harapan baru dari dunia sains dengan pendekatan yang terinspirasi langsung dari alam. Para peneliti menunjukkan bahwa trik kimia yang digunakan makhluk hidup dapat membantu plastik terurai tanpa kehilangan kekuatannya saat digunakan.
Ide ini muncul ketika ahli kimia Yuwei Gu melihat botol plastik berserakan di kawasan Bear Mountain State Park, Amerika Serikat. Pemandangan itu memicu pertanyaan sederhana: mengapa plastik buatan manusia menumpuk selama puluhan tahun, sementara material alami tidak?
Plastik dan materi biologis sebenarnya sama-sama tersusun dari polimer, yaitu rantai molekul panjang. Namun, alam merancang polimer seperti DNA dan protein agar bisa terurai kembali, sedangkan plastik sintetis tidak memiliki “jalan keluar” tersebut.
Perbedaan kuncinya terletak pada struktur kimia. Di alam, polimer memiliki titik-titik lemah tertentu yang memungkinkan ikatan terlepas saat waktunya tiba, sehingga material bisa didaur ulang secara alami.
Dari situlah Gu dan timnya di Rutgers University mencoba meniru strategi tersebut. Mereka merancang plastik dengan “titik lemah tersembunyi” di tulang punggung molekulnya, tanpa mengubah bahan dasarnya.
Hasilnya, plastik tetap kuat dan stabil selama dipakai, tetapi dapat terurai jauh lebih cepat ketika terkena pemicu ringan seperti udara, kelembapan, cahaya ultraviolet, atau ion logam yang aman. Proses penguraiannya bahkan bisa berlangsung ribuan kali lebih cepat dibanding plastik konvensional.
Menariknya, waktu penguraian bisa diatur sejak awal. Dengan sedikit perubahan pada susunan atom, plastik bisa dirancang bertahan sehari, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun sesuai kebutuhan penggunaannya.
Pendekatan ini membuka peluang besar bagi kemasan sekali pakai, plastik pertanian, hingga pelapis industri yang bisa “menghilang” setelah masa pakainya berakhir. Selain mengurangi limbah, teknologi ini juga berpotensi memangkas biaya dan tenaga dalam pengelolaan sampah.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa plastik terurai tidak otomatis aman bagi lingkungan. Mereka kini meneliti dampak lanjutan dari hasil penguraian, termasuk efeknya pada tanah, air, dan mikroorganisme.
Uji laboratorium awal menunjukkan cairan hasil penguraian tidak bersifat toksik, namun pengujian jangka panjang tetap dilakukan untuk memastikan keamanannya di dunia nyata. Prinsipnya, degradasi harus benar-benar “bersih”, bukan sekadar cepat.
Dari sisi industri, keunggulan utama pendekatan ini adalah kemudahannya diadopsi. Struktur kimia baru tersebut dirancang agar kompatibel dengan proses manufaktur plastik yang sudah ada, tanpa perlu membangun ulang pabrik.
Dengan demikian, produsen bisa menambahkan “saklar akhir usia” pada plastik tanpa mengorbankan efisiensi produksi. Hal ini dinilai krusial agar inovasi tidak berhenti di laboratorium.
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Chemistry ini menunjukkan bahwa solusi besar kadang berangkat dari ide sederhana. Dengan meniru cara alam mengatur kelahiran dan kematian material, plastik tak lagi harus bertahan selamanya.
Jika dikembangkan secara luas, pendekatan ini berpotensi mengubah cara dunia memproduksi dan membuang plastik. Tujuannya bukan menghilangkan plastik sepenuhnya, melainkan memastikan ia hanya bertahan selama benar-benar dibutuhkan. (*)
Sumber: Earth
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
Sampah Plastik Masa Urai Plastik Plastik Mudah Terurai




























