Ilustrasi seafood yang memicu alergi (Foto: Mike Bergmann/Unsplash)
Jakarta, Jurnas.com - Alergi makanan biasanya muncul sejak kecil, namun alergi seafood dapat muncul tiba-tiba ketika seseorang sudah dewasa. Kondisi ini sering membuat banyak orang bingung karena sebelumnya mereka bisa mengonsumsi udang, kepiting, atau cumi tanpa masalah.
Faktanya, alergi yang timbul pada usia dewasa sebenarnya bukan hal langka. Adapun penyebabnya sering kali berkaitan dengan perubahan sistem imun.
Reaksi alergi muncul ketika tubuh menganggap protein tertentu dalam makanan sebagai ancaman. Pada seafood, protein seperti tropomyosin menjadi pemicu paling umum.
Meskipun tubuh seseorang sebelumnya dapat mentoleransinya, perubahan pada sistem kekebalan bisa memicu respons baru. Inilah alasan seseorang bisa tiba-tiba sensitif terhadap makanan yang dulu aman dikonsumsi.
Gejala alergi seafood juga beragam. Reaksi ringan biasanya berupa gatal di mulut, ruam, atau bengkak di area wajah. Pada sebagian orang, gejala bisa berkembang menjadi lebih serius, seperti sesak napas atau nyeri perut hebat.
Reaksi paling ekstrem adalah anafilaksis, kondisi berbahaya yang membutuhkan penanganan medis segera. Meskipun jarang, kasus ini perlu diwaspadai.
Faktor pemicu alergi dewasa sering kali berkaitan dengan paparan berulang. Misalnya, seseorang yang bekerja di industri perikanan bisa lebih rentan karena sering terpapar partikel seafood di udara.
Kondisi ini mendorong tubuh membentuk sensitivitas baru yang memicu alergi. Bahkan mereka yang jarang makan seafood pun bisa mengalami reaksi ketika pertama kali mencobanya kembali setelah bertahun-tahun.
Selain itu, perubahan hormon juga diyakini berperan dalam munculnya alergi saat dewasa. Kehamilan, menopause, atau stres berkepanjangan dapat mengubah respons tubuh terhadap alergen.
Kondisi ini menjelaskan alasan alergi baru sering muncul pada wanita dewasa. Hormon yang tidak stabil membuat sistem imun lebih sensitif dan mudah bereaksi.
Masalah kesehatan tertentu juga dapat meningkatkan risiko alergi dewasa. Penyakit autoimun, infeksi kronis, atau gangguan pada saluran pencernaan bisa mengubah kemampuan tubuh dalam memproses protein. Pencernaan yang terganggu membuat partikel alergen masuk ke aliran darah lebih cepat, memicu respon alergi lebih kuat.
Yang sering kali membingungkan ialah bahwa gejala alergi terkadang mirip dengan intoleransi makanan. Pada intoleransi, tubuh kesulitan mencerna makanan tertentu, tetapi tidak melibatkan sistem imun.
Alergi, sebaliknya, memicu reaksi imun yang bisa berbahaya. Karena itu, diagnosis medis penting untuk membedakan keduanya.
Tes alergi seperti skin prick test atau tes darah IgE dapat membantu menentukan jenis seafood yang memicu reaksi. Dengan mengetahui pemicunya, penderita dapat menghindari makanan tertentu tanpa harus menghindari seluruh jenis seafood. Beberapa orang hanya alergi pada udang, tetapi aman mengonsumsi ikan salmon atau tuna.
Untuk mencegah reaksi berulang, penderita alergi dianjurkan lebih berhati-hati saat makan di restoran. Banyak menu seafood menggunakan bahan campuran yang sulit dikenali.
Risiko kontaminasi silang juga cukup tinggi, terutama di tempat makan yang hanya menggunakan satu alat masak untuk berbagai menu. Bertanya detail kepada staf restoran menjadi langkah penting.
Pada kasus alergi berat, dokter biasanya meresepkan obat antihistamin atau epinefrin sebagai pertolongan darurat. Obat ini membantu menghentikan reaksi alergi yang berkembang cepat. Penderita yang pernah mengalami anafilaksis wajib membawa epinefrin autoinjector ke manapun mereka pergi.
Google News: http://bit.ly/4omUVRy
Terbaru: https://jurnas.com/redir.php?p=latest
Langganan : https://www.facebook.com/jurnasnews/subscribe/
Youtube: https://www.youtube.com/@jurnastv1825?sub_confirmation=1
alergi seafood dewasa gejala alergi makanan penyebab alergi mendadak




















