Jum'at, 29/08/2025 21:20 WIB

Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 Hasilkan Tiga MoU Strategis

Inovasi dalam budidaya serta pasca panen kelapa sawit.

Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025. Foto: dok. Jurnas

PEKANBARU - Setelah sukses digelar di Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Asosiasi Petani Kelapa Sawit PIR (Aspekpir) kembali menggelar  Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 di Pekanbaru Provinsi Riau, Rabu (27/8/2025).

Kegiatan yang didukung oleh IAS Global, PT Bio Sarana Indonesia (BSI), Bio Industri Nusantara (Bionusa) dan PT Restoe Bumi Lestari mendapatkan dukungan dari Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Cabang Riau serta PTPN IV Regional III Riau.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah tokoh perkebunan sawit antara lain Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono, Ketua Umum Gapki Eddy Martono yang hadir menjadi keynote speker bersama SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau Bambang Budi Santoso, Ketua  Dewan Pengawas Aspekpir Indonesia Dr. Rusman Heriawan, Ketua Gapki Riau Lichwan Hartono, Ketua Aspekpir Riau Sutoyo dan dibuka secara resmi oleh Sekretaris Dinas Perkebunan Supriadi, S.Hut, M.Si. 

Sedangkan pembicaranya adalah Country Sales & Project Manager Of IAS Global Edi Haryanto, Technical Sales Manager of IAS Analysis Marcus Suparma, Distric Sales Manager PT Bio Sarana Indonesia Okto DL Naibaho, Staf Ahli Bidang Pemasaran PT Bionusa Dwi Sutanti dan Formuator PT Restoe Bumi Lestari Cahyo Rudi Widianto. 

Ketua Dewan Pengawas Aspekpir, Rusman Heriawan dalam sambutannya menjelaskan jika gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 ini tidak hanya membahas aspek bisnis saja, tetapi juga mencakup inovasi dalam budidaya serta pasca panen kelapa sawit.

"Ini merupakan bentuk komitmen kita bersama untuk memastikan bahwa pengembangan kelapa sawit tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan secara lingkungan," kata Rusman melalui keterangannya, Jumat (29/8/2025).

Rusman menjelaskan kemitraan antara Aspekpir dan perusahaan menjadi salah satu pilar penting dalam mendorong kemajuan sektor sawit nasional. 

Saat ini, Aspekpir  menaungi sekitar 800.000 hektare dari total 16 juta hektare perkebunan kelapa sawit di Indonesia.

Ketua Umum Gapki Eddy Martono mengungkapkan gelaran Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 merupakan kegiatan yang penting untuk mendorong peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit melalui jalur kemitraan.

"Petani PIR memiliki peran yang cukup penting, termasuk juga Aspek-Pir yang menaungi para petani plasma tersebut. Kegiatan ini juga langkah yang tepat di situasi produksi perkebunan yang masih stagnan," katanya.

Perkebunan sawit sangat luar biasa untuk indonesia. Namun masih banyak belum disadari oleh masyarakat yang terpapar kampanye negatif. Perkebunan kelapa sawit beberapa kali pernah menyelamatkan perekonomian Indonesia. 

Pertama saat kenaikan pajak yang terjadi pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 2008 saat terjadi krisis di negara Amerika. Lalu pada tahun 2019 saat virus Covid-19 mewabah di Indonesia.

"Saat itu ekonomi ambruk, namun sektor perkebunan kelapa sawit justru menjadi penyelamat. Malah saat Covid-19, sektor perkebunan sawit torehkan devisa tertinggi, ini sangat luar biasa," jelasnya.

Eddy berharap industri kelapa sawit ini harus ditata dengan baik dan dijaga. Kendati begitu, Eddy mengaku prihatin lantaran ada 37 kementrian dan lembaga yang mengelola perkebunan kelapa sawit justru kalau dengan negara Malaysia yang hanya memiliki satu lembaga namun produksi kebun kelapa sawitnya lebih besar.

Sementara itu, SEVP Business Support PTPN IV Regional III Riau Bambang Budi Santoso menegaskan langkah yang diambil oleh Aspekpir dengan menyelenggarakan Bisnis Forum Kemitraan Sawit 2025 selaras dengan programnya yakni memperkuat kemitraan di perkebunan sawit."Kita berharap kegiatan ini mendukung terbentuknya petani kelapa sawit yang sejahtera dengan kemitraan yang kuat dan menjadi pejuang devisa negara. Kita juga pastikan bahwa produksi industri sawit akan semakin baik lewat kemitraan," paparnya.

Sekretaris Dinas Perkebunan Riau, Supriadi berharap pertemuan ini dapat menghadirkan berbagai solusi untuk permasalahan yang ada di perkebunan sawit."Kegiatan ini layak untuk dapat kita lanjutkan untuk membina jalinan yang sudah ada. Ini kegiatan yang dapat memperkuat kemitraan kita," terangnya

Kata pria yang akrab disapa Ucup itu mengatakan bahwa masa depan Riau adalah perkebunan, termasuk perkebunan sawit yang memegang peran penting.  Kendati begitu, sektor perkebunan sawit dihadapkan dengan permasalahan dari hulu ke hilir. Permasalahan terbesar adalah kawasan hutan. Lalu Maslah  perizinan yang perlu dibenahi hingga kampanye hitam kelapa sawit.

"Ini harus menjadi perhatian kita. Kita berharap muncul inovasi dan terobosan untuk penyelesaian Maslah lewat forum bisnis ini," tuturnya sembari membuka kegiatan tersebut.

Pada kegiatan tersebut, dilakukan penandatangan tiga Memorandum of Understanding (MoU) yakni MoU antara IAS Global dan Gapki Cabang Riau yang masing-masing langsung dilakukan oleh Country Sales & Project Manager IAS Global Edi Haryanto dan Ketua Gapki Riau Lichwan Hartono.

Kemudian MoU antara PT Riau Plasma Mandiri milik Aspekpir Riau dengan PT Bio Sarana Indonesia (Bionusa) oleh Direktur Utama PT RPM Tri Yantana dengan Direktur Utama PT BSI Dunan Siahaan.

Adapun MoU ketiga antara PT Restoe Bumi Lestari dengan Aspekpir Indonesia yang langsung ditandatangi oleh Direktur PT Restoe Bumi Lestari Aries Setiawan Pratista dan Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono berharap bisnis kemitraan sawit 2025 dapat menjadi agenda rutin dan tahunan dalam rangka memperkokoh pengembangan sawit berkelanjutan melalui kerja sama kemitraan inti plasma yang saling menguatkan.

Dia menegaskan jika pengembangan sawit di Indonesia hingga kini kelapa sawit menjadi tulang punggung perekonomian nasional tidak terlepas dari peran strategis petani sawit plasma. "Kemitraan inti plasma adalah kemitraan strategis yang harus diperkuat," ujarnya.

KEYWORD :

Bisnis Forum Kemitraan Sawit




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :