Selasa, 07/04/2026 11:21 WIB

Pahami, Era Digital Tuntut Adanya Penguasaan Literasi Digital Sejak Dini





Etika digital dibutuhkan karena interaksi dan komunikasi di dunia maya akan melibatkan banyak orang dengan perbedaan kultural

Ilustrasi sosial media (Foto:kabarlah)

Jurnas.com – Era digital menuntut adanya literasi digital dimulai sejak anak usia dini. Anak-anak harus memiliki keterampilan dan pengetahuan kecakapan digital, keamanan digital, budaya digital, serta etika berdigital. Etika digital dibutuhkan karena interaksi dan komunikasi di dunia maya akan melibatkan banyak orang dengan perbedaan kultural.

”Interaksi antar-budaya dapat menciptakan standar baru tentang etika. Setiap aktivitas digital di ruang digital butuh etika digital,” tutur Yul Ardi, dalam webinar literasi digital yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) RI bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, di Kota Pariaman, Kamis (16/5).

Mengusung tema ”Mengenal Literasi Digital Sejak Dini”, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah II Kota Pariaman dan Kabupaten Padang Pariaman itu mengatakan, etika digital harus mulai diajarkan kepada anak-anak agar mereka memiliki kompetensi literasi digital terkait etika berinternet (netiket).

”Kompetensi mengakses, menyeleksi, dan menganalisis informasi saat berkounikasi, maupun memahami netiket dalam upaya membentengi diri dari tindakan negatif di platform digital, hingga memverifikasi pesan sesuai standar netiket,” jelas Yul Ardi dalam diskusi yang dipandu moderator Dyah Sunti itu.

Etika digital lain yang perlu dianjurkan kepada anak-anak, lanjut Yul Ardi, yakni agar mereka menjauhkan diri dari konten negatif di dunia digital. Misalnya melanggar kesusilaan, perjudian, penghinaan atau pencemaran nama baik, pemerasan atau pegancaman, penyebaran hoaks, kebencian dan permusuhan berdasarkan SARA.

”Terpenting, anak-anak tidak terlibat dalam cyberbullying (perundungan siber), seperti doxing (membagikan data personal seseorang ke dunia maya), cyberstalking (mengintip dan memata-matai seseorang di dunia maya), maupun non-consentual intimate image atau membalas dendam melalui penyebaran foto/video vulgar, bisa juga untuk memeras korban,” pesan Yul Ardi di depan para pendidik dan siswa sekolah menengah yang mengikuti diskusi online dengan menggelar nonton bareng (nobar) dari sekolah masing-masing.

Sejumlah sekolah menengah di Kota Pariaman yang menggelar kegiatan nobar, di antaranya, SMAN 1, SMAN 3, SMAN 4, SMAN 5 Pariaman, SMA INS Kayutanam, SMAN 1 Patamuan, SMAN 1 Sungai Limau, SMAN 1 Koto Timur, SMAN 1 Sungai Geringging, SMAN 1 Enam Lingkung, SMAS Manunggal Bhakti, SMAN 1 Batang Gasan, SMAN 1 Lubuk Alung, SMAN 1 Padang Sago, SMAN 2 Koto Sungai Sarik, SMAN 2 Batang Anai, SMAN 1 Nan Sabaris.

Dari perspektif digital safety, CEO PT Elok Prima Asia Erlan Primansyah menyatakan, pemahaman terkait keamanan digital harus ditanamkan kepada anak sejak dini. Pemahaman keamanan digital berguna untuk memastikan layanan digital berlangsung aman, utamanya terkait dengan data yang dimiliki.

”Kompetensi keamanan itu meliputi perangkat digital, identitas, penipuan, rekam jejak, serta memahami keamanan digital bagi anak,” rinci Erlan Primansyah.

Sementara praktisi pendidikan Anggraini Hermana menambahkan, anak-anak perlu meningkatkan kemampuan kecakapan digital sejak dini. Hal itu, kelak akan sangat menunjang dalam kegiatan pembelajaran maupun pedidikannya.

”Risiko anak yang belum terliterasi, ia akan kesulitan mengikuti perkembangan teknologi atau ketinggalan, menjadi kurang praktis, terkena dampak cyberbullying, kesulitan memverifikasi informasi, keterbatasan akses ke sumber belajar, dampak isolasi sosial, kesulitan dalam tugas sekolah, dan pelecehan online,” rinci Anggraini Hermana.

Untuk diketahui, webinar seperti dihelat di Kota Pariaman ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) yang dilaksanakan sejak 2017. Program #literasidigitalkominfo tersebut tahun ini mulai bergulir pada Februari 2024. Berkolaborasi dengan Siber Kreasi dan 142 mitra jejaring seperti akademisi, perusahaan teknologi, serta organisasi masyarakat sipil, program ini membidik segmen pendidikan dan segmen kelompok masyarakat sebagai peserta.

Meningkatkan kecakapan warga masyarakat menuju Indonesia yang #MakinCakapDigital menjadi penting, karena – menurut hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) – pengguna internet di Indonesia pada 2024 telah mencapai 221,5 juta jiwa dari total populasi 278,7 jiwa penduduk Indonesia.

Mengutip survei yang dirilis APJII, tingkat penetrasi internet Indonesia pada 2024 menyentuh angka 79,5 persen. Dibandingkan periode sebelumnya, ada peningkatan 1,4 persen. Terhitung sejak 2018, penetrasi internet Indonesia mencapai 64,8 persen. Kemudian naik secara berurutan menjadi 73,7 persen pada 2020, 77,01 persen pada 2022, dan 78,19 persen pada 2023.

Informasi lebih lanjut terkait literasi digital dan info kegiatan dapat diakses melalui website info.literasidigital.id, media sosial Instagram @literasidigitalkominfo, Facebook Page, dan Kanal YouTube Literasi Digital Kominfo.

KEYWORD :

Kemenkominfo Literasidigitalkominfo Digital




JURNAS VIDEO :

PILIHAN REDAKSI :