Rabu, 06/07/2022 09:07 WIB

YKPI Ingin Banyak Daerah Replikasi Telementoring ECHO

YKPI Ingin Banyak Daerah Replikasi Telementoring ECHO

Ketua YKPI, Linda Agum Gumelar (Foto: Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI), Linda Agum Gumelar berharap proyek percontohan (pilot project) telementoring ECHO (Extension of Community Heathcare Outcomes), dapat direplikasi di berbagai daerah di Indonesia.

Saat ini, proyek percontohan yang salah satu tujuannya meningkatkan kesadaran masyarakat melakukan deteksi dini kanker payudara itu, baru menyasar Kabupaten Tangerang, melalui kerja sama YKPI dengan Komunitas Peduli Kanker Payudara (KPKP) Kabupaten Tangerang.

"Proyek telementoring ini baru pertama kali dilakukan oleh lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang kanker, yaitu oleh YKPI sebagai perluasan proyek ECHO Rumah Sakit Kanker Dharmais. Kami membutuhkan dukungan dari semua pihak, sehingga program ini dapat berjalan baik," kata Linda dalam kegiatan `Virtual Pre-Kickoff Project BSE, CBE and EBC Referral Ecosystem ECHO` pada Rabu (25/5).

"Kami juga berharap, model pelaksanaan melalui sistem daring ini bisa direplikasi di daerah lain dengan rekomendasi dari Kementerian Kesehatan. Kami yakin hal ini sangat efektif dalam terwujudnya deteksi dini kanker payudara di Indonesia," lanjut Linda.

Linda menambahkan, peserta proyek percontohan ECHO di Kabupaten Tangerang terdiri dari tenaga kesehatan, dan kader kesehatan, dan masyarakat perempuan. Mereka dilatih melalui telementoring dan pelatihan terstruktur, guna meningkatkan kemampuan deteksi dini kanker payudara.

"Hari ini (25/5) kami melakukan pre Kick-Off Project ECHO untuk kanker payudara stadium dini di Kabupaten Tangerang. Kami bersyukur kegiatan ini sejalan dengan Program Kementerian Kesehatan yang diluncurkan pada 18 Mei lalu, yaitu Gerakan Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular," jelas Linda.

Ketua Tim Proyek ECHO YKPI, Ning Anhar mengungkapkan proyek percontohan ini dimulai dari persiapan pada Februari hingga Mei 2022. Dilanjutkan dengan pelatihan sebanyak dua minggu sekali selama Juni-November 2022 secara daring. Adapun pelaksanaan pengawasan, evaluasi, dan pelaporan dilakuan pada Desember 2022-Februari 2023.

"Kegiatan ini dilakukan di Puskesmas Kelapa Dua dan Puskesmas Curug, Kabupaten Tangerang. Peserta pelatihan terdiri dari tenaga kesehatan dan non-tenaga kesehatan yang berjumlah 107, yaitu Puskesmas Kelapa Dua 51 peserta, Puskesmas Curug 52 peserta, dan RSU Tangerang empat peserta," papar Ning.

Target jangka pendek dari proyek ECHO ialah, perempuan dapat melakukan praktik Periksa Payudara Sendiri (Sadari) secara rutin. Jika ditemukan hal yang abnormal, mereka langsung pergi ke dokter untuk dilakukan Periksa Payudara Secara Klini (Sadanis) dan tindakan media selanjutnya.

Kesadaran deteksi dini dan pemeriksaan ini, lanjut Ning, diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penurunan kasus kanker payudara di Kabupaten Tangerang.

"Sedangkan pencapaian jangka panjang (outcome), model ECHO ini juga dapat mempercepat penyebaran program kesadaran dan edukasi tentang deteksi dini kanker payudara, praktek Sadari dan Sadanis tertutama di daerah-daerah lain, sejalan dengan rencana pembentukan jaringan pelayanan kanker nasional oleh Pusat Kanker Nasional Dharmais dan Kemenkes," kata Ning.

Aldrin Neilwan dari P2PTM Kementerian Kesehatan menyampaikan, kanker payudara dan kanker rahim menduduki dua posisi teratas kasus kanker di Indonesia. Penyebabnya terdiri dari berbagai faktor. Pertama, skrining kanker. Menurut data pemerintah per 31 Maret 2022, angka skrining kanker di Indonesia masih sekitar 3,9 persen. Padahal, target nasional sebesar 80 persen.

"Hingga 23 Mei 2022, sudah mencapai 10 persen. Mudah-mudahan semangat (skrining) itu meningkat kembali," kata Aldrin.

Kedua, dari 10 ribuan puskesmas yang tersebar di Indonesia, baru 69 persen di antaranya yang mampu memberikan pelayanan deteksi dini kanker. Ketiga, pelayanan paliatif kanker hanya satu persen.

"Keempat, waktu tunggu untuk terapi definitif memakan waktu 9-15 bulan. Kelima, 70 persen pasien kanker datang pada stadium lanjut," ungkap Aldrin.

Sementara itu, Ketua Komunitas KPKP Kabupaten Tangerang, Tri Hesti Yulianti Zaki Iskandar menyampaikan, per 2019 lalu, angka kejadian kanker payudara di Kabupaten Tangerang berjumlah 4.289 kasus. 60-70 persen di antaranya merupakan pasien dengan kondisi stadium lanjut.

Kendala lainnya yang juga dihadapi Kabupaten Tangerang, sambung Yulianti, ialah terbatasnya SDM kesehatan, baik dari segi personil maupun tingkat pengetahuan. Karena itu, dia bersyukur proyek percontohan telementoring ECHO dapat menjadi momentum meningkatkan kesadaran deteksi dini kanker payudara.

"Kami bersyukur, YKPI menangkap keterbatasan kami dengan mengadakan pelatihan bagi tenaga kesehatan dan kader masyarakat umum di Kabupaten Tangerang," tutup Yulianti.

TAGS : Telementoring ECHO YKPI Kanker Payudara Linda Agum Gumelar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :