Selasa, 05/07/2022 13:17 WIB

Didampingi Kementan, Ombudsman Monitoring Kostraling di Sragen

Petani sudah bisa menjalankan bisnis penyediaan beras dalam jumlah besar dan bahkan ke depannya termotivasi meningkatkan kapasitas usaha penggilinganya.

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika monitoring tersebut yang didampingi Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi, Kepala Bulog Surakarta, Kepala Dinas Pertanian Jawa Tengah, Sabtu (16/4).

SRAGEN, Jurnas.com - Kementerian Pertanian (Kementan) mendampingi Ombudsman RI melakukan monitoring kegiatan Komando Strategi Penggilingan (Kostraling) di Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, Sabtu (16/4). Tujuannya, untuk memastikan jalannya usaha penggilingan yang tergabung dalam Kostraling dan sekaligus memastikan ketersediaan stok beras di Ramadan.

Anggota Ombudsman RI, Yeka Hendra Fatika menilai dengan adanya bantuan Kementan, petani sudah bisa menjalankan bisnis penyediaan beras dalam jumlah besar dan bahkan ke depannya termotivasi meningkatkan kapasitas usaha penggilinganya.

"Kalau dulu bantuan itu besi tua. Pengadaan barang dan jasa sudah sangat baik, kualitas RMU dan pengering bagus. Termasuk juga pemilihan lokasi dan penerima bantuan sekaligus ada perbaikan dalam proses pembinaannya," kata Yeka.

Adapun penggilingan padi atau Rice Milling Unit (RMU) yang dikunjungi yakni RMU Gapoktan Ngudi Makmur di Desa Purworejo, Kecamatan Gemolong, RMU Kelompok Tani Ngudi Rahayu 2 Desa Krikilan, Kecamatan Masaran dan RMU Kelompok Tani Sri Makmur Desa Plosokerep, Kecamatan Karangmalang.

Yeka menjelaskan, bantuan RMU dan pengering yang dijalankan Kementan berdampak nyata pada upaya perlindungan petani karena kualitas gabah tidak merosot dan harganya pun terlindungi terutama saat musim panen raya.

Hadirnya bantuan ini pun, kata Yeka membantu Bulog untuk menyerap gabah petani.

"Saya sangat senang melihat RMU dan pengering bantuan di Sragen ini, mudah-mudahan di daerah lain juga seperti ini. Dan saya apresiasi beras kita surplus, tidak ada impor. Kalau produksi beras sekarang kita memang akui, kita semua sepakat. Tidak ada perbedaan data," ujarnya.

Sementara itu, Dirjen Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan kondisi perbesaran Indonesia sejak 2019 hingga saat ini tidak ada impor beras umum dan komitmen Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo di tahun 2022 ini pun swasembada beras.

Berdasarkan data BPS, potensi produksi padi pada Subround Januari–April 2022 diperkirakan mencapai 25,4 juta ton gabah kering giling (GKG) setara 14,63 juta ton beras.

"Setiap tahun dalam lima tahun terakhir, terjadi surplus beras sebesar 2 juta ton dan stok totalnya mencapai 7 sampai 9 juta ton yang tersebar di penggilingan, masyarakat, Bulog, pedagang. Artinya stok beras kita kuat bahkan di masa sulit," ucapnya.

Menurut Suwandi, ketersediaan beras di Jawa Tengah sangat aman karena merupakan produsen beras kedua nasional dan Kabupaten Sragen sebagai penghasil beras urutan ke 9 nasional. Selain itu, penerapan sistem tanam Indeks Pertanaman (IP)400 atau panen dan tanam empat kali setahun di Jawa Tengah mencapai 53 ribu hektar dan di Kabupaten Sragen sebesar 10 ribu hektar.

"Untuk menguatkan cadangan beras ke depannya, arahan Bapak Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo seluruh penggilingan itu harus naik kelas. Minggu lalu monitoring Kostraling di Indramayu dan hari ini di Sragen. Kostraling harus bisa mengembangkan usahanya dengan mandiri, tidak lagi berharap bantuan. Jadi, usaha penggilinga harus beranak," tegasnya.

Melansir data BPS, potensi luas panen padi se-Provinsi Jateng bulan April 2022 sebesar 121.758 ha dengan estimasi produksi 680.289 ton GKG dan Kabupaten Sragen seluas 143 ha dengan estimasi produksi 925 ton GKG. Harga rata rata gabah di Kabupaten Sragen yakni Rp 4.300/kg GKP dan Rp 5.300/kg GKG di musim tanam pertama.

Sementara itu, Kepala Bulog Surakarta, Sri Muniati mengatakan ketersediaan beras di wilayah Surakarta saat ini aman karena Bulog memiliki sentra penggilingan padi modern, sehingga serapan gabah dan beras tinggi serta mengantisipasi anjloknya harga.

Di tahun ini, target total serap gabah sebanyak 55,5 ribu ton setara beras terdiri dari pengadaan pemerintah (PSO) dan komersil.

"Untuk mencapai target ini, Bulog Surakarta memiliki 9 gudang dengan kapasitas 90 ribu ton beras di antaranya 2 gudan di Sragen. Khusus di Sragen, sejak Maret sudah berjalan kegiatan serap gabah dan mitra pun sudah mengerti untuk kadar airnya 14 persen," ujarnya.

"Untuk harga beras masih mengacu Permendag yaitu Rp 8.300 perkilogram dan gabah kering giling Rp 5.300. Pada saat ini kami menyerap beras dan gabah," pinta Sri.

TAGS : Ombudsman Kostraling Beras Suwandi Kementerian Pertanian




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :