Sabtu, 02/07/2022 00:07 WIB

Pakai Deodoran Bikin Kanker Payudara, Fakta atau Mitos?

Ada banyak mitos yang masih beredar di kalangan masyarakat seputar kanker payudara. Salah satu di antaranya ialah pemakaian deodoran yang dianggap memicu kanker. Benarkah?

Webinar skrining dan deteksi dini kanker payudara YKPI dan BAIS TNI (Foto: Muti/Jurnas.com)

Jakarta, Jurnas.com - Ada banyak mitos yang masih beredar di kalangan masyarakat seputar kanker payudara. Salah satu di antaranya ialah pemakaian deodoran yang dianggap memicu kanker. Benarkah?

Hal ini menjadi salah satu pertanyaan peserta dalam kegiatan `Webinar Skrining dan Deteksi Dini Kanker Payudara` yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bekerja sama dengan Ikatan Kesejahteraan Keluarga TNI (IKKT) Pragati Wira Anggini Cabang BS, BAIS TNI pada Selasa (15/3) yang digelar secara hybrid.

Kepala Instalasi Deteksi Dini Rumah Sakit Kanker Dharmais, dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk mengatakan, anggapan pemakaian deodoran sebagai memicu kanker merupakan mitos belaka.

"Pemakaian deodoran menyebabkan kanker itu cuma mitos," tegas dr. Bob dalam kesempatan tersebut.

Adapun adanya pembengkakan di ketiak yang umumnya terjadi, lanjut dr. Bob, merupakan respons sistem pertahanan alami tubuh terhadap ancaman virus. Dan kondisi ini tidak ada kaitannya dengan kanker.

"Pemakaian deodoran biasanya kadang mengakibatkan iritasi pada ketiak, bisa juga mengakibatkan pembengkakan kelenjar getah bening, tapi itu infeksi bukan tumor atau kanker," terang dr. Bob.

"Pembesaran kelenjar getah bening obatnya cuma minum antibiotik," imbuh dr. Bob.

Kendati demikian, pembesaran di kelenjar getah bening juga bisa terjadi ketika didiagnosis terkena kanker payudara. Jika yang terjadi seperti ini, artinya kanker payudara sudah menyebar dari payudara ke area ketiak.

Oleh karena itu, dalam rangka mengantisipasi kanker payudara tersebut, dr. Bob mengajurkan para perempuan Indonesia supaya rutin melakukan Periksa Payudara Sendiri (Sadari), yang dilakukan 7-10 hari sejak haid pertama.

Dengan rutin melakukan Sadari, maka kanker payudara bisa ditemukan dalam stadium sedini mungkin. Dengan demikian, angka kesembuhan semakin tinggi, dan biaya yang dikeluarkan relatif lebih rendah.

"Kalau stadium nol, operasinya hanya sebagian payudara. Stadium satu lebih besar, tapi payudara tidak dibuang. Stadium satu selain operasi juga radiasi. Masuk stadium dua, operasi, radiasi, dan sudah masuk kemoterapi dan makan obat," ujar dr. Bob.

"Stadium tiga komplit tapi masih bisa ditolong. Stadium empat sudah menyebar, sudah keluar dari area payudara dan ketiak. Kalau ke paru-paru, dia bisa batuk dan sesak nafas, mau obat apapun tidak bisa. Tulang belakang, apa yang terjadi, tulangnya bisa patah, bisa lumpuh. Jangan sampai masuk stadium empat," sambung dr. Bob.

Sementara itu, Ketua YKPI Linda Agum Gumelar menekankan pentingnya skrining deteksi dini yang dilakukan paling tidak satu bulan sekali. Dan bila ditemukan benjolan, dianjurkan supaya segera memeriksakan diri ke dokter.

"Yang paling penting, Sadari, yang dilakukan setiap sebulan sekali. Caranya harus tepat, harus rutin dan disiplin. Bila ada benjolan, silakan langsung periksa ke fasilitas kesehatan terdekat," kata Linda.

Senada dengan Linda, Ketua BAIS TNI, Letjen Joni Supriyanto mewanti-wanti agar para perempuan keluarga besar BAIS TNI, memberikan perhatian besar pada kesehatan terutama kesehatan payudara.

Sebab, kanker seringkali luput dari perhatian, bisa berdampak parah dengan menyebar ke kelenjar getah bening, hingga organ-organ penting lainnya.

"Kita bersyukur bisa mendapatkan pelajaran Sadari untuk mengetahui apakah bibit itu ada di tubuh kita, sehingga dokter dapat mengambil tindakan untuk mencegah. Kadang kita terlambat mendeteksi itu," tutup Letjen Joni Supriyanto.

TAGS : Kanker Payudara Deodoran Mitos YKPI




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :