Rabu, 19/01/2022 06:25 WIB

Pria Ini Rela Tinggalkan Dunia Fotografi Demi Ternak Kelinci

Asep Rabbit mengatakan, mulai menggeluti peternakan kelinci berawal dari iseng-iseng pada tahun 1990. Kemudian pada tahun 1995, dia meninglkan pekerjannya sebagai tukan motret dan fokus memelihara kelinci.

Asep Sutisna (60) atau yang lebih akrab disapa Asep Rabbit disela menerima kunjungan Ditjen PKH Kementan, Selasa (30/11).

LEMBANG, Jurnas.com - Asep Sutisna (60) atau yang lebih akrab disapa Asep Rabbit rela meninggalkan pekerjaannya sebagai tukang motret alias fotografi demi fokus memelihara kelinci.

Asep Rabbit mengatakan, mulai menggeluti peternakan kelinci berawal dari iseng-iseng pada tahun 1990. Kemudian pada tahun 1995, dia meninglkan pekerjannya sebagai tukan motret dan fokus memelihara kelinci.

"Awalnya iseng-iseng dari tahun 1992, akhirnya tahun 1995 kerjaan saya tinggal. Jadi fokus menggeluti ternak kelinci hias, sebelumnya saya tukang potret atau potografer," kata dia disela menerima kunjungan Ditjen PKH Kementan, Selasa (30/11).

Menurut Asep, industri untuk kelinci pedaging sangat menjanjikan baik dalam negeri maupun di luar negeri. Sayangnya, kata dia, belum ada standar daging untuk komoditas tersebut, di Indonesia.

"Permintaan daging kelinci untuk Jalan Raya Lembag saja 5-6 ton kita nggak ada barang. Peternaknya nggak ada. Sementara ini kita fokus dihias dulu," kata dia.

Itupun untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri untuk kelinci hias, Asep mengatakan harus membuat kelompok usaha ternak kelinci dengan jumlah mecapai 200 kelompok.

Sayangnya, kata dia, selama pandemi COVID-19 produksinya merosot. Dari tadinya mampu mengirim 800 per hari ke Jabodetabek, kini baru mampu mengirim dengan jumlah yang sama dalam kurung waktu seminggu.

"Sebelum COVID-19 sehari 800 ekor anak, sekarang turun. Untuk penjualan sekarang seminggu sekali pengiriman ke Jabodetabek, dulu tiap hari, itu baru tipe lucu-lucuan," unggap dia.

Bukan hanya itu, omsetnya juga menurunan drastis. Dari yang sebelumnya bisa mencapai empat kali lipat dari biaya produksi, kini untuk untuk mencapai satu setengah kali lipat saja sudah kewalahan.

Terkait dengan harga kelinci yang dia pasarkan yaitu beragam, dari kisaran Rp 50 ribu sampai ada yang harganya mencapai Rp 7,5 juta per ekornya. Tergantung jenis dan kualitas kelinci. "Harga kisaran dari 50.000 hingga 7,5 juta per ekor," tukasnya.

Selain menjajakan kelinci dalam negeri, Asep juga memasarkan produknya ke negara tetangga di antaranya Malaysia dan Filipina, Singapore dan Thailand. "Kalau Malaysia rutin. Malah Malaysia kita setop dulu. Permintaan tinggi, kita nggak ada barang," ujarnya.

 

TAGS : Asep Sutisna Peternak Kelinci Kementerian Pertanian




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :