Rabu, 18/05/2022 23:28 WIB

Presiden : Giring Investor Untuk Membuat Barang Jadi

Presiden menegaskan, Indonesia akan menyetop seluruh ekspor bahan mentah, secara bertahap, seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah.

Presiden Joko Widodo (Jokowi). (Foto Ist)

Jakarta, Jurnas.com - Saat ini Indonesia membutuhkan investasi yang memiliki nilai tambah tinggi. Oleh karena itu, Indonesia tidak bisa mengekspor bahan-bahan mentah, tetapi diolah menjadi barang jadi atau setengah jadi.

Penegasan itu, disampaikan Presiden Joko Widodo, dalam Rapat Koordinasi Nasional dan Anugerah Layanan Investasi 2021, Rabu (24/11).

“Giring investor itu untuk membuat barang mentah menjadi barang jadi. Kalau nggak mau barang jadi, ya sudah setengah jadi minimal. Ini yang bolak-balik saya sampaikan, transformasi ekonomi yang kita inginkan di situ,” ujar Presiden.

Presiden menegaskan, Indonesia akan menyetop seluruh ekspor bahan mentah, secara bertahap, seperti nikel, bauksit, tembaga, dan timah. Kebijakan tersebut dilakukan agar Indonesia mendapatkan nilai tambah yang semakin besar.

“Nikel, empat tahun yang lalu ekspor kita mentah, (senilai) 1,1 miliar dolar AS, kira-kira. Tahun ini, perkiraan saya bisa mencapai 20 miliar dolar AS. Dari kira-kira Rp15 triliun melompat menjadi Rp280 triliun. Itu yang namanya nilai tambah di situ,” kata Presiden.

Dengan adanya nilai tambah tersebut, Presiden menyebut negara akan mendapatkan berbagai macam keuntungan.

“Tentu saja negara akan mendapatkan royalti, PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), bea keluar, mendapatkan pajak-pajaknya, mendapatkan PPN (Pajak Pertambahan Nilai),” ujar Presiden.

Di sisi lain, daerah juga akan mendapatkan efek peredaran uang yang sangat besar, seperti di daerah Maluku Utara dan Kalimantan Tengah.

“Cek berapa sekarang pertumbuhan ekonomi di sana. Pasti akan berimbas kepada pertumbuhan ekonomi, pendapatan masyarakat, daya beli masyarakat. Semuanya akan terimbas,” kata Presiden.

Presiden menegaskan bahwa transisi dari ekonomi yang berbasis bahan mentah menjadi setengah jadi dan barang jadi harus diintegrasikan oleh pemerintah. Misalnya saja, nikel dan besi baja dapat diintegrasikan menjadi lithium baterai, kemudian diintegrasikan kembali menjadi mobil listrik.

“Nilai tambahnya bisa berlipat-lipat lagi. Itu yang belum dilakukan dan itu akan kejadian insya Allah nanti di tiga atau empat tahun lagi,” ujar Presiden.

Harapannya, dengan memiliki industri-industri yang terintegrasi, akan terjadi transfer of knowledge dan transfer of technology sehingga Indonesia mampu naik dan berkembang ke tingkat yang lebih tinggi.

TAGS : Presiden Jokowi Barang Mentah Barang Jadi Investasi




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :