Jum'at, 28/01/2022 23:00 WIB

Dorong Konsumsi Pangan Lokal, Kepala BPPSDMP: Dimulai dari Penyuluh

Tuhan telah menganugerahi Tanah Air ini dengan pangan lokal, khusus untuk daerah tropis.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BPPSDMP) Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi saat memberikan sambutan dalam acara pembukaan Bimtek Literasi dan Pengelolaan Informasi Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian

JAKARTA, Jurnas.com - Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Kementerian Pertanian (Kementan), Dedi Nursyamsi mengajak para penyuluh di seluruh Indonesia jadi pelopor untuk memulai konsumsi pangan lokal.

"Yok, kita konsumsi pangan lokal untuk seluruh penyuluh Indonesia. Dimulai dari kita dan dimulai saat ini juga," kata Dedi pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Penyuluhan tentang Diversifikasi Pangan Lokal Tepung Mocaf di Banjar Negara, Selasa (23/11).

Dedi mengatakan, Indonesia memiliki sumber karbohidrat selain beras, yang sangat melimpah. Tuhan, kata dia, telah menganugerahi Tanah Air ini dengan pangan lokal, khusus untuk daerah tropis.

"Sesungguhnya Tuhan yang Maha Kuasa memberikan makan kepada kita, kepada Indonesia itu adalah singkong, sagu, umbi-umbian, pisang, bukan gandum. Gandum itu ndak bisa tumbuh di daerah tropis. Tumbuh tapi tidak akan berproduksi dengan baik karena kepanasan," ujarnya.

Dedi mengatakan, impor pangan dari tahun ke tahun meningkat luar biasa, terutama gandum. Setiap tahunnya impor komoditas tersebut, tidak kurang dari Rp 60-70 triliun.

"Impor gandum semakin hari semakin melesat dan ini tentu saja tidak lepas dari kebiasaan kita mengkonsumsi gandum. Padahal, (mohon maaf) kita semua sudah dikaruniai pangan yang luar biasa," kata Dedi.

"Di Papua, Maluku, Sulawesi, Kalimatan, dan Sumatera tanaman sagu tumbuh luar biasa. Tanaman sagu pun tidak pernah kita tanam bisa panen setiap saat, bisa diolah setiap saat, dan bisa kita konsumsi setiap saat pula," sambungnya.

Tanaman singkong, kata Dedi, juga tumbuh dengan baik di daerah tropis. Luar biasanya, tanaman singkong ini bisa tumbuh di tanah, yang tidak subur sekalipun.

"Singkong itu tanaman tropis. Di Jepang, China dan Amerika Serikat (AS) nggak bisa tanam singkong. Kenapa, singkong umurnya 11 bulan sementara di AS musim panasnya hanya ada 3 bulan dalam setahun," kata Dedi.

Koordinator Petani Milenial Jawa Tengah, Wisnu Sapto Nugroho mengatakan, luas panen singkong di Banjarnegara mencapai 3.571 hektare, sementara produksinya per tahun mencapai 93.319 ton dengan produktivitas rata-rata per hektare 26 ton.

Jawa Tengah sendiri menduduki urutan ketiga penghasil singkong terbesar di Indonesia selain Lampung dan Jawa Timur. Dengan kata lain, ketersediaan bahan baku singkong sangat melimpah ruah dari Sabang sampai Merauke.

Walaupun bahan baku singkong melimpah, Wisnu menyebutkan, ada beberapa hal yang membuat singkong sulit menjadi produk unggulan yang bisa dimanfaatkan sebagai pengganti gandum.

"Ini sebenarnya permasalah klasik yang dihadapi tidak hanya petani singkong sebenarnya. Kita sudah budidaya nanti di hilirnya atau endingnya mereka tidak bisa jual," ujarnya.

Beberapa hal yang membuat komoditas tersebut, tidak bisa terjual, kata Wisnu, pertama, karena harganya sangat murah. Selain itu, masih banyak petani yang terlilit utang (bank), dan rantai distribusi yang masih panjang.

Harga singkong yang kurang memperhatikan kesejahteraan petani tersebut, kata Winus hanya bisa diselesaikan dengan konsep sociopreneur, dengan mengedepankan kesejahteraan petani.

"Makanya dengan adanya teknologi membuatan tepung mocaf (tepung singkong termodifikasi) ini harapannya bisa menyelesaikan pemasalahan yang dihadapi petani dari hulu hingga hilir," ujarnya.

Tepung mocaf merupakan produk turunan dari tepung ubi kayu yang merupakan prinsip modifikasi sel ubi kayu secara fermentasi dimanana mikroba dan ekstrak alami mendominasi selama frementasi tepung ubi kayu ini.

Tepung mocaf ini memiliki berapa keunggulan di antaranya, gluten free, tinggi serat, rendah indeks glikemik, rendah kalori, tinggi kalsium, kaya dengan kandungan mineral, karbohidrat, vitamin c, protein, dan pospor, dan 100 persen bebahan lokal.

"Secara teknis, cara pengelohan mocaf sangat sederhana, mirip dangan pengelolahan tepung ubi kayu biasa, namun disertai  dengan proses fermentasi," kata Winsu.

 

TAGS : Tepung Mocaf Diversifikasi Pangan Lokal Dedi Nursyamsi Singkong




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :