Sabtu, 23/10/2021 05:30 WIB

Hati-hati! Obesitas hingga Kontrasepsi Hormonal Picu Kanker Payudara

Ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk mengatakan, faktor-faktor risiko itu terbagi menjadi dua, yaitu faktor risiko yang bisa dimodifikasi, dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

Ilustrasi obesitas (Foto: Doknet)

Jakarta, Jurnas.com - Hingga detik ini, ilmuwan di seluruh dunia belum menemukan penyebab pasti kanker payudara. Kendati demikian, ada sejumlah faktor risiko yang patut diwaspadai.

Ahli bedah onkologi Rumah Sakit Kanker Dharmais Jakarta, dr. Bob Andinata, SpB(K)Onk mengatakan, faktor-faktor risiko itu terbagi menjadi dua, yaitu faktor risiko yang bisa dimodifikasi, dan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi.

"Yang tidak bisa dimodifikasi yaitu: perempuan, usia di atas 50 tahun, ada riwayat kanker dalam keluarga, menstruasi pada usia kurang dari 12 tahun, dan menopouse pada usia di atas 50 tahun," terang dr. Bob dalam kegiatan `Virtual Talkshow Skrining & Deteksi Dini: Sadari, Kita Pasti Bisa` yang digelar oleh Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) bekerja sama dengan Dharma Wanita Persatuan KBRI Budapest pada Kamis (14/10) secara daring.

Adapun untuk faktor risiko yang bisa dimodifikasi meliputi perempuan yang tidak menikah, menikah tapi tidak hamil, tidak memiliki anak, penggunaan kontrasepsi hormonal di atas 10 tahun, hingga obesitas.

"Penggunaan kontrasepsi hormonal di atas 10 tahun itu meningkatkan kadar hormon ekstrogen yang memicu kanker payudara. Begitu juga obesitas, itu juga meningkatkan estrogen," ujar dr. Bob.

Mengingat adanya faktor risiko ini, dr. Bob mengimbau masyarakat untuk rutin melakukan skrining dan deteksi dini kanker payudara.

Skrining dan deteksi dini, kedua istilah ini, menurut keterangan dr. Bob berbeda maknanya. Skrining dilakukan oleh seluruh orang yang sehat, untuk mengetahui apakah ada sesuatu yang abnormal pada payudara. Biasanya berupa Periksa Payudara Sendiri (Sadari), Periksa Payudara secara Klinis (Sadanis), USG, dan Mammografi.

"Jika ditemukan sesuatu yang abnormal, kita harus melakukan deteksi dini, juga bisa berupa kontrol ke dokter," jelas dr. Bob.

Kegiatan Virtual Talkshow Skrining & Deteksi Dini: Sadari, Kita Pasti Bisa` dibuka oleh Ketua YKPI Linda Agum Gumelar, dan dihadiri oleh Ketua DWP KBRI Budapest Dewi Dimas Wahab, serta diikuti oleh 580 peserta dari 59 negara dan empat benua.

TAGS : YKPI Kanker Payudara Oktober Bulan Peduli Bob Andinata Linda Agum Gumelar




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :