Minggu, 24/10/2021 04:54 WIB

Kementan: Kapulaga Tanaman yang Diam-diam Menghanyutkan

Belakangan ini banyak sekali pelaku usaha memakai kapulaga sebagai bahan baku industri.

Dua laki-laki sedang membersihkan kapulaga. (Foto: Ist)

 

Jakarta, Jurnas.com - Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura, Tommy Nugraha mengatakan, kapulaga memiliki prospek yang luar biasa terlebih pada kondisi pandemi seperti ini. Kapulaga banyak dimanfaatkan sebagai tanaman obat peningkat imun.

"Kapulaga menurut saya adalah tanaman yang diam-diam menghanyutkan. Jarang sekali terdengar pemberitaannya di televisi maupun informasi di lapangan. Namun, kapulaga ini prospeknya luar biasa. Apalagi saat pandemi ini kapulaga bermanfaat sebagai tanaman obat untuk meningkatkan imun," ujar Tommy dalam keterangannya diterim Jurnas.com, Sabtu (25/9).

Tommy menambahkan, ekspor kapulaga dalam kurun 2018-2020 mengalami peningkatan luar biasa. Hal ini menunjukkan bahwa komoditas ini memiliki prospek yang luar biasa baik untuk kebutuhan domestik maupun ekspor. Belakangan ini banyak sekali pelaku usaha memakai kapulaga sebagai bahan baku industri.

Beberapa negara tujuan ekspor antara lain Singapura, Malaysia, Taiwan dan Jepang. Pasar luar negeri masih terbuka lebar karena tidak banyak negara yang memproduksi kapulaga.

"Dengan demikian diharapkan kapulaga lebih banyak diminati masyarakat. Pemerintah, petani dan pelaku usaha bisa saling berdiskusi sekaligus memberikan ide dan gagasan agar pengembangannya lebih besar lagi," tambah Tommy.

Peneliti Ahli Madya di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Chevy Syukur mengatakan, dalam suatu kegiatan berbudidaya ada tiga tiga faktor yang harus diperhatikan, yakni benih, pelaksanaan teknis budidaya dan proses pascapanen.

Untuk budidaya kapulaga, Chevy mengatakan sangatlah dianjurkan untuk melakukan penyiapan lahan dengan cara yang dapat memperbaiki dan memelihara struktur tanah serta dapat menekan laju erosi.

"Tanaman kapulaga ini sangat tidak menginginkan genangan air di permukaan yang menyebabkan pembusukkan bunga-bunga yang akan tumbuh di permukaan sekitar tanaman," terang Chevy.

Chevy menambahkan, di sekitar tanaman kapulaga diperlukan adanya tanaman naungan seperti pisang, albasia, mahoni, manggis, karet dan lain-lain sebanyak 30 persen. Kemudian, salah satu syarat tumbuh tanaman kapulaga adalah lahan memiliki ketinggian 300-800 m dpl dengan suhu 20-30 derajat Celcius.

Panen buah kapulaga yang pertama dilakukan pada saat tanaman berumur tujuh bulan. Panen kapulaga dapat dilakukan secara rutin dan berkala sampai tanaman tidak produktif lagi, yaitu pada umur 5 hingga 6 tahun.

Direktur PT Kapolaga Berkah Pangandaran, Kunkun Herwanto menuturkan pengembangan kapulaga di Pulau Jawa, khususnya di Jawa Barat ini tidak terganggu dengan kondisi pandemi. Bahkan, harga kapulaga sempat tembus angka Rp 340.000 per kilogram.

"Alasan memilih tanaman kapulaga sebagai komoditas yang dikembangan karena memang biaya produksinya sangat rendah. Untuk modal awal bertanam untuk luasan 1 hektare dibutuhkan Rp 38 juta. Panen basah 10 ribu kg dikalikan harga Rp 10 ribu per kg menghasilkan Rp 100 juta sehingga apabila dikurangi modal maka perolehan laba senilai Rp 61 juta," ujarnya.

"Sementara untuk panen kering menghasilkan 2500 kg apabila dihargai Rp 90 ribu per kg bisa mencapai keuntungan kotor Rp 225 juta. Apabila dikurangi modal maka keuntungan normal bisa mencapai Rp 185 juta," sambungnya.

Selain bernilai ekonomi tinggi, tanaman ini tidak mengganggu tanaman lain karena kapulaga ini bukan tanaman monokultur sehingga sangat cocok dikembangkan sebagai tanaman tumpang sari.

"Selain itu, kapulaga juga tidak sekali panen. Panen kapulaga bisa beberapa kali sehingga keuntungannya jangka panjang,” pungkas Kunkun

TAGS : Tommy Nugraha Kapulaga Ditjen Hortikultura




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :