Sabtu, 29/01/2022 12:01 WIB

Dongkrak Produktivitas, CIPS Serangkan Penggunaan Subsidi Input Pertanian Dioptimalkan

Dalam situasi kelangkaan atau keterlambatan pupuk subsidi, petani kecil cenderung mengurangi penggunaan pupuk ketimbang membeli pupuk non-subsidi yang tersedia atau memilih mengolah kompos sendiri sebagai pengganti pupuk kimia.

Pupuk subsidi (Foto: CNBC)

Jakarta, Jurnas.com - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta mengatakan, salah satu langkah yang dapat diambil pemerintah untuk meningkatkan produktivitas adalah dengan mengoptimalkan penggunaan subsidi Input pertanian.

Aditya mengatakan, beberapa temuan dan pengalaman menunjukkan, dalam situasi kelangkaan atau keterlambatan pupuk subsidi, petani kecil cenderung mengurangi penggunaan pupuk ketimbang membeli pupuk non-subsidi yang tersedia atau memilih mengolah kompos sendiri sebagai pengganti pupuk kimia.

"Dengan kata lain, pertimbangan subsistensi masih lebih besar daripada pertimbangan peningkatan produktivitas. Jika ada dua produk pupuk di kios tani, yang satu bersubsidi dan yang satu tidak, petani kecil juga lebih memilih produk yang lebih murah walaupun mungkin dengan potensi hasil lebih kecil karena unsur hara yang kurang seimbang," jelas Aditya dalam rilisnya CIPS diterima Jurnas.com, Selasa (14/9).

Aditya menambahkan, hal ini juga menunjukkan adanya kegagalan pasar, di mana petani melihat unsur biaya lebih penting daripada manfaat pemupukan optimal. Hasil ekonomi menjadi kurang maksimal dan produksi pertanian kurang mampu mengimbangi permintaan.

"Intervensi diperlukan untuk mengoreksi kegagalan pasar, salah satunya melalui intervensi pemerintah dengan kebijakan input. Di sisi lain, subsidi input, terutama pupuk, tidak hanya tidak efektif tetapi justru memunculkan masalah-masalah lain," imbuhnya.

Menurutnya, penelitian CIPS menemukan bahwa disparitas harga antara pupuk subsidi dan nonsubsidi memunculkan pasar sekunder dimana penerima pupuk subsidi menjual kembali jatah pupuknya. Disparitas harga juga memunculkan perburuan rente di sepanjang rantai distribusi dalam kasus subsidi pupuk tidak langsung.

Murahnya pupuk bersubsidi juga dapat mendorong perverse incentive seperti kasus overdosis pupuk urea di beberapa daerah di Jawa meskipun .penggunaan urea berlebihan juga merupakan gejala kurangnya pengetahuan akan pengelolaan tanaman yang baik,.

Penelitian CIPS merekomendasikan perlunya desain ulang kebijakan input pertanian dengan mengedepankan solusi atas kegagalan pasar dalam mendorong penggunaan input secara optimal.

Optimalisasi subsidi input pertanian sendiri, dapat dicapai dengan beberapa cara. Subsidi pupuk misalnya, sebaiknya diubah menjadi pembayaran langsung kepada petani untuk memangkas middlemen dan memastikan bantuan tepat sasaran. Penerapan Kartu Tani sebenarnya sudah diarahkan untuk ini, namun perlu ditingkatkan untuk mengakomodasi poin-poin berikutnya.

Pembayaran langsung harus dibatasi hanya untuk pembelian input dan tidak terbatas pada pupuk dan merek tertentu saja hingga memungkinkan petani menggunakan saldo bantuan sesuai kebutuhannya.

“Petani yang memiliki fasilitas pengolahan pupuk organik, misalnya, mungkin memiliki kebutuhan pupuk yang lebih sedikit, sehingga lebih penting baginya untuk dapat membelanjakan saldo bantuan sesuai kebutuhannya,” ujar Aditya, dengan menambahkan bahwa berkurangnya disparitas harga setelah subsidi pupuk dialihkan akan mendorong masuknya produsen pupuk baru.

Bantuan juga harus tepat menyasar petani yang, tanpa adanya bantuan, tidak akan menggunakan input secara optimal, terutama karena alasan keterjangkauan. Harus ada pembedaan antara penggunaan input tidak optimal karena harga atau pengetahuan petani.

Untuk kelompok terakhir, termasuk yang menggunakan pupuk secara tidak efektif, peningkatan penyuluhan pertanian merupakan instrumen kebijakan yang lebih tepat dibanding bantuan.

Terakhir, harus ada exit strategy. Intervensi yang baik harus memiliki indikator-indikator, misalnya persentase pemakaian pupuk persentase penggunaan benih varietas unggul, rata-rata harga pupuk di pasaran, dan lain-lain, yang dapat menunjukkan apakah target kebijakan berhasil dicapai dan kapan intervensi tidak diperlukan lagi.

Salah satu sasaran pemerintah adalah menggenjot produktivitas petani dan input pertanian seperti pupuk, benih, irigasi, dan pestisida memainkan peran yang sangat penting di sini. Hanya saja, strategi penyediaan input ini harus memastikan ia diterima langsung oleh petani dan bahwa biaya yang dikeluarkan juga akan terbayar oleh meningkatnya produktivitas kelak.

 

TAGS : Pupu Subsidi Produktivitas Pertanian




JURNAS VIDEO :

TERPOPULER :